Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Literasi Kepemimpinan Wajib bagi Pendidik

A'an • Kamis, 22 Agustus 2024 | 13:08 WIB
Gregorius Kukuh Nugroho CM, PhD
Gregorius Kukuh Nugroho CM, PhD

 

 

Oleh: Gregorius Kukuh Nugroho CM, PhD

 

SAYA akhirnya sadar bahwa selera musik saya tidak sama dengan selera para mahasiswa di tahun 2024 ini. Saya menyadari bahwa saya tidak mampu mengikuti perkembangan musik terkini, bahkan kebingungan saat lagu terpopuler di radio menyala. Bagaimana mungkin telinga saya tidak dapat menangkap keindahan tren musik terkini?

Seperti selera musik, tren dalam penelitian dan praktik dunia pendidikan bisa jadi sulit diikuti, terutama bagi para pendidik yang pasti sangat sibuk. Namun, jika kita tidak mengikuti perkembangan penelitian pendidikan terkini, kita mungkin akan bergantung pada informasi yang sudah ketinggalan zaman. Tentu saja jika kita mengandalkan apa yang berhasil bagi kita bertahun-tahun lalu untuk praktik pengajaran kita saat ini tidaklah mencukupi. Terlebih, hal semacam ini sangat penting berkaitan dengan penelitian literasi misalnya, karena kemampuan memahami makna tertulis memiliki dampak yang luas pada kehidupan siswa. Kita harus mengikuti perkembangan penelitian yang terbukti untuk memastikan siswa kita memiliki peluang terbaik untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Pendidik perlu terus belajar kurikulum misalnya. Perlu kita pahami tugas pendidik yang utama adalah menyiapkan siswa menghadapi masa depan. Melalui kurikulum, para pendidik berperan mengembangkan kemampuan siswa. Perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia terus terjadi dari waktu ke waktu, seiring dinamika sosial masyarakat. Kompetensi dan keterampilan siswa juga mengalami peningkatan berhadapan dengan tuntutan zaman. Dunia yang melesat juga menantang kreativitas para pendidik menemukan pendekatan terbaik untuk menggerakkan daya juang siswa di tengah perubahan cepat realitas sosial, ekonomi, dan teknologi. Sekali lagi, pendidik memiliki peran utama dalam membumikan kurikulum pengetahuan menjadi sarana terbaik siswa mengasah daya nalar kritis, memecahkan persoalan konkret sehari-hari sekaligus siap menghadapi dunia yang lebih luas. Pendidik menjadi lokomotif utama orkestrasi keterampilan kolaborasi, komunikasi dan soft skill lain sebagai karakter pembeda bagi siswa unggul dengan daya kemampuan sains yang mampu menembus dunia global. 

 

Tantangan Kepemimpinan Guru

Pendidik yang mumpuni tidak sekedar mendorong siswa menghafal teori belaka. Pendidik perlu mencari jalan untuk mampu menginspirasi siswa sehingga menumbuhkan harapan baru.

Linda Darling-Hammond (2024) mengingatkan pada pentingnya kemampuan kepemimpinan pendidik untuk menciptakan keberhasilan masa depan siswa. Pendidik adalah pemimpin bagi diri sekaligus berdampak besar bagi masa depan siswa. Setiap pendidik memiliki tugas penting-mereka harus mengembangkan diri sendiri sekaligus mengembangkan orang lain: siswa dan rekan sejawat. Harus kita akui, perlu perjuangan untuk menyediakan waktu berfokus pada pengembangan professional diri, terutama jika harus secara detail mengembangkan isi pengetahuan kepemimpinan kita. Para pendidik efektif tidak menghakimi keadaan, namun terbuka melihat potensi terpendam dan kemampuan sosial lingkungan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki relasi kuat dengan budaya sekolah dan lingkungan organisasi, praktik kepemimpinan instruksional serta kemampuan membangun lingkungan yang ramah dan budaya perbaikan berkelanjutan.

Kita bisa mengambil analogi kepemimpinan dari usia dan rentang kurikulum yang dipelajari. Menurut data usia rata-rata kepala sekolah (di Amerika) adalah 47 tahun, misalnya jika ini juga sama dengan Indonesia. Maka rata-rata kepala sekolah saat ini lulus kuliah dan mulai mengajar pada usia 23 tahun, mereka mulai mengajar pada tahun 2000. Pada saat mereka kuliah, pendidikan mengacu pada kurikulum kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 – kedua  kurikulum ini dibuat dari hasil kombinasi Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Kemudian setelah mereka menjadi guru, sepuluh tahun Kurikulum 1994 berjalan, kurikulum ini digantikan oleh Kurikulum Berbasis Kompetensi di tahun 2004. Sejak 2004 hingga kini, kurikulum berganti dan akan terus berganti di masa mendatang. Para guru yang saat ini menjadi kepala sekolah telah melihat pendekatan kurikulum yang tidak selalu berhasil untuk semua anak. Pendidik yang mumpuni tidak sekedar mendorong siswa menghafal teori belaka. Mereka mampu menginspirasi siswa sehingga menumbuhkan harapan baru. Sekaligus, para pemimpin pendidik ini memahami bahwa siswa memerlukan instruksional yang didasarkan pada pengembangan pengetahuan jamannya untuk menjadi unggul. Kemampuan pendekatan efektif terbaik, simple best practice, yang tepat sesuai dengan tempat menjadi keunggulan para pendidik yang mencintai pekerjaannya, sekaligus dicintai oleh siswanya. Mereka inilah yang menjadi guru dan pendidik efektif di lingkungan pendidikan kita saat ini.

