Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Potensi dan Upaya UMKM Kalbar Menembus Pangsa Ekspor

A'an • Selasa, 3 September 2024 | 14:11 WIB
Soependi, S.Si, MA
Soependi, S.Si, MA

 

Oleh: Soependi, S.Si, MA*

 

BERDASARKAN data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM (Usaha Mikro Kecil, dan Menengah) saat ini lebih dari 66 juta  pelaku usaha mikro.

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian indonesia meliputi kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada, serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi.

Dari angka di atas, terlihat bahwa Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena masifnya kegiatan UMKM, terutama di sektor mikro, menjadi wadah penyerap tenaga kerja.

Selain itu, tidak sedikit dari produk UMKM di tanah air yang sudah mampu bersaing di kancah internasional sehingga kegiatan ekspor pun semakin sering dilakukan oleh para pelaku usaha.

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan kontribusi mencapai 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja, UMKM memainkan peran yang sangat vital dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tantangan global dan domestik, UMKM diharapkan dapat beradaptasi dan berinovasi untuk tetap bertahan dan berkembang.

Hanya 15,7 persen UMKM di Indonesia yang masuk ke pasar ekspor sehingga menjadi pekerjaan besar untuk kita meningkatkan jumlah tersebut (Presiden Joko Widodo).

Kolaborasi dan inovasi adalah kunci utama bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Dengan bekerja sama dengan ritel modern dan marketplace dapat membantu UMKM meningkatkan akses pemasaran produk mereka di dalam negeri.

"Inovasi juga sangat penting agar UMKM tetap kompetitif di pasar global,” ujar Jerry Sambuaga, Wamen Perdagangan, dalam Sampoerna Festival UMKM 2024 di Jakarta pada 25 Agustus 2024.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan produk-produk lokal Indonesia bisa lebih dikenal dan diterima baik di pasar nasional maupun internasional.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, terdapat sekitar 4,33 juta industri mikro dan kecil (IMK) di Indonesia. Ada Lima sektor utama yang didominasi oleh UMKM adalah makanan, barang kain, industri pakaian, tekstil, dan industri pengolahan.

Menurut survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia, sekitar 22,05 persen UMKM tidak mengalami dampak signifikan dari pandemic. Sebab, 32,4 persen UMKM sudah melakukan transaksi atau berjualan secara daring, ini menunjukkan adanya ketahanan di sektor tertentu (Survei BI, 2021).

Digitalisasi pembayaran dan keuangan telah menjadi salah satu faktor yang menyelamatkan perekonomian nasional selama pandemi. Banyak UMKM yang mulai beralih ke sistem pembayaran digital untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas jangkauan pasar.

Pada Triwulan II 2024, Indeks Bisnis UMKM mengalami peningkatan signifikan dari 102,9 menjadi 109,9. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam ekspansi bisnis UMKM. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mempublikasikan Indeks Bisnis UMKM yang menunjukkan tren positif dalam ekspansi bisnis.

Pelaku UMKM menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap kondisi ekonomi dan sektor usaha dalam tiga bulan mendatang. Kepercayaan ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM yang berada di level 130,5, jauh di atas angka 100, menunjukkan harapan yang kuat untuk perbaikan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi penyalur kredit terbesar untuk segmen UMKM, dengan total penyaluran mencapai Rp1.095,64 triliun hingga akhir Juni 2024.

Ini setara dengan 81,69 persen dari total penyaluran kredit BRI, yang terdiri dari segmen mikro sebesar Rp623 triliun, segmen kecil Rp232,3 triliun, segmen konsumer Rp198,8 triliun, dan segmen menengah Rp41,5 triliun. (Direktur Bisnis Mikro BRI Supari, Media Antara).

Pertumbuhan UMKM didorong oleh beberapa faktor, termasuk Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang meningkatkan permintaan, kondisi cuaca yang membaik, serta panen raya yang mendukung sektor pertanian.

Secara keseluruhan, pertumbuhan UMKM di Indonesia menunjukkan optimisme dan potensi yang kuat, didukung oleh penyaluran kredit yang signifikan dan kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional.

Meredanya kondisi El-Nino dan adanya panen raya tanaman pangan yang meningkatkan kinerja sektor pertanian. Hal ini memberikan efek positif (spillover effects) terhadap sektor-sektor lain, termasuk UMKM.

UMKM di Kalimantan Barat

Total Volume Ekspor pada tahun 2021 sebesar 1.872 juta US$, sedangkan pada tahun 2022 mencapai 2.451 juta US$. Dari data tersebut, terlihat bahwa volume ekspor Kalimantan Barat mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2021 ke 2022, dengan total volume ekspor meningkat sekitar 30,9 persen.

Peningkatan ini menunjukkan tren positif dalam kegiatan ekspor dari Kalimantan Barat, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan permintaan dari negara tujuan dan keberhasilan pelaku usaha dalam memasarkan produk mereka. Jika  hitungan kasar 15 persen  maka potensi Eksport UMKM Kalbar  telah mencapai 367,7 juta US$. Jika 1 US$ setara Rp.14.536,00 maka setara dengan Rp.5.334 Milyar.

Pada tahun 2022, komoditi utama yang diekspor oleh Kalbar meliputi berbagai produk, dengan sebagian besar berasal dari provinsi tersebut. Beberapa komoditi utama yang diekspor antara lain produk pertanian termasuk hasil pertanian seperti kelapa sawit, karet, dan produk hortikultura.

