Kota Bandung ternyata luasnya 167,31 kilometer persegi. Hanya sekitar 1,5 kali luas Kota Pontianak yang sekitar 107,82 kilometer persegi (berdasarkan website Pontianak.go.id) atau 118,31 km persegi (berdasarkan Wikipedia. Kepadatan penduduk Kota Bandung sekitar 15.000 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk 2,53 juta jiwa per Juni 2022. Jumlah kepadatan tersebut sekitar 2,5 kali kepadatan penduduk Kota Khatulistiwa yang sekitar 6.000 jiwa per km persegi dengan jumlah penduduk 673.129 jiwa per semester 1 tahun 2022. Jadi, jangan heran kalau bepergian, jalan-jalan ke Kota Kembang itu kemacetan cukup terasa di hampir seluruh bagian kotanya.
“Napas untongnye belom sampai ngap-ngap baong. Untong jak sebagian wilayah kota itu temperaturnya sekitar 25-27 derajat Celcius. Dan, kalau malam tetap masih nyaman/adem,” ujar saya.
Persoalan utama Kota Bandung hampir mirip kota Pontianak yaitu masalah transportasi (kemacetan), dan drainase. Ketika hujan lebat, sejumlah jalan pun menjadi "saluran", atau kalau di Pontianak jalan pun menjadi “parit”. Kalau Jalan Gajah Mada, Ahmad Yani, dan beberapa ruas jalan lainnya paritnya kian berkurang atau bahkan hilang, maka ketika hujan lebat apalagi disertai dengan pasang tinggi- jalan tersebut pun menjadi parit.
Luas lahan yang tak bertambah, dengan jumlah penduduk serta kendaraan yang kian bertambah dari waktu ke waktu, dan jumlah luas jalan yang bertambah alakadarnya (kalau tidak mau disebutkan tak bertambah). Dua faktor inilah yang menyebabkan kemacetan itu, belum lagi faktor-faktor lainnya.
Khusus persoalan transportasi, kemacetan ini, usaha yang perlu dipikirkan adalah mempercepat pergerakan arus kendaraan bermotor internal, antarwilayah kecamatan, dan antarwilayah Kota Pontianak dengan wilayah kabupaten-kabupaten yang berbatasan langsung (Kubu Raya dan Mempawah).
Sehubungan dengan ini, tampaknya tak terelakkan bahwa Kota Pontianak perlu kian menggalakkan rencana pembangunan fly-over (jalan layang), dengan jembatan panjang (long bridge), dan jembatan bentang panjang (long span bridge). Perencanaan fly-over dan jembatan baik oleh Bappeda kota, maupun Bappeda Propinsi Kalimantan Barat perlu dirancang secara menyeluruh. Sebut saja perlu disusun masterplan jalan dan jembatan Kota Pontianak untuk sekitar 20 hingga 25 tahun.
Adanya rencana membangun jembatan Garuda, atau apapun namanya kelak, tentu boleh-boleh saja. Tetapi, kalau tanpa perencanaan menyeluruh tampaknya akan bisa menimbulkan permasalahan lain di waktu mendatang.
Sehubungan dengan prastudy jembatan, sekitar tahun 1990 an akhir, sebelum dibangunnya Jembatan Tayan, saya ikut terlibat dalam tim prastudy Jembatan Tayan yang dibentuk Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat. Tampaknya rencana awal pembangunan jembatan tersebut akan dibiayai Pemerintah Jepang. Beberapa kali kami mengadakan pertemuan dengan Tim JICA, dan telah menghasilkan dokumen prastudynya. Tim cukup lama dalam membahas bentuk jembatan yang dipilih, dengan berbagai aspek yang dipertimbangkan, termasuk masalah biaya tentunya.
Namun begitu ganti pemerintahan, termasuk negara pembiayainya, entah bagaimana prosesnya, dalam waktu singkat jembatan pun sudah ada disain bentuknya, dan tak lama kemudian dibangun.
Kini masyarakat Kalbar sudah menikmati manfaat jembatan tersebut, yang merupakan salah satu jembatan lintas Trans Kalimantan. Masyarakat pun kini bisa berfotoria, berselfi di jembatan tersebut.
Ternyata peranan pemerintah pusat, dan negara pembiayai sangat menentukan dalam membangun jembatan, dalam hal ini jembatan panjang/bentang panjang.
Kalau jembatan dalam kota yang menghubungkan dua bagian wilayah kota, dan bukan jalan propinsi, tampaknya cukup pemerintah kota dan pihak pembiayainya, peranan pemerintah pusat tentu ada. Namun, demikian pemerintah kota perlu mengkajinya lebih lengkap, bukan hanya sekadar yang penting jembatan dibangun. Kasus pembangunan KCJB yang molor, dan yang diperkirakan kelak akan merugikan negara itu, perlu menjadi bahan pertimbangan mendalam. Agar tidak terjadi permasalahan ketika walikota, DPRD nya berganti.
Sampan, sampan bermotor, pelampung, adalah bagian sejarah Kota Pontianak. Silakan dimasukkan dalam bahan kajian yang ditinjau dalam berbagai aspek, antara lain aspek pariwisata. Ingat sajalah pengalaman parit yang diperkecil, atau bahkan ditutup, dampak negatifnya masih dirasakan sampai hari ini dan entah sampai kapan.
Penulis adalah pensiunan dosen Fakultas Teknik Untan, anggota PII. Editor : Misbahul Munir S