Bahagia rasanya dapat bertemu kembali dengan bulan suci Ramadan tahun 1443 H ini. Tidak semua orang ditaqdirkan Allah bisa bertemu dengan bulan yang penuh rahmat dan maghfirah ini. Ternyata do’a yang selalu kita panjatkan pada bulan Rajab dan Sya’ban itu: Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wabalighna Ramadana; diijabah oleh Allah. Allah memberi kesempatan lagi kepada kita untuk hidup bersama dengan bulan Ramadan ini. Kesempatan yang dianugerahkan Allah ini tentu tidak boleh kita sia-siakan. Sebab di tahun depan belum tentu diberikan kembali. Setiap kita harus merasa bahwa Ramadan tahun ini adalah Ramadan yang terakhir dalam hidup kita. Dengan perasaan yang seperti ini akan muncul motivasi yang kuat untuk berbuat semaksimal mungkin dalam rangka mengisi Ramadan dan menegakkannya.
Secara garis besar, menegakkan Ramadan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: Pertama: Hablun Min-Allah, menjalin hubungan kepada Allah. Kedua: Hablun Min-annas, menjalin hubungan kepada sesama manusia. Cara pertama dapat kita wujudkan dengan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yang telah mukallaf, seperti mendirikan shalat lima waktu, berpuasa di siang hari, mendirikan shalat sunat tarawih dan witir, mendawamkan tilawah al-Qur’an, membiasakan diri i’tikaf di masjid, dan mengerjakan ibadah-ibadah ritual lainnya. Cara kedua dapat diaplikasikan dengan menggalang silaturrahmi, ifthar bersama, menyantuni fakir miskin, mengeluarkan zakat mal dan fitrah, dan dengan melakukan berbagai bentuk ibadah sosial lainnya.
Dalam konteks Ramadan, melaksanakan kewajiban beribadah dalam bentuk sosial sungguh sangat dianjurkan. Dalam berbagai hadits kita temukan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat pemurah, tetapi sifat pemurah beliau ini akan berlipat ganda ketika telah memasuki bulan Ramadan. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi bersabda: “Barang siapa memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa dengan tidak dikurangi sedikit pun”. Bersandar kepada kedua hadits ini, rasanya cukuplah bagi kita termotivasi untuk melakukan aksi-aksi kemanusiaan dan memanfaatkan apa saja yang kita miliki untuk tidak hanya buat diri sendiri tetapi juga buat orang lain, “Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”, demikian sabda Nabi.
Jika kita berbicara mengenai puasa, tentu pembicaraan kita tidak hanya sebatas pada hal-hal yang bersifat syar’iyah belaka. Seperti masalah rukun puasa, sunnat puasa, dan yang membatalkan puasa. Namun pembicaraan itu harus diperluas sampai pada masalah fungsi dan pesan moral yang terkandung oleh ibadah puasa itu sendiri. Sebab, ibadah apapun, termasuk ibadah puasa, tanpa memperhatikan pesan-pesan moralnya, maka ibadah itu tidak akan pernah mampu membawa pelakunya ke arah yang lebih baik. Atau dengan penjelasan lain, orang yang beribadah tetapi tidak mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya, menandakan bahwa ibadahnya tersebut tidak diterima oleh Allah SWT. Sebab kadar diterimanya ibadah seseorang terletak pada sejauh mana dia mengaplikasikan pesan-pesan moral yang terkandung dalam ibadah tersebut.
Lalu apa sesungguhnya pesan moral ibadah puasa? Pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa di antaranya ialah kita musti berhati-hati dan selektif dalam mengkonsumsi sesuatu. Jangankan yang haram, yang halal sekalipun jika belum sampai pada waktunya, tidak diperbolehkan. Puasa mengajarkan kepada kita untuk tidak sembarang makan. Makanan yang kita konsumsi harus betul-betul diyakini sebagai sesuatu yang halalan-thayyiban. Lebih dari itu, puasa berpesan kepada kita untuk tidak memindahkan hak orang lain ke dalam perut kita. Perut kita harus bersih dari sesuatu yang haram baik dari segi zatnya, maupun cara mendapatkannya.
Lebih jauh dari itu pula, jika kita kaji, puasa berpesan kepada kita untuk senantiasa merasakan apa yang telah orang lain rasakan. Dengan berpuasa, kita pasti merasakan betapa sakitnya lapar dan betapa sengsaranya jika kehausan. Dari kesadaran seperti inilah, insyaa Allah akan muncul sikap kepedulian sosial. Semoga. (*)
Penulis adalah dosen FTIK IAIN Pontianak Editor : Misbahul Munir S