Oleh: Syamsul Kurniawan
DALAM era digital yang mendominasi kehidupan kita saat ini, dunia maya telah menjadi medan pertempuran utama bagi berbagai wacana, termasuk di dalamnya wacana moderasi beragama dan ekstremisme.
Dunia maya, dengan segala kecepatan dan kapasitasnya untuk menyebarkan informasi, menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi upaya penyebaran nilai-nilai moderasi beragama. Namun, di balik semua itu, ada risiko-risiko tersembunyi yang dapat mengancam esensi moderasi itu sendiri.
Jean Baudrillard, dalam karyanya “Simulacra and Simulation” (1994), mengemukakan bahwa kita hidup di zaman di mana batas antara realitas dan representasi semakin kabur.
Menurutnya, kita tidak lagi hidup dalam realitas sejati melainkan dalam hiperrealitas, sebuah dunia yang dibentuk oleh simulasi dan representasi yang menggantikan realitas itu sendiri. Di dunia maya, konsep ini terlihat jelas ketika wacana moderasi beragama dan ekstremisme saling berhadapan.
Wacana moderasi beragama, dalam banyak hal, rentan menjadi simulakra di dunia maya. Artinya, nilai-nilai moderasi yang sebenarnya kompleks dan mendalam bukannya tidak mungkin tereduksi menjadi sekadar citra dan slogan yang disebarkan melalui media sosial. Moderasi yang ditampilkan di dunia maya sering kali hanyalah permukaan yang dipoles, tanpa substansi mendalam yang mampu menghadapi kompleksitas tantangan yang ada. Simulakra moderasi ini mungkin terlihat meyakinkan di permukaan, namun pada kenyataannya, ia dapat dengan mudah menjadi alat untuk melegitimasi tindakan yang tidak selalu mencerminkan nilai-nilai moderasi sejati.
Dalam konteks kontestasi ini, ekstremisme juga menggunakan strategi yang serupa. Kelompok-kelompok ekstremis menciptakan simulakra mereka sendiri, menggunakan narasi dan citra yang dirancang untuk menarik perhatian dan mempengaruhi persepsi publik. Hiperrealitas yang tercipta ini membuat batas antara moderasi dan ekstremisme menjadi semakin kabur, di mana keduanya berusaha “merebut ruang” dalam kesadaran publik melalui manipulasi simbol-simbol dan representasi digital.
Ruang Publik dan Dialog Rasional
Dalam hal ini, Jürgen Habermas, dalam “The Structural Transformation of the Public Sphere” (1991), menekankan pentingnya ruang publik yang rasional dan deliberatif. Di dalam ruang publik yang ideal menurut Habermas, dialog yang rasional dan terbuka memungkinkan terjadinya diskusi yang konstruktif dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada argumen yang terbaik. Namun, di dunia maya, ruang publik ini sering kali terfragmentasi menjadi "echo chambers" (ruang gema), di mana individu hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan keyakinan mereka sendiri.
Bagi kelompok-kelompok pengusung moderasi beragama, tantangan ini sangat nyata. Alih-alih membuka diri untuk dialog dengan pihak lain, termasuk dengan kelompok ekstremis, banyak dari mereka yang justru terjebak dalam ruang gema mereka sendiri. Di sini, moderasi beragama kehilangan esensi deliberatifnya, karena klaim-klaim moderasi hanya bergaung di kalangan yang sepaham, tanpa benar-benar diuji melalui dialog kritis dengan pihak lain. Hal ini, pada gilirannya, melemahkan posisi moderasi itu sendiri, karena ia tidak lagi menjadi proses yang dinamis dan reflektif, melainkan menjadi dogma yang statis dan tidak terbuka terhadap perubahan.
Kerentanan Menjadi Tidak Moderat
Salah satu risiko terbesar bagi kelompok pengusung moderasi beragama adalah kecenderungan untuk menjadi tidak moderat ketika mereka merasa paling moderat. Dalam “Moral Consciousness and Communicative Action” (1993), Habermas mengingatkan bahwa klaim atas kebenaran moral yang tidak terbuka terhadap kritik dan diskusi kritis dapat berujung pada dogmatisme. Ketika kelompok moderat merasa memiliki monopoli atas kebenaran dan moderasi, mereka cenderung mengabaikan kritik dan pandangan alternatif. Hal ini menciptakan pola pikir yang, ironisnya, tidak jauh berbeda dengan kelompok ekstremis yang mereka lawan.
Contoh nyata dari fenomena ini dapat ditemukan di berbagai platform media sosial, di mana para pengusung moderasi beragama sering kali terlibat dalam perang retorika yang sama sengitnya dengan kelompok ekstremis. Mereka saling menggunakan argumen yang tajam dan kadang-kadang saling menghina untuk membela posisi mereka, yang pada akhirnya menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk dialog yang sehat. Dalam situasi ini, moderasi beragama jelas akan kehilangan makna dan hanya menjadi label yang digunakan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya tidak moderat.
Jika ini yang terjadi, maka persepsi ruang publik tentang para pengusung moderasi beragama bisa bergeser. Tambahan lagi media, termasuk media sosial, membentuk dan memanipulasi realitas melalui simbol-simbol. Di dunia maya, moderasi beragama dan ekstremisme jelas sama-sama menggunakan simbol-simbol ini untuk mempengaruhi persepsi publik. Jangan sampai, moderasi beragama menjadi "hiperrealitas", di mana yang tampak sebagai dialog dan toleransi hanyalah permukaan yang menyembunyikan eksklusivitas dan intoleransi terselubung.
Dengan demikian, tidak pula selayaknya moderasi beragama yang tampak di media sosial menjadi bagian dari strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun citra tertentu, yang mana simbol-simbol moderasi digunakan untuk menarik perhatian dan membentuk opini publik, namun tanpa substansi yang mendalam.
Misalnya, kampanye-kampanye moderasi beragama yang viral di media sosial jangan sampai hanya menampilkan citra-citra yang menyejukkan dan pesan-pesan yang mudah dicerna, namun tanpa menyentuh akar masalah yang kompleks. Akibatnya, moderasi beragama menjadi rentan terhadap co-optation, di mana simbol-simbol moderasi digunakan untuk membungkam kritik dan membenarkan tindakan yang sebenarnya tidak moderat.
Menghadapi kontestasi ini, penting bagi kelompok pengusung moderasi beragama untuk tetap waspada terhadap jebakan simulakra dan dogmatisme. Moderasi sejati harus berakar pada kesediaan untuk mendengar, berdialog, dan menerima bahwa kebenaran bukanlah milik satu kelompok semata. Moderasi harus tetap dinamis dan reflektif, membuka diri terhadap kritik dan selalu siap untuk bertransformasi demi mencapai masyarakat yang lebih inklusif dan damai.
Sebagaimana Habermas menekankan, hanya melalui tindakan komunikatif yang jujur dan deliberatif, kita dapat membangun ruang publik yang benar-benar rasional dan inklusif. Dalam konteks dunia maya, ini berarti menciptakan ruang-ruang dialog dan perjumpaan yang memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan yang sehat dan konstruktif.
Kelompok pengusung moderasi beragama harus berani keluar dari zona nyaman mereka dan terlibat dalam “dialog yang jujur” dengan pihak-pihak yang berbeda pandangan, termasuk dengan kelompok ekstremis. Hanya dengan cara ini, moderasi beragama dapat menjadi kekuatan yang benar-benar efektif dalam menghadapi ekstremisme dan membangun masyarakat yang lebih toleran dan damai.**
*Penulis adalah Fasilitator dan Instruktur Nasional Moderasi Beragama.
Editor : A'an