TONGKAT memiliki filosofi mendalam. Sejarah mencatat bahwa tongkat merupakan kebiasaan yang dipakai di masa Rasulullah, sahabat, dan para pewarisnya, sunah Nabi yang dijadikan sebagai sandaran kokoh dalam kehidupan beragama. Rasulullah memiliki banyak tongkat salah satu tongkat yang disenangi Nabi adalah Al-Saaja (tongkat dari peninggalan Nabi Ibrahim) Tongkat Rasulullah ada yang terbuat dari kayu Al-Ayusiah dan kayu Luz Putih.
Tongkat dalam makna denotatif adalah sepotong kayu, alat bantu, penopang, pegangan ketika berjalan. Alat bantu yang dijadikan sebagai penopang ketika berjalan atau sebagai penopang dalam menempuh jalan sulit.
Jika dilihat dari pengertian konotatif tongkat dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia di dunia ini sebagai musafir menuju kehidupan akhirat. Tongkat juga dapat menunjukkan simbol kewibawaan seseorang. Pada zaman nabi musafir selalu membawa tongkat, yang difungsikan sebagai penguat perjalanan di padang pasir dan berfungsi untuk keamanan para musafir jika bertemu binatang buas.
Kisah kehidupan para nabi, tongkat seringkali diceritakan sebagai teman perjalanan kehidupan para nabi. Nabi Muhammad (tongkat sebagai simbol Kewibawaan), Nabi Musa (tongkat sebagai simbol perlawanan), Nabi Ibrahim (tongkat sebagai simbol teman perjalanan menuju perintah Allah), Nabi Sulaiman (tongkat sebagai simbol kekuasaan), dan juga nabi-nabi lain. Sehingga bisa dapat kita fahami bahwa memakai tongkat merupakan sunnah para Anbiya.
Tongkat dapat dikaji dalam filosofi, agama, politik, sosial masyarakat, dan lain-lainnya. Dalam dunia persilatan tongkat di gunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Tongkat juga dijadikan simbol dalam lambang kedokteran, ia merupakan simbol kemandirian seorang Asclepius dalam bekerja dan mengobati. Tongkat juga bisa berarti penopang pada saat seseorang sedang menderita penyakit, lebih menjaga kewibawaan. Tongkat merupakan simbol yang melambangkan kejayaan dan kekuasaan. Dalam dunia militer tongkat merupakan identitas yang menjadikannya sebagai simbol kekuasaan, simbol kedudukan, simbol perintah dan sebagainya.
Tongkat dalam Islam memiliki makna yang tidak sekadar penyangga tubuh saat berjalan di usia renta. Hal ini merupakan kebiasaan di masa Rasulullah, sahabat, dan para penerusnya, oleh karenanya banyak tokoh ulama yang menggunakan tongkat, walaupun mereka belum udzur.
Menurut Imam Syafii, jika seseorang sudah masuk pada usia 40 tahun, maka di sunahkan menggunakan tongkat. Ini sebagai simbol sandaran kokoh dalam kehidupan beragama. Imam syafii juga menggunakan tongkat walaupun beliau masih kuat dan tidak tua. Saat ditanya sahabatnya, "Kenapa engkau bertongkat padahal engkau masih kuat?"
Beliau menjawab, "Biar aku ingat bahwa aku ini musafir di dunia ini. Tujuan kita adalah akhirat.”
Diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah memanggil Abdullah bin Unais dan berkata, “Aku mendapat kabar bahwa Khalid bin Sufyan bin Nubayh al Hudzali telah mengumpulkan banyak orang untuk membunuhku. Sekarang dia berada di Uranah (suatu tempat dekat Arafah), pergilah engkau ke sana untuk membunuhnya.”
Tanpa berfikir lagi Abdullah bin Unais berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada saya ciri-cirinya agar saya bisa mengenalinya!”
Namun, Nabi tidak menjelaskan ciri-ciri fisiknya, Beliau hanya berkata, “Apabila kamu melihatnya, kamu akan menggigil karenanya.”
Tanpa banyak pertanyaan lagi, ia segera berangkat menuju Uranah, dengan menyandang pedang di pinggangnya. Sambil berjalan, otaknya terus berputar menyusun rencana dan strategi, bagaimana caranya membunuh musuh Allah dan Rasulullah tersebut.
Singkat cerita sampailah suatu ketika ada kesempatan seperti yang direncanakannya, dan ia segera memancung Khalid hingga terbunuh seketika tanpa sedikitpun perlawanan. dan Ibnu Unais meninggalkannya begitu saja.
Ketika Abdullah bin Unais tiba di hadapan Nabi, beliau langsung berkata, “Inilah wajah yang telah mendapat kemenangan!”
“Aku telah membunuhnya, wahai Rasulullah!” kata Ibnu Unais.
Beliau sangat gembira dengan hasil kerjanya itu, dan mendoakannya dengan kebaikan. Kemudian Nabi bangkit dan mengajaknya masuk ke dalam rumah dan beliau memberinya sebatang tongkat. Beliau berpesan agar ia menyimpan tongkat itu dengan sebaik-baiknya.
Ibnu Unais keluar menemui orang banyak, dan mereka menanyakan tentang tongkat tersebut. Ia hanya menjawab kalau Nabi yang memberikannya dan memintanya untuk menyimpannya dengan baik. Mereka berkata, “Mengapa engkau tidak kembali kepada Rasulullah dan menanyakan kegunaan tongkat tersebut?”
Ia kembali menemui Nabi dan menanyakan tentang tongkat tersebut. Beliau bersabda, “Ini adalah sebagai tanda antara diriku dan kamu pada hari kiamat, karena pada hari itu sedikit sekali orang yang datang dengan membawa amal shalih.”
Ia keluar lagi dan menyampaikan penjelasan Rasulullah tersebut. Mereka berkata, “Sungguh beruntung engkau Ibnu Unais!” Sejak saat itu, Abdullah bin Unais tidak pernah berpisah dengan tongkat pemberian Nabi tersebut. Ketika sakit parah, ia mewasiatkan agar tongkat tersebut juga ikut dikuburkan bersamanya. Sebagai sebuah hadiah dan penghargaan Nabi kepada Abdullah bin Unais menjadikan tongkat tersebut sebagai washilah perjumpaan antara Abdullah bin Unais dengan Rasulullah nanti di hari kiamat.
Walhasil, Tongkat dapat membuat seseorang lebih fokus kepada jalan yang akan dilalui. Tongkat juga sebagai wasilah (perantara) untuk bermusafir dalam rangka perjalanan menuju rumah akhirat. Tongkat juga mengingatkan kepada seorang untuk tidak bermaksiat. Jadi, islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk menggunakan dengan memamerkan tongkat agar dipuji atau mendapatkan penghargaan tertentu dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak. Membanggakan diri sebagai seorang yang alim atau beranggapan menjadi orang shaleh yang berwibawa.
Singkatnya adalah kekuatan sebuah tongkat sebagai lambang untuk menyangga, menopang, ketangguhan dalam perjuangan para ulama, pendakwah dan perjuangan sosial keumatan serta memiliki nilai spiritual kehambaan dan sekaligus sebagai simbol perjuangan duniawi dan ukhrawi.**
Penulis adalah dosen IAIN Pontianak; Ketua Bidang Pembinaan Ummat MW KAHMI Kalbar. Editor : Misbahul Munir S