Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Seni Menasihati Al-Mau’izhatul Hasanah

A'an • Selasa, 17 September 2024 | 14:11 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

 

Oleh: Syamsul Kurniawan*

 

DI tengah laju pesat kemajuan dakwah Islamiyah, kita kini dihadapkan pada sebuah realitas yang menggelisahkan. Penceramah yang seharusnya menjadi teladan dalam menyebarkan pesan kebaikan dan kebijaksanaan sering kali terjebak dalam pendekatan yang sarat dengan ujaran kebencian, provokasi, dan ancaman.

Fenomena ini memunculkan sebuah paradox, di era yang seharusnya mendorong nilai-nilai kedamaian dan persatuan, malah banyak yang menggunakan mimbar sebagai panggung untuk menebar kebencian. Ironi ini menggambarkan sebuah tantangan besar dalam mempertahankan esensi dakwah yang penuh kasih sayang dan hikmah.

Sementara itu, prinsip al-mau’izhatul hasanah, nasihat yang baik dalam tradisi Islam, mengajarkan kita untuk memberikan nasihat dengan kelembutan dan kasih sayang. Fenomena ini memunculkan kegelisahan mendalam karena pendekatan yang penuh kebencian tidak hanya berpotensi merusak hubungan antarmanusia tetapi juga mengaburkan nilai-nilai luhur ajaran agama itu sendiri.

Prinsip al-mau’izhatul hasanah mengajarkan bahwa nasihat seharusnya disampaikan dengan kelembutan, penuh kasih, dan pertimbangan mendalam. Konsep ini berakar dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya berkomunikasi dengan cara yang penuh empati. Dalam tradisi Islam, nasihat bukan sekadar alat untuk mentransfer informasi, tetapi merupakan sarana untuk membimbing dan memperbaiki seseorang secara lembut dan penuh pertimbangan.

Dari Provokasi ke Kelembutan

Al-mau’izhatul hasanah adalah pengajaran yang disampaikan dengan kelembutan sehingga tidak menimbulkan rasa gelisah, cemas, atau ketakutan pada penerimanya. Pendekatan ini membentuk karakter dan sikap seseorang dengan cara yang empatik, yang pada gilirannya membangun hubungan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif.

Namun, sayangnya, kita sering kali menyaksikan fenomena yang menyimpang dari prinsip tersebut. Penceramah atau pendakwah yang seharusnya menjadi panutan dalam menyebarkan pesan kebaikan sering kali jatuh pada praktik yang mengandung ujaran kebencian dan provokasi.

Pendekatan seperti ini cenderung mengedepankan pesan yang mengandung ancaman, peringatan keras, atau bahkan hujatan terhadap kelompok atau individu tertentu. Sebaliknya, pendekatan tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan, polarisasi, dan konflik sosial. Ujaran kebencian tidak hanya merusak hubungan antarmanusia tetapi juga menyimpangkan tujuan dakwah yang sebenarnya, yaitu membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kasih.

Kegelisahan ini semakin terasa ketika kita mempertimbangkan efek jangka panjang dari pendekatan yang tidak sesuai dengan prinsip al-mau’izhatul hasanah. Nasihat yang disampaikan dengan cara yang keras dan penuh kebencian sering kali hanya menciptakan perubahan superfisial dan bahkan dapat memperburuk situasi. Pendekatan ini mungkin mengundang perhatian dalam jangka pendek, tetapi tidak memberikan perubahan yang mendalam dan bertahan lama.

Lebih jauh lagi, pesan yang disampaikan dengan cara yang provokatif atau penuh kebencian sering kali memicu perasaan penolakan, bukan penerimaan. Dalam konteks ini, penting untuk mengintegrasikan kembali prinsip al-mau’izhatul hasanah dalam praktik dakwah dan penyampaian nasihat, guna memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak hanya efektif tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dipegang.

James Clear, dalam bukunya Atomic Habits, menawarkan perspektif yang sangat relevan untuk memahami bagaimana kebiasaan kecil yang konsisten dapat membentuk perubahan yang signifikan. Sangat relevan dengan pendekatan al-mau’izhatul hasanah.

Clear mengajukan gagasan bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak besar dalam kehidupan seseorang. Konsep ini sangat relevan dalam konteks memberikan nasihat. Clear membagi perubahan kebiasaan menjadi tiga tingkat: hasil, proses, dan identitas.

Dalam konteks nasihat, sering kali fokus terletak pada hasil akhir, apakah nasihat diterima atau tidak. Namun, Clear berpendapat bahwa yang lebih penting adalah bagaimana proses memberikan nasihat dan bagaimana kebiasaan ini membentuk identitas kita sebagai pemberi nasihat.

Dalam bukunya, Clear memperkenalkan empat kaidah perubahan perilaku yang dapat diterapkan dalam memberikan nasihat: menjadikannya terlihat, menjadikannya menarik, menjadikannya mudah, dan menjadikannya memuaskan. Keempat kaidah ini memberikan panduan praktis tentang bagaimana kita bisa menerapkan prinsip al-mau’izhatul hasanah dengan lebih efektif dalam memberikan nasihat.

