Oleh: Syabarruddin, M.Pd*
MAKNA kebahagiaan bagi setiap individu merupakan konsep yang beragam. Istilah yang sering kita baca dan viral di media sosial, bahagia itu sederhana. Setiap makhluk memiliki definisi tersendiri untuk memaknai kebahagiaan.
Tentu dari sudut pandang mereka, dengan cara mereka, meski pada hal yang sangat simpel dan sederhana menurut kita. Namun, terkhusus bagi seorang guru, kebahagiaan memiliki makna yang mendalam dan unik.
Menyandang panggilan Pak atau Bu Guru, berprofesi sebagai guru bukan hanya sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan jiwa. Di dalamnya terhimpun dedikasi, komitmen, dan kesabaran yang luar biasa.
Dalam setiap langkahnya, guru selalu mengedepankan kepentingan anak didik tercinta. Bahkan, terkadang melebihi kepentingan pribadi mereka sendiri. Anda mesti yakin dan percaya akan hal itu.
Apa yang sebenarnya membuat guru bahagia? Bagi seorang guru, kebahagiaan pertama adalah dari proses mengajar itu sendiri. Tatkala guru memasuki ruang kelas, ada harapan besar yang mereka panggul, ada keinginan mulia yang tersimpan di dada mereka, bahwa ilmu yang akan mereka sampaikan dapat bermanfaat untuk murid tercinta yang akan ditemuinya hari itu.
Ditambah lagi, ketika kegiatan pembelajaran di kelas hidup, siswa terlibat aktif, bertanya, berdiskusi, dan menunjukkan minat pada pelajaran. Maka, senyum simpul kebahagiaan akan tampak pada wajahnya.
Kelas-kelas dengan energi positif ini tentu akan menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Upaya maksimal guru untuk membuat materi pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan telah berhasil dan direspons dengan baik oleh murid-murid tercintanya.
Kedua, sumber kebahagiaan guru bisa dilihat pada pendampingannya terhadap perkembangan personal siswa. Meski memiliki ‘anak’ yang banyak pada setiap tingkatan kelas, guru punya kemampuan khusus memantau kemajuan-kemajuan kecil siswa, baik dalam perkembangan akademik maupun sikap mereka. Tengoklah ketika para guru menyaksikan anak didiknya yang dahulunya pemalu, kini menjadi lebih percaya diri.
Muridnya yang tadinya terlalu ‘aktif’ dan sulit fokus, kini menunjukkan sikap yang lebih baik dan antusias dalam belajar. Lagi-lagi, kepuasan batin bernama kebahagiaan itu merupakan kemenangan emosional bagi seorang guru. Kemajuan seperti ini memberikan secuil kebahagiaan yang mendalam. Seorang guru paham betul bahwa peran utama mereka mereka adalah membentuk pribadi siswa yang lebih baik. Itu harapan para orang tua saat menitipkan anaknya ke institusi sekolah.
Ketiga, guru akan sangat teramat bahagia akan berhasilnya hubungan jangka panjang yang mereka bangun dengan siswa. Setelah lulus di kelas 6, kelas 9, kelas 12 bahkan lulus kuliah, ada kebahagiaan tak terperi, unik, tak tergambarkan, ketika siswanya datang untuk memberi salam takzim, mengucapkan terima kasih atas ilmu yang diberikan.
Di zaman ini, ketika seorang siswa mengirim pesan singkat lewat chat whatsapp, mengunggah di media sosial mereka, menandai Bapak Ibu guru mereka. Sekadar untuk mengingat kembali momen-momen tak terlupakan kala di kelas, dan menceritakan bagaimana pelajaran atau nasihat guru telah mempengaruhi hidup mereka secara positif.
Hubungan seperti inilah yang dapat menunjukkan pengaruh positif yang dimiliki seorang guru dalam kehidupan murid-muridnya yang telah lulus. Atas dasar itulah yang kemudian membuat profesi guru begitu mengesankan dan memuaskan. Kebahagiaan ini datang bertahun-tahun setelah proses mengajar selesai, ketika siswa-siswanya yang sukses dalam kariernya menghubungi gurunya hanya untuk mengucapkan terima kasih.
Keempat, bahagianya guru juga muncul dari rasa kebersamaan sesama rekan kerja. Dalam proses mendidik siswa, guru tidak bisa bekerja sendirian. Secara individu, ia merupakan bagian dari komunitas perubahan yang lebih besar. Dalam kolaborasi dengan sesama rekan kerja, mereka bisa berbagi cerita, ide, gagasan, solusi atas tantangan, keberhasilan, dan inovasi dalam proses pengajaran.
Diskusi yang membangun dan inspiratif dengan sesama guru akan memberikan rasa kebahagiaan, karena rasa kebersamaan dan saling dukung sesama rekan profesi. Cerita-cerita seru di ruang guru saat berbagi pengalaman dalam mengajar, terutama ketika menemui tantangan-tantangan pendidikan yang terasa begitu berat di zaman ini. Di sinilah ikatan yang solid antara guru memberikan dukungan untuk terus memberikan yang terbaik untuk anak didik. Kesabaran dan senyum penuh motivasi, akan menambah kebahagiaan secara kolektif.
Kelima, kebahagiaan kecil dari guru juga bisa datang dari rasa puas ketika mereka berhasil menguasai keterampilan baru atau ketika metode yang mereka coba berhasil meningkatkan minat belajar siswa. Guru-guru ini merasa bahagia karena mereka tidak stagnan; para guru berikhtiar untuk terus berkembang, berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman dalam karier mereka. Menjalani pekerjaan sebagai pendidik, tidak hanya siswa yang belajar, tetapi guru juga harus selalu dan terus belajar.
Adanya perubahan kurikulum, perkembangan teknologi pendidikan yang cepat, dan tantangan baru dalam metode pengajaran, memaksa guru untuk mengikuti arus perubahan dan berupaya mengembangkan kompetensi diri.
Akhirnya, kebahagiaan seorang guru adalah cerminan dari kebahagiaan anak didik mereka. Saat siswa berhasil dalam capaian-capaian pembelajaran mereka, tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan cerdas, itulah puncak kebahagiaan seorang guru.
Itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagiaan itu dirasakan dalam hati para guru, sebagai kepuasan atas pengabdian mereka terhadap pendidikan. Kebahagiaan ini akan terus bertahan, sangat lama.
Karena para guru paham betul akan kontribusi mereka sebagai pendidik. Meskipun mungkin tidak selalu terlihat secara kasat mata,tapi telah menanamkan benih yang akan tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan anak didik mereka tercinta. Teruslah bahagia Bapak Ibu Guru!**
*Penulis adalah guru matematika MAN 3 Pontianak.
Editor : A'an