Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menghidupkan Budaya Peduli

A'an • Rabu, 4 September 2024 | 15:20 WIB

Romo Gregorius Nyaming, Pr
Romo Gregorius Nyaming, Pr
 

Oleh: Romo Gregorius Nyaming, Pr

 

 

SAYA hendak mengawali tulisan ini dengan mengangkat kisah tentang Edi yang beritanya pernah dimuat dalam media nasional edisi pada 5 Februari 2022. Edi dalam kesehariannya bekerja sebagai seorang sopir truk.

Suatu hari dengan truknya itu dia membawa lele dari Cirebon. Karena mengantuk, truk yang ia bawa menabrak pohon lalu terguling ke sawah. Lele yang ia bawa pun jatuh berhamburan ke area sawah.

Warga sekitar yang melihat peristiwa tersebut bukannya menolong, tapi malah berebut menjarah lele-lele miliknya. Menyaksikan warga yang menjarah lelenya itu, Edi hanya bisa duduk sambil menangis histeris. Mirisnya lagi, tak ada satu pun warga yang datang menghampiri untuk menghibur dan menenangkannya.

Tidak adanya sikap peduli terhadap sesama yang sedang tertimpa musibah, itulah kiranya hal paling kentara yang dapat kita lihat dari peristiwa yang menimpa saudara kita Edi.

Sebagai masyarakat yang hidup di sebuah negara yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, tentu sukar bagi kita membayangkan bagaimana warga sekitar tidak membantu, tapi justru menjarah lele yang Edi bawa.

Ingatan akan pengalaman getir yang menimpa Edi menyertai langkah kita dalam menyambut  kehadiran Paus Fransiskus di tanah air pada tanggal 3-6 September 2024. Kehadiran sosok paus yang rendah hati dan bersahaja ini tentu akan menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Kedatangan Bapa Suci tentu bukan hanya untuk umat Katolik di Indonesia, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran beliau sudah selayaknya menjadi suka cita seluruh anak bangsa. Kedatangan Bapa Suci ke tanah air adalah anugerah bukan hanya untuk umat Katolik di Indonesia, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Kedatangan Bapa Suci memang merupakan anugerah terindah bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, tidak cukup rasanya bila kita melihatnya hanya sebatas anugerah. Anugerah itu sekaligus juga adalah tugas perutusan.

Pertanyaannya, apa tugas perutusan yang Paus Fransiskus kehendaki untuk kita laksanakan bersama? Tugas itu ialah apa yang selalu dan tak pernah lelah beliau serukan: hidup bersama dalam kasih dan damai, dalam persaudaraan dan solidaritas, menghormati perbedaan, saling mendukung dan peduli satu sama lain.

Dari semua tugas itu, dengan menengok kembali pengalaman pahit yang menimpa saudara kita Edi, hidup saling peduli kiranya relevan untuk kita angkat sebagai bahan permenungan kita bersama dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara.

Masih maraknya kasus korupsi, ada pejabat dan keluarganya yang bergaya hidup mewah (flexing) sementara masih banyak rakyat yang menderita kelaparan, adalah contoh lain yang menjadikan tema itu relevan bagi hidup bersama kita.

Aku adalah Penjaga Sesamaku

Sebagai manusia, kita dikatakan sebagai makhluk sosial (homo socius). Hakikat ini mau menegaskan bahwa sebagai manusia kita ingin selalu hidup bersama dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagai manusia, kita bukanlah makhluk yang tertutup bagi diri sendiri.

Manusia tidak dapat hidup dari dan untuk dirinya sendiri. Dengan hidup bersama orang lain, manusia dipanggil untuk menjadi sesama bagi orang lain dengan saling menolong, menjaga dan melindungi satu sama lain. Solider dan berbelas kasih dengan sesama yang menderita dan berkekurangan.

Karena demikian adanya hakikat kita manusia, maka sikap tidak peduli terhadap saudara Edi mengundang kita untuk bertanya, sungguhkah aku menjadi penjaga sesamaku? Apakah aku penjaga saudaraku? Pertanyaan ini kiranya semakin relevan bila kita menyaksikan konflik dan peperangan di belahan dunia lain yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Manusia sepertinya tidak sedang menjadi sesama bagi manusia yang lain, tapi malah menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

Mendengar pertanyaan, “Apakah aku penjaga saudaraku?” Ingatan saya langsung tertuju pada kisah Kain dan Habel dalam Kitab Kejadian bab empat ayat satu sampai dengan enam belas. Kata-kata itu keluar dari mulut Kain ketika ditanya oleh Tuhan, “Di mana Habel, adikmu itu?”

Jawaban lengkap yang Kain berikan, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Tuhan bertanya demikian kepada Kain bukan karena Habel tersesat dan hilang saat mereka sedang bermain di luar rumah, lalu meminta Kain untuk mencari adiknya. Pertanyaan itu Tuhan ajukan untuk meminta pertanggungjawaban Kain, yang semestinya menjadi penjaga dan pelindung, namun sampai hati menghilangkan nyawa adik kandungnya sendiri.

Mengapa Kain sampai hati membunuh adik kandungnya sendiri? Semuanya bermula ketika mereka mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Kain, yang adalah seorang petani, mempersembahkan kepada Tuhan sebagian dari hasil tanahnya.