Pertama, menjadikannya terlihat. Kaidah pertama dari Clear adalah menjadikan kebiasaan baru terlihat. Dalam konteks nasihat, ini berarti memilih waktu dan suasana yang tepat untuk memberikan nasihat. Nasihat yang disampaikan dalam suasana yang mendukung dan pada waktu yang tepat lebih mungkin diterima dengan baik.

Misalnya, memilih momen yang tepat dalam interaksi sehari-hari dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk komunikasi dapat meningkatkan efektivitas pesan. Dalam praktik dakwah, ini berarti menghindari situasi yang emosional atau penuh ketegangan, dan sebaliknya, menciptakan ruang yang tenang dan mendukung untuk menyampaikan pesan.

Kedua, menjadikannya menarik. Kaidah kedua adalah menjadikannya menarik. Menyesuaikan nasihat dengan minat dan kebutuhan individu memastikan bahwa pesan yang disampaikan relevan dan lebih mudah diterima.

Dalam hal ini, nasihat tidak hanya disampaikan sebagai informasi, tetapi juga dikaitkan dengan situasi dan perasaan penerima. Ini menciptakan hubungan yang lebih personal dan meningkatkan kemungkinan nasihat diterima.

Misalnya, penceramah atau pemberi nasihat dapat menyesuaikan pesan mereka dengan konteks kehidupan penerima nasihat, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih relevan dan berdampak.

Ketiga, menjadikannya mudah. Kaidah ketiga adalah menjadikannya mudah. Nasihat harus disampaikan dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Prinsip dua menit dari Clear, yakni bahwa kebiasaan baru harus bisa dimulai dalam waktu kurang dari dua menit juga berlaku dalam menyampaikan nasihat. Ini berarti bahwa nasihat harus disampaikan dengan cara yang langsung dan mudah diterima.

Menggunakan bahasa yang sederhana dan menghindari kompleksitas berlebihan membantu penerima nasihat memahami dan mengaplikasikan saran yang diberikan. Dalam konteks dakwah, ini berarti menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami dan dapat diterapkan tanpa kebingungan.

Keempat, menjadikannya memuaskan. Kaidah keempat adalah menjadikannya memuaskan. Clear berpendapat bahwa memberikan umpan balik positif setelah melakukan kebiasaan baru dapat meningkatkan kemungkinan kebiasaan tersebut diterima dan dipertahankan.

Dalam konteks nasihat, memberikan umpan balik positif setelah nasihat dapat meningkatkan kepuasan penerima dan memperkuat perilaku yang diinginkan. Ini termasuk memberikan pujian atau pengakuan ketika penerima nasihat menerapkan saran dengan baik. Dalam dakwah, ini berarti memberikan apresiasi atau dukungan terhadap perubahan positif yang dilakukan oleh individu sebagai hasil dari nasihat yang diberikan.

Mengintegrasikan prinsip al-mau’izhatul hasanah dengan teori kebiasaan kecil dari James Clear menawarkan pendekatan yang komprehensif dalam melatih keterampilan memberikan nasihat. Pendekatan lembut dari al-mau’izhatul hasanah dapat dioptimalkan dengan menerapkan kaidah perubahan perilaku dari Clear.

Ini berarti bahwa kebiasaan memberikan nasihat dengan kelembutan harus dilakukan secara konsisten untuk membentuk identitas kita sebagai pemberi nasihat yang empatik dan efektif. Dengan mengadopsi kebiasaan memberikan nasihat yang lembut dan penuh perhatian, kita dapat membentuk cara kita berinteraksi dengan orang lain dan meningkatkan kualitas komunikasi.

Latihan konsisten dan pembelajaran berkelanjutan adalah kunci dalam melatih keterampilan memberikan nasihat yang efektif. Latihan ini dimulai dengan perubahan kecil dalam cara kita menyampaikan nasihat, seperti memilih kata-kata yang lebih lembut dan memperhatikan waktu serta suasana.

Seiring waktu, kebiasaan ini akan membentuk cara kita berinteraksi dengan orang lain dan meningkatkan kualitas komunikasi. Melatih keseimbangan antara emosi dan rasio juga merupakan aspek penting dari proses ini. Kemampuan untuk mengendalikan emosi dan berpikir secara rasional membantu dalam mengurangi kemungkinan tersinggung dan meningkatkan efektivitas komunikasi.

Kesimpulannya, mengintegrasikan prinsip al-mau’izhatul hasanah dengan teori atomic habits dari James Clear memberikan panduan berharga dalam melatih keterampilan memberikan nasihat yang diterima dengan baik. Pengajaran yang lembut dan penuh perhatian, bersama dengan perubahan kecil yang konsisten dalam cara menyampaikan nasihat, dapat meningkatkan penerimaan dan penerapan nasihat tersebut.

Dalam menghadapi tantangan dakwah di era kontemporer, kembali pada prinsip dasar al-mau’izhatul hasanah adalah langkah penting untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam dan dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Pendekatan yang terencana dan latihan yang konsisten akan membentuk keterampilan memberikan nasihat yang tidak hanya efektif tetapi juga membangun hubungan yang lebih positif dan produktif.**

 

*Penulis adalah Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban PW Muhammadiyah Kalimantan Barat; Ketua Divisi Kaderisasi dan Cendekiawan Muda ICMI Kota Pontianak.

 

Editor : A'an
#Menasehati #kebijaksanaan #pencerahan #seni #Syamsul Kurniawan