Ada juga hasil perikanan berupa produk perikanan juga menjadi bagian penting dari ekspor, serta barang tambang seperti batu bara dan mineral lainnya. Sedangkan komoditi utama yang diekspor menurut Kode Harmonized System (HS) 2 digit adalah ekspor bahan kimia anorganik (HS28 sebanyak 31,09 persen, lemak & minyak hewan/nabati (HS15) sebanyak 30 persen, bijih, kerak, dan abu logam (HS26) 23,35 persen, karet dan barang dari karet (HS40) 5,04 persen, kayu dan barang dari kayu (HS44) 4,19 persen, ampas/sisa industri makanan (HS23) 1,63 persen.

Lalu jika dilihat negara tujuan utama ekspor Kalimantan Barat antara lain Tiongkok  33,53 persen, India 28,09 persen, Malaysia 13,55 persen, Pakistan 6,51 persen, Jepang 5,81 persen, dan kategori negara lainnya 12,52 persen. Data ini menunjukkan bahwa Tiongkok dan India merupakan dua negara tujuan utama bagi ekspor dari Kalimantan Barat, dengan kontribusi yang signifikan terhadap total nilai ekspor.

Menurut laporan perkembangan UMKM, Dinas Koperasi UKM, Nov 2023, persentase UMKM berdasarkan KBLI 2020 Dari 58.621 UMKM yang telah Ber-NIB Tahun 2023 antara lain; pertanian, kehutanan dan perikanan (11,43 persen), industri pengolahan (23,79 persen), konstruksi (34,72 persen), perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor (10,16 persen), penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum (6,89 persen), dan lainnya 13,01 persen.

Data mengenai jumlah UMKM di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Secara keseluruhan, terdapat 225.713 UMKM yang terbagi menjadi tiga kategori yakni mikro, kecil, dan menengah. Kabupaten Sambas memiliki jumlah UMKM terbanyak dengan total 22.037 usaha, di mana sebagian besar adalah usaha mikro (17.642). Sementara itu, Kota Pontianak juga menunjukkan angka yang signifikan dengan 43.247 UMKM, di mana 41.083 di antaranya adalah usaha mikro.

Kota Pontianak mencatat persentase tertinggi dari total UMKM, yaitu 19,16 persen, diikuti oleh Kabupaten Landak dengan 15,57 persen, Kota Singkawang dengan 10,86 persen, dan Kabupaten Sambas 9,76 persen. Di sisi lain, Kabupaten Sanggau dan Melawi memiliki persentase UMKM yang lebih rendah, masing-masing hanya 2,05 persen dan 2,02 persen.

Secara keseluruhan, mayoritas UMKM di Kalimantan Barat adalah usaha mikro, yang mencapai 85,85 persen dari total. Usaha kecil menyusul dengan 12,77 persen, sedangkan usaha menengah hanya berkontribusi 1,38 persen dari total UMKM. Ini menunjukkan bahwa sektor mikro mendominasi perekonomian lokal, dan ada potensi besar untuk pengembangan usaha kecil dan menengah.

Berdasarkan pelabuhan muatnya. Dari data 2022 yang ada, Kota Pontianak menjadi bintang utama dengan kontribusi yang sangat besar, mencapai 58,30 persen dari total nilai ekspor. Ini menunjukkan betapa pentingnya Pontianak sebagai pusat perdagangan di provinsi ini.

Selanjutnya, kita juga melihat Kabupaten Ketapang yang melalui pelabuhan Kendawangan memberikan kontribusi sebesar 37,73 persen. Ini adalah angka yang cukup signifikan, menunjukkan bahwa Kendawangan juga berperan penting dalam kegiatan ekspor. Namun, pelabuhan Ketapang K. Barat hanya menyumbang 0,27 persen, yang menunjukkan bahwa kontribusinya masih kecil dibandingkan dengan Kendawangan.

Dari Kabupaten Kayong Utara, melalui pelabuhan Telok Melano menyumbang 2,94 persen dari total ekspor. Meskipun tidak sebesar Pontianak atau Kendawangan, angka ini tetap menunjukkan bahwa Kayong Utara memiliki potensi dalam perdagangan luar negeri. Kabupaten Bengkayang juga ikut berpartisipasi, dengan pelabuhan Jagoibabang memberikan kontribusi sebesar 0,49 persen dan pelabuhan Bengkayang hanya 0,01 persen.

Sementara itu, dari Kabupaten Sanggau,  melalui pelabuhan Entikong menyumbang 0,15 persen, dan terakhir Kabupaten Kubu Raya melalui Supadio (U) hanya memberikan kontribusi sebesar 0,02 persen. Data ini menunjukkan bahwa Kalimantan Barat memiliki berbagai pelabuhan yang berperan dalam kegiatan ekspor. Setiap daerah memiliki potensi yang bisa terus dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi provinsi Kalbar.

Mengembangkan sektor pariwisata di Kalimantan Barat dapat memberikan sinergi peluang bagi UMKM, terutama di sektor kuliner dan kerajinan tangan. Promosi produk lokal kepada wisatawan dapat meningkatkan pendapatan UMKM. Mendorong UMKM untuk membentuk jaringan atau asosiasi yang dapat saling mendukung dalam berbagi informasi, pengalaman, dan sumber daya.

Sayangnya, masih banyak UMKM yang terkendala untuk melakukan ekspor. Termasuk di antara kendala yang dihadapi adalah kurangnya informasi pasar, juga kurangnya pemahaman atas proses bisnis ekspor, pelatihan, pameran, dan pemasaran. Padahal, di saat yang sama, terdapat banyak instansi pemerintah yang memiliki program kerja untuk UMKM.**

 

*Penulis adalah Ketua Tim IPEK BPS Provinsi Kalimantan Barat; Statistisi Ahli Madya.

Editor : A'an
#UMKM #upaya #pangsa ekspor #menembus #potensi