Begitu juga dengan Habel, seorang gembala kambing domba, mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya. Singkat cerita, Habel dan korban persembahannnya diindahkan oleh Tuhan. Sedangkan Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya.

Melihat korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan, hati Kain pun menjadi panas. Ia lalu mengajak Habel untuk pergi ke padang. Ketika mereka sudah sampai di padang, tiba-tiba ia memukul Habel, lalu membunuhnya. Kepada Kain yang telah membunuh adiknya itu, Tuhan berfirman, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.

Dengan bertanya kepada Kain, “Di mana Habel, adikmu itu?”.

Tuhan tidak meminta dia untuk sibuk melihat keluar guna mencari jawab di luar dirinya. Sebaliknya, Tuhan meminta Kain untuk masuk ke dalam dirinya. Bertanya kepada diri sendiri mengapa sampai hati membinasakan saudara kandung sendiri. Sama seperti Kain, masing-masing kita pun sesungguhnya diminta untuk menengok ke dalam diri dan bertanya mengapa konflik, perang, kerusakan lingkungan, ketidakpedulian dan penindasan terhadap martabat hidup manusia masih saja terjadi?

Persoalannya, relakah manusia mendakwa dirinya sendiri? Tidakkah permainan saling menyalahkan yang kerap kita saksikan dalam realitas hidup harian kita? Jawaban tegas Kain, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga saudaraku?”. Nampaknya menjadi cerminan dari sikap kita manusia yang kerap kali menolak untuk bertanggung jawab atas melimpahnya penderitaan, ketidakadilan sosial, kerusakan alam dan sebagainya. 

Hidup Peduli dengan Orang Lain adalah Kodrat kita sebagai Manusia

Mengapa kita hidup harus peduli dengan orang lain? Karena memang itulah yang menjadi jati diri kita sebagai manusia. Dari Kitab Kejadian kita mengetahui bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan manusia tidak diciptakan seorang diri. Allah menciptakan mereka laki-laki dan perempuan (Kej 1:27). 

Konsili Vatikan II dalam dokumen Gaudium et Spes mengajarkan bahwa dengan diciptakannya manusia, laki-laki dan perempuan, hendak menandaskan bahwa dari kodratnya yang terdalam, manusia bersifat sosial; dan ia tidak dapat hidup tanpa berhubungan dengan sesama (Gaudium et Spes, 12).

Hidup dalam hubungan dengan orang lain menuntut sikap hidup yang terbuka bagi kebutuhan dan penderitaan sesama. Sebab, manusia tidak dapat menemukan diri sepenuhnya tanpa dengan sepenuh hati memberikan dirinya (Gaudium et Spes, 24).

Kerelaan untuk hidup bagi orang lain mengalir dari iman kita kepada Allah yang telah menciptakan manusia, alam semesta beserta dengan isinya. Hal ini ditegaskan oleh Paus Fransiskus dan Sheikh Ahmed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, dalam dokumen yang dikenal dengan Dokumen Abu Dhabi.

Di dalam pendahuluan dari dokumen itu dikatakan bahwa melalui iman kepada Allah Pencipta, orang beriman dipanggil untuk mengungkapkan persaudaraan dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan.

Teladan Paus Fransiskus Menjadi Pemimpin itu Peduli dan Melayani Sesama

Paus Fransiskus adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Kita barangkali akan membayangkan kalau Bapa Suci hidup dalam segala kemewahan dengan menduduki jabatan tersebut. Namun bila kita melihat lebih dekat keseharian hidup beliau, apa yang kita bayangkan itu akan segera runtuh. Paus Fransiskus adalah pribadi yang sederhana. Dengan menolak untuk tinggal di istana kepausan adalah salah satu contoh nyata kalau beliau sungguh hidup dalam kesederhanaan. Dengan kesederhanaannya itu, Paus Fransiskus menghayati dengan sungguh sabda Tuhan ini: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20:26-27).

Teladan hidup Paus Fransiskus ini menghantar kita pada poin penting lain dari refleksi kita atas kehadiran beliau di tanah air. Poin tersebut ialah soal bagaimana semestinya kekuasaan itu dijalankan. Paus Fransiskus sungguh menyadari bahwa jabatan yang ia emban sungguh berasal dari Tuhan sendiri. Jabatannya itu adalah anugerah dan bagi beliau sekaligus adalah tugas perutusan. Perutusan terutama dalam memajukan perdamaian, pelestarian lingkungan hidup dan memanusiakan sesama khususnya mereka yang kecil dan tersingkir.

Para pejabat dan abdi negara sudah sepatutnya meneladan hidup dan gaya kepemimpinan Paus Fransiskus. Pangkat, jabatan dan kedudukan itu asalnya dari Tuhan sendiri. Dari sebab itu gunakanlah dengan sebaik-baiknya untuk peduli dan melayani kebaikan bersama, bukan malah digunakan hanya untuk memenuhi kepentingan diri, kelompok dan keluarga sendiri.

Pesan dari Paus Fransiskus dan Imam Besar Sheikh Ahmed el-Tayeb dalam dokumen Abu kiranya baik untuk kita renungkan bersama bahwa, pangkal terjadinya penderitaan, bencana dan malapetaka ialah ketidakpekaan hati nurani manusia, penjauhan dari nilai-nilai agama dan individualisme.**

 

*Penulis adalah Imam Diosesan Keuskupan Sintang.

 

Editor : A'an
#Edi #PEDULI #hidupkan #budaya