MASIH terlintas di ingatan kita terutama yang lahir di era 1980-an dan sebelumnya. Dulu permainan dunia kita ketika masih anak-anak tidaklah seperti sekarang. Sekarang permainan sudah banyak tersedia. Tak perlu membuat sendiri karena sudah banyak dijual di pasar-pasar dan akses ke pasar pun mudah bahkan ke pasar bisa cukup dengan dua jari jempol saja barang sudah diantar depan pintu.
Dulu permainan lebih banyak diciptakan sendiri. Ingin main boneka, bisa dibuat dari pelepah pisang, pelepah sagu, rumput-rumputan atau bisa juga dari tanah liat yang diambil dari pinggi parit. Main tali dari pelepah pisang yang agak tua dan lain sebagainya. Dahulu permainan banyak dilaksanakan di luar rumah atau di halaman. Termasuklah permainan tali atau kucing dan tikus.
Tentu kita pun masih ingat bahwa pada era tersebut, kita bermain bersama tak hanya dengan sesama perempuan tapi juga bercampur dengan laki-laki. Namun masih ingatkah para pembaca sekalian bahwa dulu meski anak laki-laki dan perempuan main bersama, mereka tetap merasa malu jika sampai berpegangan tangan? Para anak perempuan di zaman itu menolak untuk disentuh oleh lelaki dan begitu pula sebaliknya karena mereka Malu. Dan mungkin pembaca masih ingat bahwa dulu anak perempuan bahkan sampai menangis ketika di sekolah ia disuruh duduk dengan seorang laki-laki karena begitu malu.
Inilah jiwa-jiwa murni yang hilang. Jiwa-jiwa yang sejak kecil diajarkan oleh orang tua agar punya rasa malu. Malu kalau bersentuhan dengan laki-laki yang bukan saudara kandungnya. Malu kalau duduk bersama dengan lelaki lain yang bukan mahromnya. Rasa malu itulah yang kini mulai pudar. Tak jarang kita melihat pemuda-pemudi bergandengan atau berpegangan tangan saat di lampu merah. Bahkan sering sekali kita melihat pemuda dan pemudi berduaan di teras rumah yang remang-remang dan orang tua justeru membiarkannya.
Padahal masa muda adalah masa di mana penting bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. Masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan sehingga memerlukan pendampingan dan bimbingan. Godaan yang menimpa para pemuda salah satunya adalah bersumber dari pintu syahwat. Pintu syahwat atau bujukan hawa nafsu ini telah banyak memakan mangsa. Dengan rayuan inilah syaithan menjajah keinginan dan kecintaan pemuda kita sehingga saking parahnya ada yang sampai menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.
Ketahuilah saudaraku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan bahwasanya: “Kelak pada hari kiamat matahari didekatkan di atas kepala umat manusia dan keringat dosa mereka bercucuran membanjiri dan bahkan ada yang hampir tenggelam di dalam lautan keringatnya sendiri, alangkah teriknya matahari ketika itu. Namun subhanallah, Allah Yang Maha Pemurah memberikan sebuah keistimewaan bagi para pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada-Nya, yaitu mereka akan mendapatkan naungan Arsy Allah ta’ala.”
(Bukhori no. 660, 1423, 6479 dan 6806)
Beliau juga bersabda tentang saf yang terbaik bagi kaum lelaki dan kaum wanita di dalam sholat, “Sebaik-baik shaf bagi kaum lelaki adalah yang terdepan dan shaf terjelek bagi mereka adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shaf bagi perempuan adalah yang paling belakang dan yang terjelek adalah yang terdepan.” (HR. Muslim)
Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menjaga hubungan antara lelaki dan perempuan, sampai dalam hal barisan sholat mereka pun diusahakan saling berjauhan. Dan demikianlah yang dipahami oleh para Sahabat wanita rodhiallahu ‘anhunna di masa Nabi yaitu tidak diperbolehkan terjadinya berdesak-desakan atau campur baur lelaki dan perempuan. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah rodhiallahu ‘anha. Beliau mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai mengucapkan salam maka para wanita pun berdiri seketika sesudah selesai membaca salam. Adapun Nabi tetap diam dalam posisinya selama beberapa saat sebelum berdiri.” (HR. Bukhari no. 870). Ummu Salamah mengatakan, “Menurut kami, wallahu a’lam, beliau melakukan hal itu adalah dalam rangka agar kaum wanita segera beranjak pergi sebelum ada lelaki yang berpapasan dengan mereka.” (lihat Nashihati lin Nisaa’, hal. 119).
Allahu akbar! Adakah perlindungan terhadap kaum wanita yang lebih hebat daripada perlindungan yang diberikan oleh syariat Islam? Karena memang demikianlah kekhususan kaum wanita. Dia adalah sosok yang terhormat dan tidak boleh untuk diobral.
Oleh karena itulah wahai saudaraku, mari bersama kita kembalikan jiwa-jiwa murni yang telah hilang itu. Mari kita ajarkan anak-anak kita agar memiliki rasa malu jika berduaan maupun berpegangan dengan laki-laki maupun perempuan yang bukan mahrom mereka. Mari kita sampaikan kepada anak-anak kita bahwa Allah dan Rosulullah lah yang melarang mereka untuk melakukan hal tersebut.
Semoga Anak-anak kita menjadi pemuda yang dinaungi di hari kiamat karena tumbuh menjadi pemuda dan pemudi yang sholih sejak dini, kelak saat matahari di atas kepala. Semoga bermanfaat. **
Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Singkawang Editor : Misbahul Munir S