Oleh: Satrio Nurbantara
PADA umumnya pernikahan identik dengan resepsi yang mewah dan cukup merepotkan. Upacara pernikahan seringkali melibatkan berbagai tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda tergantung pada budaya, agama, dan adat istiadat yang berlaku di masing-masing tempat. Seperti pernikahan di Jawa biasanya dilakukan dengan mengadakan tiga upacara, yaitu siraman, midodareni, dan akad nikah. Lalu, ada pernikahan adat Bugis yang identik dengan uang mahar begitu tinggi sehingga dicap sebagai adat pernikahan paling kaya dan dihormati di Indonesia. Serta masih banyak adat upacara pernikahan lainnya yang mengandung nilai filosofisnya masing-masing.
Namun, seringkali adanya adat-adat upacara pernikahan tersebut dianggap menjadi beban atau merepotkan bagi sebagian pihak. Terkhusus bagi generasi Z, generasi yang dikenal sebagai generasi serba instan alias tak mau repot. Generasi Zoomers / Gen-Z sebutan untuk kelompok orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, yang merupakan generasi penerus dari generasi Y atau millennial cenderung dianggap sebagai kelompok yang lebih inklusif, menerima perbedaan, dan lebih memperhatikan isu-isu sosial, termasuk keberlanjutan lingkungan, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender. Mereka juga cenderung memiliki pandangan yang lebih positif tentang perubahan dan inovasi teknologi, serta cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan di masa depan. Gen-Z dikenal juga sebagai generasi yang berani melakukan perubahan dan melawan arus kebiasaan yang dianggapnya tidak efisien.
Maka tak heran, jikalau belakangan ini hastag nikah di KUA menjadi trend kalangan anak muda. Berawal dari unggahan salah satu akun twitter @odongpjjj menceritakan pengalaman menikah di KUA pada 2021 silam. Dia mengatakan, tidak mengeluarkan biaya sepeserpun saat menikah di KUA lantaran menikah di hari kerja. Sebagai informasi, KUA memang tidak memungut biaya bagi pasangan yang ingin menikah di hari kerja, di luar hari kerja baru dikenai biaya Rp 600.000.
Sebenarnya, trend ini merupakan efek keberlanjutan dari pandemi covid-19. Dimana kala itu pemerintah membatasi gerak aktivitas masyarakat. Sehingga menikah pun cukup KUA saja tanpa resepsi yang mengundang orang ramai. Kemudian, hal ini dianggap memiliki banyak benefit bagi kalangan anak muda, dimana mereka dapat menghemat pengeluaran untuk pernikahan atau mengalihkan biaya nikah ke biaya kehidupan.
Tren nikah gratis di Kantor Urusan Agama (KUA) yang marak di kalangan generasi Z saat ini bisa dilihat sebagai sesuatu yang kontroversial. Ada yang menganggap bahwa ini adalah sebuah bentuk kesederhanaan dan kreativitas dalam merayakan hari pernikahan, sementara ada juga yang melihatnya sebagai sesuatu yang mengurangi nilai dan makna dari pernikahan itu sendiri.
Sebenarnya, nikah gratis di KUA sudah dilaksanakan sejak lama dan memang seharusnya ditujukan untuk pasangan yang benar-benar tidak mampu secara finansial untuk membayar biaya pernikahan. Namun, trend nikah gratis di KUA pada kalangan generasi Z ini lebih cenderung menjadi pilihan, terutama karena alasan finansial dan gaya hidup yang ingin dijalani.
Di satu sisi, bisa dilihat bahwa nikah gratis di KUA merupakan pilihan yang rasional bagi pasangan muda yang ingin memulai hidup berkeluarga dengan biaya minimal. Pasangan muda dengan kondisi ekonomi yang belum stabil atau yang ingin menghindari utang dalam proses pernikahan bisa memilih opsi ini. Selain itu, nikah gratis di KUA juga bisa dianggap sebagai bentuk kesederhanaan dan kreativitas dalam merayakan hari pernikahan.
Keputusan untuk menikah sederhana di KUA atau merayakan pernikahan dengan resepsi yang mewah adalah pilihan yang sangat personal dan bergantung pada preferensi masing-masing pasangan. Ada beberapa keuntungan dalam menikah sederhana di KUA, seperti;
Biaya yang lebih terjangkau: Pernikahan sederhana di KUA umumnya lebih murah daripada resepsi yang mewah. Pasangan bisa menghemat biaya pernikahan dan mengalokasikan anggaran untuk keperluan lain seperti hunian atau perencanaan masa depan.
Lebih intim: Pernikahan sederhana di KUA biasanya hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat, sehingga menciptakan suasana yang lebih intim dan akrab.
Tidak perlu repot merencanakan acara: Pasangan tidak perlu repot merencanakan dan mengatur segala persiapan acara resepsi, seperti catering, dekorasi, dan undangan tamu.
Tidak perlu khawatir soal dress code: Pada pernikahan sederhana di KUA, pasangan tidak perlu khawatir dengan dress code atau tata cara pernikahan yang rumit, sehingga mereka bisa fokus pada momen penting dan intim mereka.
Namun, di sisi lain, maraknya trend nikah gratis di KUA juga menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah pasangan muda saat ini benar-benar menghargai makna dari pernikahan itu sendiri? Apakah pernikahan hanya tentang merayakan dengan cara yang murah dan trendy? Apakah pasangan muda menganggap pernikahan hanya sebagai pencapaian milestone yang harus dilalui, daripada sebuah ikatan yang sakral?
Beberapa pasangan mungkin lebih suka merayakan pernikahan mereka dengan resepsi yang mewah, mungkin untuk memperlihatkan kebahagiaan dan sukacita mereka dengan keluarga dan teman-teman. Hal ini bisa menjadi cara untuk menunjukkan rasa terima kasih dan apresiasi mereka atas dukungan yang telah diberikan sepanjang perjalanan mereka sebagai pasangan. Namun, yang terpenting adalah pasangan harus memutuskan jenis pernikahan yang tepat untuk mereka berdua, dengan mempertimbangkan preferensi masing-masing dan ketersediaan sumber daya yang mereka miliki.
Kita harus ingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang komitmen, tanggung jawab, dan persiapan matang dalam membangun kehidupan berumah tangga yang baik. Oleh karena itu, sebaiknya pasangan muda yang ingin menikah tidak hanya fokus pada biaya pernikahan, tetapi juga mempersiapkan diri secara mental, emosional, dan finansial sebelum memutuskan untuk menikah.
Sebagai kesimpulan, meskipun maraknya trend nikah gratis di KUA pada kalangan generasi Z bisa dilihat sebagai sesuatu yang kontroversial, ini juga bisa menjadi pilihan yang rasional bagi pasangan muda yang ingin memulai hidup berkeluarga dengan biaya minimal. Namun, penting untuk diingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang merayakan dengan cara yang murah, tetapi juga tentang komitmen dan persiapan yang matang untuk membangun kehidupan berumah tangga yang baik.
(Penulis adalah : Punggawa Klinik Nikah Pontianak) Editor : Yulfi Asmadi