Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Peluang Investasi Sektor Pertanian Talas

Misbahul Munir S • Selasa, 13 Juni 2023 | 12:41 WIB
Julianus, mahasiswa S2 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura.
Julianus, mahasiswa S2 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura.
Oleh: Julianus*, Eva Dolorosa

TALAS merupakan tanaman liar yang dimanfaatkan masyarakat zaman dulu ketika masa paceklik tiba. Namun, sekarang merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sedang digencarkan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk dikembangkan. Tumbuhan talas sebagai komoditas pangan alternatif yang mulai populer dikembangkan di Indonesia karena memiliki nilai dan prospek ekonomi yang cukup bagus, khususnya sebagai bahan pangan dan komoditas ekspor ke negara negara lain.

Talas mulai dikembangkan sejak tahun 2015 karena adanya permintaan dalam bentuk umbi segar dan olahan/tepung dan telah menjadi komoditas pangan alternatif dan komoditas ekspor. Tumbuhan ini dapat diolah sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik, obat serta berbagai produk olahan makanan, seperti keripik, kue, dan bahan dasar makanan lainnya. Peluang bisnis yang menjanjikan dari tanaman talas yaitu peluang ekspor tanaman umbi ini masih terbuka lebar terutama untuk ekspor ke Australia dan Belanda. Negara Australia membutuhkan ekspor daun talas yang cukup besar yaitu sekitar 300 ton per pekan sebagai bahan baku rokok karena tidak mengandung nikotin sehingga aman digunakan. Sedangkan Negara Belanda membutuhkan batang talas yang cukup banyak sehingga masih belum dipenuhi oleh para petani di Indonesia.

Selain investasi dibidang sektor pertanian talas yang sangat menjanjikan, tanaman talas juga memiliki keunggulan kompetitif. Yakni, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan salah satunya dapat digunakan sebagai obat radang kulit, gatal, serta diare dan mudah dibudidayakan karena pemeliharaannya yang relatif mudah dan biayanya murah serta peluang pasarnya yang cukup luas. Talas (Colocasia esculenta) banyak mengandung senyawa organik, mineral, serta tingkat tinggi vitamin A, C, E, vitamin B6, dan folat. Menurut USDA Nutrient database Nasional. Tidak hanya itu, talas juga terdapat magnesium, zat besi, seng, fosfor, kalium, mangan, dan tembaga di dalamnya.

Kondisi alam yang masih memiliki lahan kosong tentu jadi keuntungan tersendiri bagi para investor untuk berinvestasi di sektor pertanian. Tanaman talas sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan pangan karena mempunyai potensi produksi talas cukup besar yaitu dapat mencapai 28 ton/ha, dengan investasi tanam yang lebih kecil dibandingkan membuka areal sawah padi karena tanaman talas dapat ditanam dibawah tegakan pohon (Sudomo & Aditya, 2017). Selain itu, dalam berinvestasi talas harus memperhatikan beberapa aspek mulai dari pemasaran produk talas, perizinan usaha,  manajemen kelayakan usaha, sumber daya manusia yang mengelola serta manajemen cashflow untuk menghasilkan produk-produk yang bernilai jual tinggi dan banyak diminati baik dalam pasar domestik maupun pasar internasional.

Investasi  Berdasarkan Budidaya Talas

Kemudahan dalam berinvestasi talas didasarkan atas budidayanya yang relatif gampang untuk dilakukan, tanaman talas dapat tumbuh optimal pada daerah yang beriklim basah dengan suhu berkisar antara 27-30,7°C dan dapat tumbuh dengan baik walaupun ternaungi. Pemeliharaan talas terbilang murah dengan hanya memperhatikan pemenuhan kebutuhan air dan kebersihan lahan yang bebas dari gulma dan hama penyakit (Susilawati et al, 2021). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upaya budidaya talas yaitu pembentukan asosiasi, mobilisasi gabungan-gabungan kelompok tani, dan peningkatan perdagangan pada berbagai lahan. Pembentukan kelompok tani yang khusus pembibitan, budidaya, pengolahan pasca panen sampai pemasaran (dalam dan luar negeri/ekspor) merupakan penataan dari hulu-hilir sesuai dengan GAP (good farming practice). Alhasil sebelum masa panen umbi talas sekitar delapan bulan, petani bisa memanen daun (mulai usia 4 hingga 8 bulan). Daunnya dimanfaatkan untuk tembakau non-nikotin. Limbah  daun bisa diolah menjadi pestisida nabati. Pelepahnya juga bernilai ekonomis, yakni pemanfaatan untuk maggot (bahan pakan ikan alternatif yang murah dan mudah) dari ulat BSF (Black Soldier Fly). Pengembangan sektor pertanian talas dapat mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan petani serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Investasi Talas di Kalimantan Barat

Investasi talas di Kalimantan Barat baru berupa produk olahan seperti tepung, kripik dan dodol. Sebagai produk olahan berupa tepung, talas memiliki komposisi nutrisi yang lebih baik daripada beras. Tepung talas memiliki manfaat bagi kesehatan dikarenakan tepung talas lebih banyak mengandung protein dan serat dibanding lemak sehingga dapat menjaga kesehatan pencernaan dan dapat digunakan sebagai bahan pengganti ASI (MP-ASI) (Skawanti JR & Kusumawardani Y, 2020). Bisnis ini memberikan kontribusi yang positif untuk menunjang perekonomian masyarakat, terlebih lagi masyarakat di Kuala Mandor. Misalnya, sudah mengembangkan produk olahan talas menjadi beberapa produk seperti kripik talas dan cookies talas yang memiliki nilai tambah yang signifikan sesuai dengan minat konsumen (Gunawan DH & Ridwan Salim, 2019).**

Penulis adalah mahasiswa S2 Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Editor : Misbahul Munir S
#Bahan Pangan #investasi #talas #Kementan #Masa Paceklik #Komoditas Ekspor #Pertanian Talas