Oleh: Santriadi Rizani
Hari Raya ‘Idul Adha mengingatkan kita kepada peristiwa yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim AS dan perhatian kita tertuju kepada dua hal, yang pertama adalah ibadah haji, dan yang kedua adalah ibadah kurban berupa penyembelihan hewan ternak yang dilaksanakan setelah shalat ‘Idul Adha sampai tiga hari berikutnya, yaitu pada 11, 12, dan 13 Zulhijjah atau Hari Tasyrik.
Dalam ibadah haji, seluruh jamaah tenggelam dalam suasana persaudaraan dan persamaan, tanpa ada perasaan perbedaan. Perbedaan warna kulit lenyap tertutup oleh pakaian ihram putih bersih, perbedaan bahasa sirna oleh gemuruh zikir dan takbir serta suara doa yang menggunakan satu bahasa, “Labbaika Allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaika. Innalhamda wa ni’mata laka walmulka, laa syariikalaka.” Suasana yang merupakan visualisasi dasar persamaan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah SWT., yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Firman Allah ini ditegaskan kembali oleh Rasulullah Saw., ketika beliau melaksanakan ibadah Haji Wada’, sebagai amanat terakhir beliau yang langsung disampaikan kepada kaum muslimin: “Hai manusia, kalian semua adalah anak cucu Adam, sementara Adam itu diciptakan dari tanah, maka tidak ada keistimewaan bagi suku bangsa Arab atas suku bangsa lainnya kecuali karena takwa.”
Ibadah haji sejak memakai ihram kemudian tawaf qudum mengelilingi Baitullah, berdoa di Multazam, shalat sunnah di Maqam Ibrahim, dan Hijir Isma’il kemudian Sa’i antara Safa dan Marwah mengikuti jejak Siti Hajar yang berusaha mencari air demi putranya Ismail. Menaiki bukit Safa untuk melihat siapa tahu ada orang, kafilah atau burung yang dapat menunjukkan sumber air, dengan lari-lari kecil menuju ke bukit Marwah demikian bolak-balik sampai tujuh kali. Hal ini mengisyaratkan bahwa keberhasilan suatu cita-cita harus diikuti kerja keras tanpa menyerah diiringi sikap tawakal dan optimis bahwa Allah SWT. pasti akan mengabulkannya.
Pada 9 Zulhijjah seluruh jamaah haji baik yang sehat maupun yang sakit betapa pun parahnya semuanya berkumpul dan melaksanakan rukun haji wuquf di Arafah sebagai puncak dari ibadah haji, berkumpul di padang pasir nan luas dan terbuka. Suasana wuquf di padang Arafah ini adalah miniatur dan peringatan akan adanya hari berkumpul di padang Mahsyar nanti.
Selanjutnya, syariat ibadah “kurban” yang menandai semaraknya Hari Raya Idul Adha ini. Kurban berarti “pancaran darah” yang menunjuk kepada terpancarnya darah hewan ternak saat disembelih. Sedangkan istilah “kurban” juga berarti “mendekatkan diri kepada Allah”.
Perintah melaksanakan ibadah kurban pertama kali disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS. Perintah yang sangat berat, karena Nabi Ibrahim harus ber-kurban dengan menyembelih putra satu-satunya yang sangat didambakan puluhan tahun dan sangat ia sayangi. Setelah bertahun-tahun lamanya, kerinduan mendalam akhirnya membimbing langkah Nabi Ibrahim menuju tempat di mana ia dulu meninggalkan isteri dan anak tercinta. Pertemuan antara Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail ditandai oleh luapan kegembiraan yang tiada terlukiskan.
Namun waktu melepas rindu dan masa menikmati kemesraan terasa belum lama berlalu, tiba-tiba pada suatu malam, melalui mimpi, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim agar melaksanakan kurban dengan menyembelih putra tercinta yang tengah beranjak remaja. Perintah yang sangat berat dan pelaksanaan ibadah kurban yang mendebarkan jantung ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:
“Maka tatkala anak itu sampai pada usia sanggup berusaha atau menginjak remaja, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi agar menyembelihmu. Bagaimanakah pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar. Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan putranya di atas pelipisnsya, lalu Kami panggil dia: Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami ganti anak itu dengan seekor ternak sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 102-107)
Betapa berat ujian dari Allah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, namun karena taat dan cintanya kepada Allah melebihi segala-galanya, Nabi Ibrahim tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah yang sangat berat ini. Kecintaannya kepada Allah dan kepatuhannya terhadap orang tua, Ismail rela menyerahkan lehernya untuk disembelih tapi diganti dengan menyembelih seekor kibasy atau kambing yang sangat gemuk. Dengan ketakwaan kepada Allah dan kesetiaan kepada suami, Siti Hajar memasrahkan putra satu-satunya untuk disembelih, walaupun diiringi isak tangis dan derai air mata sang ibu membasahi pipi.
Seperti ibadah lainnya, ibadah kurban ini disyariatkan oleh Allah adalah untuk menguji keimanan dan ketakwaan hamba-Nya. Apapun jenis hewan ternak dan berapapun jumlahnya yang disembelih, melainkan yang sampai dan diterima oleh Allah SWT. adalah ketakwaan seseorang, bukan daging atau darah hewan kurban tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an: “Bukanlah daging dan darah hewan kurban itu yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kalian yang mencapai ridha-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Dalam penyembelihan hewan kurban akan terdengar raungan dan terlihat semburan darah. Mari renungkan bahwa masih ada “sesuatu” yang bercokol dan berkuasa di dalam diri kita yang harus “disembelih”, yaitu nafsu binatang. Nafsu hewaniyah atau watak kebinatangan inilah sebenarnya yang sering mendorong manusia bersikap dan berbuat di luar kewajaran dan batas kemanusiaan yang menyebabkan manusia itu jauh dari ketaatan dan ketakwaan.
Semoga dengan menapak tilas keluarga Nabi Ibrahim AS. yang dijadikan syariat sampai hari ini dapat mengantarkan kita kepada derajat takwa. Tentunya dengan niat ikhlas dan mengharapkan keridhoan dari Allah SWT. Wallahu a’lam.
Penulis adalah Guru MAS GERPEMI Tebas dan Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas Editor : Misbahul Munir S