PEMBELAJARAN adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di setiap aktivitas pendidikan terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam pola interaksi. Namun, faktor utamanya terletak pada pendidik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pemilihan strategi ataupun metode yang baik akan berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa di kelas. Hal tersebut bukan hanya berlaku pada pendidikan umum tetapi juga pada pendidikan agama seperti yang tercantum dalam peraturan pemerintah tentang pendidikan agama dan keagamaan, bahwa pendidikan agama diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi untuk sukses. Motivasi dalam pengajaran mengandung nilai-nilai yang sangat penting kaitannya dengan keberhasilan atau kegagalan belajar siswa, pengajaran yang bermotivasi menuntut kreativitas dan daya imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh untuk mencari cara yang relevan dan sesuai guna meningkatkan dan memelihara motivasi belajar siswa.
Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran dan fungsi sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Manusia merupakan satu-satunya makhluk Allah yang diberi karunia akal, dengan kekhususan tersebut, manusia diberikan kemampuan dalam menganalisis suatu hal dalam kehidupannya. Manusia tidak mungkin terlepas dari sejarah, karena sejarah merupakan cerminan dari kehidupan masa lalu manusia dan dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, serta manusia dapat belajar dan menganalisis kejadian-kejadian pada masa lalu. Sekaligus berfungsi sebagai acuan untuk lebih dapat memajukan Islam daripada sebelumnya.
Sejarah harus dilestarikan dan dipertahankan, sebab dengan melestarikan sejarah berarti ikut melestarikan identitas kelompok dan memperkuat kelangsungan hidup kelompok. Selain itu, belajar dari sejarah adalah tuntutan syariah Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-A’rãf ayat 176. “….maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
Sejarah bukanlah masa lalu yang mati, melainkan bagian dari peristiwa yang tetap hidup dan berulang di masa kini dan menjadi pelajaran bagi generasi sekarang. Dari sejarah seseorang dapat mengambil pelajaran penting untuk kehidupannya serta menambah ilmu pengetahuan.
Allah SWT memberikan keistimewaan bagi mereka yang beriman dan berilmu sebagaimana dalam QS: Al-Mujãdilah: 11. “....niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Selain itu dengan membaca sejarah, terutama sejarah hidup orang-orang shaleh dan mengenal sifat-sifat baik mereka, akan menumbuhkan rasa cinta kepada mereka karena Allah SWT, dan ini merupakan salah satu kesempurnaan iman. Sabda Rasulullah SAW, “Ada 3 sifat, barang siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman): menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api.” (HSR. Bukhari no. 16 dan 21 dan Muslim no. 43).
Sistem Pendidikan Islam diharapkan tidak saja sebagai penyangga nilai-nilai tetapi sekaligus sebagai penyeru pikiran-pikiran produktif dan berkolaborasi dengan kebutuhan zaman. Pendidikan Islam diharapkan tidak semata-mata memainkan peran sebagai pelayanan rohaniah saja, dengan fungsi yang sangat sempit dan suplementer, tetapi juga terlibat dan melibatkan diri di dalam pergaulan global (Imam dan Ahmad, 2004).
Pelaksanaan pendidikan harus berpedoman pada kurikulum yang berlaku. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, dijelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pendidikan di sekolah merupakan suatu proses mempengaruhi siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan dalam diri siswa. Pengajaran yang dilakukan oleh guru untuk mengarahkan proses perubahan tingkah laku siswa, agar sesuai dengan tingkat perkembangan psikis dan sosial. Perkembangan psikis meliputi perkembangan emosi, intelektual, dan bakat, serta perkembangan sosial yang meliputi perkembangan hubungan sosial, sikap, nilai, moral, bahasa, dan kepribadian yang dimiliki siswa.
Sejarah Pendidikan Islam dimulai sejak pertama kali Islam disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau dakwah fase Mekah. Pada masa ini masyarakat Arab dikenal dengan kaum jahili, kebodohan yang dimaksud tidak hanya pada moral tapi juga ilmu pengetahuan dalam Ahmad Amin (1965) bahwa hanya beberapa sebagian kaum atau kelompok di Arab yang bisa baca dan tulis di antaranya yaitu kaum Quraish sebagai bangsawan hanya memiliki 17 orang yang pandai tulis baca. Suku Aus dan Khazroj Penduduk Yatsrib (Madinah) hanya memiliki 11 orang yang pandai membaca.
