PEBEDAAN itu indah, kalimat itu sering kita dengar, karena hidup ini tidak akan berwarna kalau hanya diisi dengan satu warna saja. Bahkan dua warna saja seperti hitam dan putih tetap membuat hidup tak berwarna. Maka terciptalah pelangi menghiasi langit menjadikan dunia berwarna lebih indah. Perbedaan itu bukan untuk dibedakan, justru harus menyatukan agar tidak terjadi gesekan yang menyebabkan perpecahan. Indonesia terdiri atas beragam perbedaan mulai dari suku, agama. bahasa, budaya dan adat istiadatnya. Tetapi keberagamaan itu menyatukan dalam suatu negara besar bernama Indonesia.
Dalam sekolah juga terdapat perbedaan mulai dari rumpun mapel, guru sampai lingkungan belajar. Salah satu contoh nyata perbedaan itu adalah adanya penjurusan IPA dan IPS. Untuk sekolah besar dan fasilitas lengkap perbedaan makin besar dengan menambah jurusaan seperti jurusan bahasa,agama, seni dan olahraga. Hal itu hanya terjadi di sekolah menengah baik itu SMA, MA dan SMK. Perbedaan yang paling besar terdapat pada lingkungan SMK dengan bentuk sekolah kejuruan.
Kalau ditanya jurusan apa yang paling favorit jawabannya adalah jurusaan IPS, kenapa demikian karena peminatnya lebih banyak. Ketika sekolah pertama kali berdiri maka jurusan IPS lah yang dibuka walaupun mungkin ada kekecewaan bagi peminat jurusan IPA. Setelah berkembangnya sekolah tersebut dengan fasilitas yang lengkap dengan adanya fisilitas penunjang berupa laboratorium baru lah membuka jurusan baru yaitu jurusan IPA. Kalaupun ada jurusan IPA dan IPS di suatu sekolah tetap perbandingan IPS lebih banyak biasanya perbandingan 2:1.
Tahun 90 an, penjurusan IPA dan IPS dimulai di kelas 3 sekarang XII. Jadi selama 2 tahun cukup bagi siswa untuk memilih jurusan yang mereka minati. Sejak diberlakukan kurikulum 2006 penjurusan IPA dan IPS dimulai di kelas XI sehingga di kelas X mereka masih belajar untuk semua mapel. Kurikulum semakin berkembang dan mengalami perubahan yaitu adanya kurikulum 2013 dimana penjurusan dimulai dari kelas X saat siswa tamat SMP atau sederajat mereka sudah punya gambaran jurusan apa yang akan dipilihnya.
Lalu manakah yang lebih baik? IPA atau IPS?
Tak ada jurusan yang lebih baik. Jurusan IPA dan jurusan IPS sama dan pastinya memiliki landasan berpikir masing-masing. Soal alam dan sosial hanyalah sebagai label pandangan untuk kita melihat suatu fenomena dari dua sudut pandang yang berbeda. Dan kalau kita kritis dalam pembagian kedua ilmu tersebut hanya untuk memudahkan kita dalam mempelajari suatu cabang ilmu. Kenali keduanya sehingga taka da lagi perbedebatan tentang kedua jurusan.
Anak jurusan IPA dan IPS memiliki kemampuan yang setara. Jurusan IPA identik dengan hitungan dan ilmu-ilmu alam. Seperti matematika di IPA lebih mendalam bahasannya dibanding matematika di IPS. Padahal skill berhitung dipelajari dikedua jurusan. Selain matematika hitungan terdapat pada mapel fisika dan kimia yang membuat alergi anak IPS sehingga satu alasan logis untuk tak masuk jurusan IPA. Tetapi jangan lupa dijurusan IPS juga ada hitungan dimapel ekonomi, mereka belajar akuntansi yang membutuhkan keterampilan berhitung yang juga komplek tak sekedar teori. Bagaimana membuat neraca rugi laba pada kegiatan ekonomi.
Jurusan IPS identik dengan mapel hapalan sehingga ada anggapan kelas turun temurun dengan julukan kelas hafalan. Karena banyak pelajaran yang harus dibaca seperti ekonomi, sosiologi dan geografi. Lantas, apakah jurusan IPA tidak ada hapalan? Jangan kita lupakan dijurusan IPA terdapat mapel biologi yang juga harus menghapal. Urutan proses pencernaan, pernafasan, bahkan taksonomi dunia hewan dan tumbuhan lengkap dengan nama latinnya anak IPA wajib menghapalnya.
