Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Menjawab Tantangan Pencapaian SDGs 2030

Misbahul Munir S • Jumat, 10 Juni 2022 | 10:30 WIB
Mohammad Reza
Mohammad Reza
Oleh: Mohammad Reza

Pada Sidang Umum PBB September 2015 disepakati agenda pembangunan pasca 2015, tahun berakhirnya Millennium Development Goals (MDGs), yang dinamakan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). TPB/SDGs diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030 untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang iklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Bappenas, n.d.)

SDGs merupakan komitmen global dalam upaya menjaga keberlanjutan dunia yang mencakup 17 tujuan pencapaian SDGs, yaitu  (1) tanpa kemiskinan; (2) tanpa kelaparan; (3) kehidupan sehat dan sejahtera; (4) pendidikan berkualitas; (5) kesetaraan gender; (6) air bersih dan sanitasi layak; (7) energi bersih dan terjangkau; (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; (9) industri, inovasi dan infrastruktur; (10) berkurangnya kesenjangan; (11) kota dan permukiman yang berkelanjutan; (12) konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab; (13) penanganan perubahan iklim; (14) ekosistem lautan; (15) ekosistem daratan; (16) perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh; (17) kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sebanyak 17 tujuan tersebut dikelompokkan ke dalam empat pilar, yakni pilar pembangunan sosial, meliputi tujuan 1, 2, 3, 4, dan 5; pilar pembangunan ekonomi, meliputi tujuan 7, 8, 9, 10, dan 17; pilar pembangunan lingkungan, meliputi tujuan 6, 11, 12, 13, 14, dan 15; serta pilar pembangunan hukum dan tata kelola, meliputi tujuan 16.

Covid-19 dan Tantangan Pencapaian SDGs

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri dalam menghambat pencapaian tujuan SDGs. Jurang disparitas yang ada semakin lebar karena pandemi tak kunjung usai. Pandemi yang menghantam sejak akhir 2019 tak ayal berdampak besar terhadap berbagai skema pembangunan yang direncanakan, baik di tingkat global, nasional, lokal, hingga desa. Sumberdaya yang dimiliki lebih banyak diprioritaskan pada penanganan pandemi. Dari assessment yang dilakukan Gemawan pada 50 desa di Kalimantan Barat, sebagai contoh, mencatat perencanaan desa terhambat karena harus memprioritaskan dana mereka untuk menghadapi pandemi.

Achmad Fanani Rosyidi, manager program Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM), menyoroti beberapa target SDGs yang perlu diperhatikan akibat pandemic. Pertama, tanpa kemiskinan. Covid-19 menurunkan pendapatan kelompok rentan dan miskin serta meningkatkan risiko kelompok menengah untuk turun menjadi kelompok miskin. Kedua, tanpa kelaparan. Terganggunya distribusi logistik akibat PSBB, serta menurunnya akses terhadap pangan akibat PHK. Ketiga, kehidupan sehat dan sejahtera. Covid-19 menurunkan kualitas kesehatan masyarakat dari berbagai level kehidupan. Keempat, pendidikan berkualitas, pola belajar yang berubah memerlukan adaptasi yang tidak mudah dilakukan pelaku pendidikan. Kelima, berkurangnya kesenjangan. penurunan pertumbuhan ekonomi juga berdampak pada ketenagakerjaan. (Rosyidi, 2021).

Signifikansi Keterlibatan Generasi Muda dalam Pencapaian SDGs

Senior Program Officer SDGs International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Hamong Santoso, mengatakan terdapat tiga tantangan yang akan dihadapi pemerintah pusat hingga daerah terkait dengan pelaksanaan SDGs di Indonesia (Solichah, 2018). Ia melihat permasalahan itu meliputi strategi komunikasi, pembiayaan, dan menyiapkan daerah untuk mengadopsi dan melaksanakan SDGs pada masing-masing regional.

