AL-Quran tertua, tertulis, tersimpan, terjaga ada di lauh mahfudz. Langit yang ketujuh sering disebut pula tempat penentuan rezeki makhluk di bumi dan di langit itulah ditetapkan rezekimu. Bagi orang-orang yang beriman tentang Al-Quran yang terjaga kesuciannya, keasliannya, kehormatan dan ketinggiannya. Tidaklah kalamullah, ayatullah, kitabullah menjadi terhina oleh tangan-tangan jahil yang merobek, mengoyak atau membakar Al-Quran yang berbentuk tulisan di atas kertas serta bisa dibaca dan disentuh oleh tangan manusia. Sebab berupa lembaran-lembaran Al-Quran yang disebut mushaf dengan gaya tulisan sahabat Usman bin Affan selanjutnya disebut mushaf Usmani.
Meski kertas biasa seperti yang bisa disentuh oleh tangan manusia tetapi Al-Quran diturunkan dari Allah yang maha perkasa maha bijaksana adalah dosa besar menghinakannya. Artinya perintah memuliakan Al-Quran baik dalam perangkat jasmani dan perangkat rohani adalah berpahala. Berpahala mulai dari hamba yang menulis, perusahaan yang mencetak, hamba-hambaNya belajar dan mengajarkan Al-Quran, hamba-hambaNya yang menghafal Al-Quran, termasuk pemerintah yang menyediakan sarana dan prasarana bagi syiar-syiar Al-Quran, membuat regulasi bagi tumbuh-suburnya kajian Al-Quran dari tingkat Taman Pendidikan Al-Quran sampai ke Perguruan Tinggi S1, S2, S3.
Mengingat pentingnya membelajarkan Al-Quran kepada umat untuk kebaikan dunia dan akhirat maka bersatu-padulah elemen-elemen anak negeri untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat kalamullah. Anak-anak dan semua lapisan generasi wajib berkomitmen memberantas buta huruf Al-Quran sebagai titik awal bagi memasuki pintu gerbang hidayah selanjutnya. Gerakan aku cinta Al-Quran merupakan upaya massal untuk mendekatkan masyarakat dengan Al-Quran. Program baca Al-Quran satu hari satu juz, program TKA, TPA, Rumah Al-Quran, Majlis Taklim, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran, pembibitan calon imam penghafal Al-Quran, Seleksi Tilawatil Qur'an dengan cabang-cabangnya adalah dalam rangka supaya umat bertambah dekat dengan pedoman dan pelita hidupnya.
Publikasi dan penyebar-luasan sejuta Al-Quran ke daerah terluar, terjauh dan terpencil merupakan kepedulian nyata terhadap keadaan umat yang masih jauh dari cahaya kebenaran Al-Quran yang menjadi seribu obat, seribu berkat, seribu rahmat, seribu syafaat, seribu hasanat. Masih banyak masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan yang belum menjadikan kitab suci sebagai sahabat yang dekat, rekat dan akrab dalam napas dan nadi kehidupan mereka. Masih banyak umat yang belum menjadikan Al-Quran sebagai referensi untuk berpijak dalam menyelesaikan problem kehidupan, masih banyak umat yang belum menjadikan Al-Quran sebagai acuan tempat bertanya, sebagai naskah tempat meminta nasihat.
Sungguh kepenasihatan Al-Quran adalah penasihat yang paling jitu, daya tangkal yang paling
andal, daya dorong yang paling kuat, daya sembuh yang paling mujarab, daya terang yang paling bersinar. Singkat kata, Al-Quran adalah kata yang paling manjur dan dengan berwasilah kepadanya, doa-doa diijabah, dosa-dosa diampuni, taat-taat diterima, dan salam-salawat kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai shahib Al-Quran tersampaikan dan terhubungkan dengan sangat cepat.
Bila hari-hari selain bulan Ramadan mungkin umat masih sangat disibukkan oleh kerja-kerja rutinitas, namun sekarang ritme kerja sektor formal dan informal mulai teratur ketika dilihat dari segi waktu. Keteraturan yang dimaksud penulis adalah umat di bulan puasa lebih respon terhadap salat lima waktu, terutama maghrib (waktu ifthar) dan subuh (waktu imsak). Di samping umat lebih proaktif terhadap disiplin waktu salat subuh, zuhur, asar, magrib, isyak yang menjadi kewajiban pribadi (fardhu 'ain) setiap muslim dan muslimah. Di samping mereka juga menambah frekuensi salat tarawih yang hanya terdapat di bulan suci Ramadan dan tidak terdapat di bulan-bulan lain.
Gejala yang hampir sama terutama di gugusan lingkungan kita berada, ada kultur yang kurang positif bahwa power amaliyah Ramadan di-full-kan di awal. Begitu pertengahan Ramadan, umat sudah banyak kekurangan dan kehabisan energi. Dalam arti jemaah tarawih mulai sepi, amaliah tadarrus Al-Quran sudah mulai ditinggalkan, salat tahajjud mulai jarang. Memasuki tahap penghujung Ramadan pada putaran sepuluh hari terakhir (20-30), bertambah sepi yang mau bersahabat dengan Ramadan. Umat sudah sibuk dengan persiapan untuk merayakan Idulfitri, lebih-lebih masa cair tunjangan hari raya (THR), Al-Quran pun ditinggal, lalu yang dicari adalah item-item busana apa saja yang big-sale, atau discount sampai 75 % atau promo Ramadan, atau hadiah Ramadan berupa aneka makanan, minuman dan manisan.