Pendidik yang efektif sering kali dipilih untuk peran kepemimpinan sekolah. Saat para pemimpin pendidik ini memasuki fase baru dalam karier, mereka juga mengandalkan pengalaman yang ada untuk memimpin orang lain. Bahkan jika para pendidik terus mengembangkan pengetahuan, bukan tidak mungkin para pendidik ini menjadi pemimpin mumpuni yang mampu menembus kancah lebih tinggi dengan partisipasi pada lingkaran pengaruh lebih luas (kabupaten, kota, provinsi, nasional).  Sebagai pemimpin, tentu saja kita tahu: apa yang diajarkan kepada kita (kurikulum) dan apa yang kita gunakan (metode) di kelas kita mungkin tidak seperti yang sekarang dianggap sebagai pendekatan yang mutakhir untuk mengajar. Inilah yang mendorong kita terus belajar yang terbaik bagi siswa. Hal ini menuntun saya mengejar dengan pertanyaan: Jika kita tidak memiliki informasi yang cukup mutakhir, bagaimana kita bisa memimpin? Dan bagaimana jika tidak peduli untuk belajar terus menerus, tentu kita bisa saja kehilangan faktor-faktor penentu utama yang akan menjadi pendorong anak-anak belajar dengan baik melalui pelajaran yang kita ampu?

 

Pemimpin Pendidik, Investasikan Waktu dengan Pengembangan Diri

Pemimpin Pendidik sering kali menjadi pintu gerbang keberhasilan sekolah. Seperti yang dijelaskan Ernesto Ortiz, "Sebagai pemimpin pendidikan, kita adalah orang-orang yang memutuskan di mana dan bagaimana mengelola sumber daya, kemana uang dialokasikan dan dibelanjakan, dan kita mengarahkan corak untuk pendekatan pendidikan sekolah kita." Pemimpin dapat menjadi penggerak perubahan, tetapi tanpa pengetahuan mutakhir yang dibutuhkan untuk menjadi pengambil keputusan yang tepat dan kritis, kita akan mengecewakan siswa. Berinvestasi dalam pengembangan dan pembelajaran professional dapat menjadi katalisator perubahan yang dibutuhkan sistem pendidikan kita saat ini. Untuk itu kita semua para pendidik, dapat memulai, pertama, memperdalam pengetahuan konten literasi dan kepemimpinan yang terkait dengan tingkat instruksional mata pelajaran yang kita ampu. Kedua, berhubungan dengan pemimpin atau pakar literasi lain dan berdiskusi apa yang terbaru dari mereka. Jika mungkin mulailah berfokus pada kepemimpinan, undanglah narasumber kreatif ke sekolah untuk berbagi tentang peningkatan kemampuan siswa pada pelajaran yang kita ampu. Ketiga, hadiri pengembangan profesional bersama pendidik lain, karena berpegang belaka pada pengetahuan teoritis tingkat tinggi mungkin tidak cukup, tanpa mengembangkan dampak sosial kita.

Pendidik memiliki banyak sumber belajar untuk terus belajar. Ada banyak sumber daya tersedia untuk memperdalam pengetahuan pembelajaran yang saat ini terus berkembang. Perlu juga para pengurus musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) saling belajar satu sama lain, berbagi pengembangan diri. Pemimpin yang mengalokasikan sumber daya secara strategis, memprioritaskan pengembangan profesional yang berkelanjutan, dan mewujudkan prinsip-prinsip transformasional muncul sebagai arsitek perubahan, yang mendorong lingkungan yang mendukung keberhasilan sekolah. Pemimpin efektif mampu menyeimbangkan prioritas, mengelola perubahan, dan mengatasi kendala sumber daya dan menavigasi tantangan ini secara strategis. Justru simple best practice menjadi pendekatan holistik terhadap kepemimpinan pendidikan, yang menekankan kekuatan transformatif para pemimpin dalam membentuk keunggulan sekolah. Dengan mengenali tantangan, merangkul inovasi, dan memprioritaskan dampak positif perubahan, para pemangku kepentingan dapat secara kolektif mendorong lingkungan di mana sekolah menjadi agen perjalanan penemuan diri dan pembelajaran seumur hidup yang menggembirakan.

Dunia kita sedang mengarah pada literasi pembelajaran secara utuh. Di tengah gejolak dunia ekonomi, politik, sosial dan budaya, inilah saat tepat para pendidik terbuka pada dimensi kepemimpinan Pendidikan. Literasi kepemimpinan dan perubahan kurikulum semakin populer pada berita publik, menjadi topik utama diskusi pendidikan, dan mendorong perubahan legislatif. Para pendidik dapat meningkatkan kapasitas kepemimpinan dengan memperkuat pengetahuan kurikulum misalnya, seperti halnya menghadiri festival musik dapat memperluas cakrawala pengalaman bermusik. Dengan literasi kepemimpinan, para pendidik dapat semakin terbuka untuk meningkatkan kemampuan memberikan layanan terbaik kepada siswa, daripada terpaku pada metode dekade lalu dan memperdengarkan musik "hafalan masa lalu" berulang-ulang.**

 

*Penulis adalah Pembina Yayasan Lazaris; Pengelola SMP Katolik Bukit Raya, Nanga Serawai, Sintang yang memperoleh MSEd (St. John’s University, New York) dan PhD (Niagara University, New York) bidang keahlian Kepemimpinan Strategis Pendidikan.

Editor : A'an
#pendidik #pendidikan #Leadership