Tak jarang kita temui anak yang memilih jurusan IPA bukan kehendaknya sendiri, walaupun dalam penjurusan sudah melakukan serangkaian tes mapel matematika, kimia, fisika dan biologi. Anak dinyatakan lulus ke IPA lebih memilih IPS padahal anaknya sangat cerdas dengan alasan cita-cita dan tak suka fisika atau kimia. Bahkan tak layak IPA dengan ngotot masuk IPA karena kepingin jadi perawat. Yang tragisnya kebanyakan pemilihan jurusan kemauan orang tua dan ikutan temannya.
“Kamu kenapa pilih IPA nak?’ tanya wali kelas.
“Ibu saya yang suruh bu, katanya kalau masuk IPA mudah dapat kerja” tutur siswa.
Anak IPA identik selalu berpakaian rapi dan baju dimasukan ke dalam. Melekat kata culun, lugu karena mereka kutu buku tiada hari tanpa membaca dan belajar tujuan saat jam kosong ke perpustakaan, Ke sekolah membawa tas dengan buku yang lengkap dan membawa bekal ke sekolah. Tak banyak memiliki teman karena lebih sering menyendiri, menyukai teknologi, hitungan dan sains. Bagi mereka pelajaran tersebut menyenangkan karena penuh dengan tantangan dan percobaan. Umumnya bercita-cita ingin jadi perawat, bidan, ilmuan dan dokter. Bahkan di sekolah selalu mewakili lomba cerdas cermat dan akademik dibidang matematika, fisika, kimia dan biologi.
Alasan mendasar siswa lebih memilih IPS karena pelajaran dijurusan IPA susah, lebih banyak hitungan seperti adanya fisika, kimia. Untuk matematika tidak bisa dihindari karena semua jurusan ada matematikanya.
“Kenapa tidak pilih IPA nak, padahal kamu pintar?” tanyaku.
“Tak suka fisika bu, selain susah dan gurunya kiler.” Jawab siswa.
“Tak suka kimia bu, reaksinya ribet. Pusing mikirkannya.” Ujar siswa lainnya.
Dalam berpakaian anak IPS tak pernah rapi dengan lengan digulung dan baju tak pernah dimasukan. Kalaupun dimasukan ketika ada guru lewat atau saat belajar di kelas. Belajar dikala ada guru, saat jam kosong mereka bergegas ke kantin. Bahkan tak jarang bolos secara berjamaah, kalau sampai tak mengikuti bakalan dihajar sama teman-temannya. Pakaian dengan dua lapis bagian dalam kaos di luarnya seragam sekolah dengan dua kancing dibuka itu ciri khasnya bahkan ada kaosnya lengan panjang ke luar dari seragam sekolahnya.
“Kenapa bajunya kaosnya ke luar kan tak rapi?” tegur guru.
“Kerenlah bu, kan model terbaru,” jawab siswa bangga.
Bersyukur kalau guru tidak masuk, dititip tugas tak dikerjakan kalaupun dikerjakan menyalin perkejaan teman. Tas tak pernah ada karena satu buku untuk semua mapel. Bahkan tak jarang buku digulung dimasukan ke dalam saku celana belakang. Mereka lebih suka menghapal walau cepat hapal dan juga cepat lupanya karena mereka tak suka berpikir keras untuk menghitung yang menyebabkan kening berkerut. Anak IPS suka tantangan dalam hal olahraga dan seni. Tak jarang torehan prestasi di sekolah untuk olahraga dan seni banyak disumbang oleh anak IPS. Umumnya anak IPS bercita-cita jadi pengacara, akuntan, atlet dan artis. Karena mereka suka menyelesaikan masalah melalui sudut pandang sosial kemasyarakatan dengan bekal ilmu yang dipelajari. Maka tak heran anak IPS suka berdebat, jago cari alasan kalau ketahuan melakukan kesalahan.
Tetapi, tetap saja memilih jurusan menjadi hal yang harus dipikirkan matang-matang. Pilihlah jurusan sesuai dengan minat dan kemampuan kamu. Kalau memang cita-cita kamu pada rumpun IPS, pilihlah jurusan sesuai begitupun untuk rumpun IPA. Mau apapun kamu IPA atau IPS belajar nomor satu Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada keceradasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang. Bahkan menurut Howard Gardner (1983) terdapat empat pokok utama dari kecerdasan emosional sesorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat ukur untuk memotivasi diri.
Jadi tidak usah lagi membedakan IPA dan IPS karena semuanya sama. Perlakukan mereka dengan baik, IPA bukan identik pintar sebaliknya IPS bukan identik tak pintar, kecerdasaan seseorang bukan bersadarkan jurusan, itu adalah pilihan. Bagi guru dan orang tua untuk perlakukan anak kita sama, rezeki kita tak tahu tak jarang anak IPS lebih berhasil dan sukses dibanding anak IPA.**
*Penulis, Guru Madrasah Aliyah Darul Ulum Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Editor : Super_Admin