Bila ingin hidup damai, bahagia, tenang dan nyaman lahir-batin, jangan terpisah walaupun sedetik dengan Al-Quran. Sebab ketika diri terpisah dengan Al-Quran berefek pikiran mulai kacau, perasaan mulai gelisah, masalah datang mendera tiada jeda. Oleh sebab itu, prakondisinya adalah selalu bersahabat dengan Allah dan Rasulullah, bercakap-cakap kepadaNya dengan merenungi peringatan Al-Quran. Sedang bila kondisi saat berlangsung dalam merenungi ayat demi ayat, surah demi surah, juz demi juz adalah hati yang dipenuhi rahasia rahmat Al-Quran, sebab dia merupakan mukjizat terbesar dari Allah SWT.
Sebagaimana informasi dari Al-Quran bahwa betapa tidak mengagumkan ketika Musa diperintah Tuhan membelah batu dengan pukulan tongkatnya, seketika itu pula batu terbelah dan memancarkan dua belas mata air. Dua belas mata air sebagai tempat minum bagi dua belas suku dari Bani Israel (idhrib bi'ashakal hajar). Begitu pula ketika Musa diperintah oleh Tuhan untuk memukulkan tongkat ke laut, segera laut merah terbelah dan menjadi daratan (idhrib bi'ashakal bahar). Kemudian Allah SWT berfirman: Wahai Musa, bawalah dan selamatkan hamba-hambaKu dari kejahatan Fir'aun dan sekutu-sekutunya.
Adapun kemukjizatan Rasulullah Muhammad SAW bukan tongkat untuk membelah lautan, melainkan mukjizat Al-Quran yang membelah dan membedah hati manusia dengan kelapangan dan kemudahan Islam yang dibawa oleh sang utusan sejati (yashrah shadrahu lil Islam). Pasca kondisi membaca Al-Quran bagi umat tetap menetapi ajaran-ajaran dan nilai-nilainya yang luhur, suci, tinggi lagi mulia. Artinya menuruti hukum ajarannya, menghalalkan apa yang dihalalkannya, dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Kerjakan suruh apa yang disuruh Al-Quran, dan tinggalkan larangan dan pantangannya. Sebab ada ajaran yang melenceng berupa pantangan memakan buah pepaya, buah kundur dan buah pisang nipah.
Setelah ayat-ayat suci, kalam-kalam suci dan surah-surah suci telah bercahaya-berkilauan adalah hamba akan dituntun dan dibimbing Allah SWT dengan cahayaNya, Nur Muhammad SAW dalam cahaya bacaannya yang berkaramah (berkemuliaan) di setiap huruf-hurufnya, berkaramah di setiap ayat, surah dan juz. Artinya Al-Quran telah betul-betul menjadi hidayah (petunjuk) bagi para pembacanya. Petunjuk untuk berbuat seperti perbuatan yang dikehendaki Al-Quran, dan meninggalkan larangan seperti apa yang dilarangnya. Saat Al-Quran sudah mampu menjadi pembeda (Al-Furqan) dalam diri seseorang, itulah Al-Quran yang telah menjadi maha guru dalam dirinya sendiri. Kitab suci yang sudah sangat fungsional dalam arti menjalankan fungsi-fungsi pembeda. Pembedaan secara otomatis antara yang benar (haq) dengan yang salah (bathil), antara surga dan neraka. Di sini maksudnya bahwa Al-Quran dalam diri telah aktif memberi warning (dzikir) antara benang putih dan benang hitamnya pikiran, antara malam dan siangnya perasaan. Kondisi untuk mencapai puncak hidayah tidak boleh bosan-bosan dalam merenungi ayat demi ayat. Kesabaran dalam taat juga dalam ruang lingkup sabar mengkaji ayat-ayat Allah, huruf, harakat, kalimah, surah, juz dalam rahasia ayat, rahasia huruf, rahasia kalimah, rahasia surah. Rahasia itu maksudnya adalah nur shiddiq, nur amanah, nur tabligh, nur fathanah yang terdapat pada diri mulia yang satu, dalam firman Tuhan:
"Sungguh pada keadaan diri Rasulullah terdapat uswah hasanah bagi mereka yang berharap (rahmat) Allah dan hari akhir seraya banyak mengingat Allah." (Al-Ahzab:21). Posisi puncak memahami, mengkaji, merenungi dan mengamalkan Al-Quran dan mengimaninya wajib besertaan dengan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang sah menerima Al-Quran. Rasulullah Muhammad SAW adalah satu-satunya insan kamil-mukammil yang paling berhak dalam menafsirkan dan memberikan tunjuk-arah (taujih) Al-Quran kepada umat. Dengan berwasilah kepada Rasulullah Muhammad SAW dalam memahami Kitabullah Al-Quran Al-Karim akan tercurah rahmat dan ridha Allah SWT berkat kekasihNya, inilah amaliyah ta'allum, tadarrus, tafakkur, tadzakkur, tadabbur Al-Quran yang sampai kepadaNya (wushul ilallahi ta'ala). Wallahu a'lam.
Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak Editor : Misbahul Munir S