Musyrifah Sunanto (2015) menambahkan bahwa kondisi bangsa Arab yang sedikit mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lain menyebabkan kehidupan mereka yang mengikuti hawa nafsu, berpecah-belah, saling berperang satu dengan yang lain karena sebab yang sepele, yang kuat menguasai yang lemah, wanita tidak ada harganya, berlakulah hukum rimba. Sedangkan keistimewaan mereka hanyalah ketinggian dalam bidang syair-syair Jahili yang disebarkan secara hafalan. Agama warisan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. hanya tinggal bekas-bekasnya yang telah diselewengkan.
Ketika Rasulullah SAW hadir dan diturunkan wahyu pertama yaitu QS. Al-Alaq ayat 1-5 mulailah Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar pendidikan Islam, Rasulullah juga mengajak kepada para sahabat untuk membaca dan menulis firman Allah SWT yang diturunkan baik ditulis dipelepah kurma, kulit unta dan media-media tradisional yang lain. Rasulullah mendirikan pusat kegiatan umat yang diberi nama Dar al-Arqam dirumah salah satu sahabat yang bernama Abu Al-Arqam. Hal ini menunjukan bahwa Rasulullah SAW berhasil membawa bangsa Arab yang jauh dari peradaban keilmuan menuju bangsa Arab yang cinta akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya adalah fase Madinah, setelah Nabi SAW Hijrah dibangun kuttab di emperan Masjid Nabawi (Musyrifah, 2015). Kuttab itu terus berlanjut dari generasi ke generasi sehingga pada abad II hijriah tersebar hampir di setiap desa di wilayah Islam (Mahmud Yunus, 1966). Sehingga ummat Islam menjadi ummat yang memasyarakatkan kepandaian tulis baca. Perkembangan pendidikan Islam mengalami perjalanan terus-menerus, sehingga tidak mungkin dapat dipisahkan antara satu periode dengan periode selanjutnya. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat kebutuhan umat Islam, sehingga diibaratkan bahwa pendidikan ini sebagai sebuah piramida (Suwito dan Fauzan, 2004).
Dalam perkembangannya, kejayaan Islam terbangun pada masa dinasti Ayyubiyah, dan Salahuddin sebagai tokoh pengukir kejayaan Islam pada masa itu. Pada masa Ayyubiyah yang kekuasaannya berpusat di Mesir wilayah Islam meluas hingga ke wilayah Afrika Utara, Nubia, Hijaz, Suriah Tengah dan Mesopotania (wilayah disekitar Irak dan Iran sekarang) (Ash-Shalabi, 2013).
Dinasti Ayyubiah disebut juga dinasti penakluk dalam jihad, karena dari penguasa pertamanya Salahuddin Al-Ayyubi hingga penguasa terakhir yaitu Turansyah sangat berperan dalam upaya mematahkan gempuran musuh di perang Salib. Andai saja tidak ada dinasti Ayyubiah yang menghalau gempuran Kristen-Eropa, Islam pasti sudah tercerabut dari bumi Syam, Jazirah Arab, Mesir dan Afrika Utara (Bosworth, 1993).
Berbicara tentang keberhasilan dalam pendidikan, maka tidak akan terlepas dari peran seorang guru, yaitu individu yang memiliki tugas membimbing belajar, sebagai model pemecah masalah, sebagai katalisator dalam memprakarsai proses belajar, sebagai membantu dalam proses belajar, sebagai teman siswa dalam mengkaji dan memecahkan masalah. Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan kegiatan pendidikan, karena guru merupakan tokoh yang memiliki multi peran dalam proses pendidikan baik sebagai pengajar, pendidik, motivator, maupun sebagai evaluator.
Guru yang berhasil dalam melaksanakan pembelajaran di kelas adalah guru yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Kemampuan berpikir diterjemahkan sebagai kemampuan siswa dalam menciptakan pengalaman belajar mandiri melalui aktivitas-aktivitas belajar. Siswa akan lebih mudah memahami suatu materi, ketika siswa belajar belajar melalui aktivitas-aktivitasnya sendiri. Pembelajaran merupakan salah satu indikator keaktifan belajar. Keaktifan siswa dalam pembelajaran meliputi keikutsertaan dalam melaksanakan tugas belajar, keterlibatan dalam pemecahan masalah, berusaha aktif dalam mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, melaksanakan diskusi kelompok, kemauan bertanya dan mengajukan pendapat.
Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar biasanya berupa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh serta akan meningkatkan kemampuan siswa. Berkaitan dengan hal tersebut. Apabila siswa aktif melaksanakan aktivitas-aktivitas dalam pembelajaran tentunya akan memperoleh banyak pengalaman sehingga hasil belajar meningkat.
Keterlibatan siswa ditekankan pada proses untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman serta keterampilan berdasarkan pengalaman belajar mandiri. Guru berperan untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan mendukung bagi terciptanya belajar yang bermakna. Dibutuhkan peran guru untuk memfasilitasi hal-hal tersebut. Guru berperan untuk menciptakan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan, karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis. Relevansinya dalam beberapa penelitian muncul pada pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan dengan adanya komunikasi dan interaksi dalam belajar kelompok. Peserta didik yang pandai dapat mengajari peserta didik yang kurang pandai sehingga kemampuan para peserta didik dapat merata.
Teori konstruktivisme mengajarkan bahwa belajar adalah proses aktif belajar dalam mengkonstruksi arti, wacana, dialog. Pengalaman fisik dalam proses belajar tersebut terjadi proses asimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudah dipelajari (Sugandi, 2007). Konsekuensi dari konsep belajar yang di kemukakan oleh Sugandi di atas adalah siswa dengan sungguh-sungguh membangun sendiri konsep pengetahuan dalam sudut pandang belajar bermakna, bukan hanya sekedar menghafal suatu materi pelajaran. Peran guru disini adalah membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan siswa berjalan lancar. Guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu yang dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Maksudnya adalah proses yang dialami siswa pada saat proses pembelajaran di kelas siswa aktif dan bersungguh-sungguh, sehingga proses belajar yang dialami siswa lebih bermakna.
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, metode pembelajaran memiliki peran yang sangat penting. Kualitas suatu pembelajaran akan sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan oleh guru. Guru harus dapat memilih dan menentukan metode yang tepat. Selain itu, metode yang digunakan juga harus disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari siswa. Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitar, terutama dalam berkomunikasi. Setelah dipelajari diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
SKI merupakan bagian dari pada Pendidikan Agama Islam (PAI) tentunya dalam pengajarannya guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan sistem belajar mengajar secara kreatif imajinatif, menguasai metode penyampaian yang mampu memotivasi siswa. Pengajaran SKI di Madrasah bertujuan untuk menumbuhkan kembangkan peserta didik dalam memahami secara mendalam peristiwa sejarah dan produk peradaban atau kebudayaan yang membawa kemajuan dan kejayaan Islam, sehingga tertanam nilai-nilai kepahlawanan, kepeloporan, kreativitas dan produktivitas serta menyiapkan mereka untuk mengikuti dan sekaligus berperan serta dalam perkembangan dunia Islam. Pembelajaran SKI tidak hanya menjangkau ranah pengetahuan teoritis saja, melainkan juga harus memberikan tatanan pada penghayatan dan kesadaran untuk bertindak (ranah afektif dan ranah psikomotorik). Peserta didik tidak hanya dituntut untuk mengetahui dan menghafal peristiwa-peristiwa penting, tetapi juga bisa meneladani perjuangan pejuang Islam dalam membela agama Islam (Muchtar, 2005).
Sebagai guru yang berkecimpung dibidang pendidikan, maka akan merasa tertantang untuk mencari alternatif sebagai bentuk model pembelajaran dengan kegiatan yang langsung mempraktikkan tentang kehidupan pada zaman masa Rasulullah SAW, sahabat nabi dan kekhalifahan-kekhalifahan Islam dengan menggunakan metode-model pembelajaran SKI. Dengan model-model pembelajaran ini diharapkan membantu mengaktifkan peserta didik, menumbuhkan semangat dan motivasi siswa serta meningkatkan hasil belajar peserta didik.**
Penulis adalah guru SKI MAN 1 Pontianak. Editor : Misbahul Munir S