Oleh: Samuel, S.E., M.M.*
DI SEKURA, Kabupaten Sambas, terdapat pepatah Hakka yang mengajarkan,“Sam Nyian Jit ka Oi Hok Khin, Sam Nyit Jitka tet pian lansie.” Artinya, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk menjadi rajin, tetapi hanya dalam tiga hari seseorang bisa menjadi pemalas.
Pepatah ini menggarisbawahi pentingnya konsistensi dan etos kerja dalam mencapai keberhasilan, dan dalam konteks sejarah Hakka di Kalimantan Barat, filosofi ini mencerminkan perjalanan panjang dan perjuangan bangsa Tionghua dalam menyusun kehidupan baru di tanah yang asing.
Orang Hakka adalah salah satu kelompok etnis dalam bangsa Tionghua yang memiliki sejarah panjang. Mereka berasal dari Lembah Sungai Kuning pada zaman dinasti Tang dan Sung.
Melarikan diri dari bencana alam dan perang, mereka menyebar ke daerah-daerah selatan seperti Fujian, Guangdong, dan Jiangxi sebelum akhirnya menyebar ke luar negeri. Julukan “Hakka” sendiri berasal dari istilah yang diberikan oleh orang Guandong, yang berarti "keluarga pendatang."
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Hakka adalah Lo Fong Pak, yang terkenal tidak hanya sebagai guru, sastrawan, dan praktisi bela diri, tetapi juga sebagai seorang strategi ulung.
Menghadapi kesulitan dalam ujian negara di Kekaisaran Qing, Lo Fong Pak akhirnya memutuskan untuk mencari fortuna di Borneo (sekarang Kalimantan) yang dikenal dengan sebutan "Gunung Emas." Keberaniannya untuk meninggalkan kampung halaman dan mengikuti 100 kerabatnya menuju Borneo adalah bagian dari pencariannya yang penuh risiko dan harapan.
Kontribusi Lo Fong Pak dan Legacy-nya
Lo Fong Pak menetap di Kalimantan Barat dan memainkan peran penting dalam sejarah regional. Melalui kepemimpinannya, Kongsi Lan-Fong Mandor memulai perjalanan yang berjangka panjang dari 1777 hingga 1884.
Selama periode ini, ia menerapkan strategi yang sangat berbeda dari apa yang mungkin diharapkan. Tidak mengandalkan kekerasan, Lo Fong Pak menggunakan pendekatan ‘diplomatik’ dan ‘intelektual’ untuk membangun fondasi kekuatan dan kehadiran turunan Tionghua di wilayah Borneo.
Belajar bahasa setempat, melakukan pemetaan wilayah, dan mengembangkan kemampuan negosiasi adalah beberapa taktik yang ia gunakan untuk mendukung kesultanan Pontianak. Keberhasilan manajemen strategi-nya tercermin dalam perkembangan komunitas Tionghua di Pontianak dan sekitarnya, yang dapat kita lihat hingga hari ini.
Pentingnya Pemetaan dan Refleksi untuk Masa Kini
Dalam konteks modern, pelajaran dari Lo Fong Pak masih relevan. Manajemen strategi yang melibatkan ‘pemetaan’ masalah secara menyeluruh dan rencana cadangan untuk mengatasi kegagalan adalah pelajaran berharga bagi setiap upaya perencanaan—baik dalam bisnis, politik, atau kehidupan pribadi. Kemampuan untuk melihat gambaran besar dan merancang taktik-taktik kecil yang mendukung rencana utama adalah kunci untuk mengatasi tantangan dengan sukses.
Pepatah Hakka yang terkenal di Sekura mengingatkan kita tentang pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam mencapai tujuan. Filosofi ini bukan hanya sekadar nasihat bagi generasi muda, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai-nilai yang membentuk perjalanan sejarah Hakka di Kalimantan Barat.
Dengan memahami konteks sejarah dan strategi yang digunakan oleh tokoh-tokoh seperti Lo Fong Pak, kita dapat lebih menghargai kontribusi mereka terhadap perkembangan kawasan ini dan mengaplikasikan pelajaran tersebut dalam upaya kita sendiri hari ini.
Dalam menghadapi tantangan zaman modern, baik individu maupun komunitas harus terus belajar dari pengalaman masa lalu dan menerapkan strategi yang bijaksana untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Filosofi kerja keras dan perencanaan yang matang adalah kunci untuk sukses, sebuah pelajaran berharga dari pepatah Hakka dan strategi cerdas Lo Fong Pak. Semoga!**
*Penulis adalah dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Graha Arta Khatulistiwa Pontianak dan
Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak.
Editor : A'an