Besarnya target raihan SDGs harus dibarengi dengan kemampuan para pihak untuk mampu mendaratkan SDGs hingga level terdasar. Artinya, masyarakat harus memiliki pemahaman yang setara dengan teknokrat sehingga SDGs dipahami secara teknis. Jika tidak, maka SDGs hanya akan menjadi konsepsi hampa, sementara target realisasinya tak lama menjelang – 8 tahun lagi.

SDGs memang masih bernapas developmentalisme. Terlepas hal itu, harapan publik dunia sementara hanya ada pada pencapaian tujuan-tujuan ini. Agar semakin banyak stakeholders yang bisa memberikan kontribusi, tujuan pembangunan ini memang harus segera dibumikan. Seperti yang disampaikan Hamong Santoso, itu dapat dilakukan dengan mengacu pada strategi komunikasi yang tertarget dan tersegmentasi.

Menarik melihat langkah Kementerian Desa PDTT merilis SDGs Desa sebagai upaya localizing tujuan pembangunan global. Kemendes PDTT mengklaim bahwa SDGs Desa dapat berkontribusi sebesar 74 persen bagi pencapaian SDGs. Pencapaian butir-butir tujuan di desa terintegrasi program dana desa agar terakselerasi. Dana desa, dalam konteks ini, dikanalisasi untuk pemenuhan 18 tujuan pembangunan berkelanjutan di desa.

Strategi adaptasi ini cukup mampu melandaikan tujuan besar global pada level tapak. Hal yang sama juga harus direspon oleh kelompok masyarakat sipil dengan mengambil peran-peran strategis sehingga capaian ini dapat terealisasi pada waktunya. Setiap kelompok dapat memulai dengan menginventarisir kontribusi output kerja mereka terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Berdasarkan sensus penduduk 2020 BPS, penduduk Indonesia berjumlah 270,2 juta jiwa. Dari populasi itu, generasi Post-Gen Z mencapai persentase 10,88 persen, generasi Z 27,94 persen, generasi milenial 25,87 persen, generasi X 21,88 persen, babby boomer 11,56 persen, pre-boomer 1,87 persen (Nurhanisah, 2021). Artinya, usia muda mendominasi populasi Indonesia. Harapan keberlanjutan mencapai SDGs pun juga bersandar bersama generasi muda ini. Sehingga komunikasi SDGs yang intensif juga harus dilakukan dengan menyasar kelompok yang memiliki digital native ini.

Pengumuman hasil pemilihan umum Presiden Filipina di medio Mei 2022 jadi contoh teranyar peran signifikan anak muda. Pemilih Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. didominasi kaum muda Filipina yang terpapar informasi dari media digital. Hasil survei Pulse Asia pada Februari 2022 menunjukkan 71 persen warga Filipina usia 18-24 menginginkan Bongbong menjadi Presiden Filipina (Ranada, 2022). Bayangkan bila narasi yang dikembangkan di media digital membahas seputar upaya pencapaian SDGs, betapa besarnya peluang meningkatkan energi untuk berkontribusi dan berpartisipasi.

Mulai dari Kemitraan: Membangun Ikhtiar Kolektif

Delapan tahun tentu bukan waktu yang lama. Optimis boleh saja selama didukung kecukupan syarat. Untuk mencapai tujuan ini, syarat pertama yang harus terpenuhi hanyalah membangun kemitraan bersama lintas stakeholders. Kerjasama, kolaborasi, dan sinergi diperlukan agar para pihak mampu memberikan kontribusi berbasis kekuatan masing-masing. Maka, sekali lagi, komunikasi jadi penentu untuk memobilisasi gerigi kolaborasi ini.

Stakeholders di tiap generasi dapat menggerakkan pendulum percepatan pencapaian target SDGs dengan memasifkan distribusi pengetahuan ke masing-masing individu, memantik lahirnya ikhtiar kolektif. Sehingga meraih SDGs, dapat kita mulai dari tujuan 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis adalah pegiat Gemawan. Editor : Misbahul Munir S
#Tujuan Pembangunan Berkelanjutan #MDGs #sdgs