Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketekunan Bisa Mengalahkan Kepandaian

Miftahul Khair • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 13:13 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi

 

Ada sebuah pepatah yang tentu saja mengandung sarat akan nasehat bagi insan terpelajar, “Setajam-tajamnya sebuah pisau kalau tidak pernah diasah maka ia akan tumpul juga.” Dan, “Man jadda wa jada.” Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya. Dari kedua pepatah tersebut, ternyata ada yang menarik. Keduanya memiliki hubungan yang erat. Tapi sebelumnya pepatah itu adalah salah satu nasehat yang paling mengena di hati hingga sekarang.

Pisau yang tajam pada umumnya jika dilihat pasti akan mengilap. Seperti itu juga manusia yang berilmu, ia akan terlihat berwibawa dan “bercahaya” disebabkan ilmu yang dimilikinya. Pisau yang tajam ada pada bagian yang tipis dan yang lebih tebal di bagian lain. Artinya filosofi ini sama seperti ketika seorang pandai yang sedang berbicara maka akan fokus dan didengarkan banyak orang. Berbeda dengan orang biasa yang sedang ngomong, akan sedikit yang tertarik untuk menyimak apa yang dia sampaikan.

Pisau adalah alat untuk memudahkan sebuah pekerjaan, baik itu pekerjaan dapur, di kebun, di sawah atau yang lainnya. Dalam dunia nyata ilmu itu ibarat sebuah pisau, dia akan mempermudah jalan dalam menggapai impian dan tujuan seseorang. Tanpa pisau itu, bambu yang kecil akan sulit dipotong sedangkan pohon yang besar bisa dirobohkan dengan pisau itu. Tak mengenal sebesar apa hambatan yang datang jika keywordnya sudah dikuasai tentu saja dengan penuh ketekunan. Sebab bersama kesulitan itu pasti akan ada jalan yang bisa mengeluarkan dari segala kesusahan. Firman Allah SWT, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6).

Oleh karena itu, jangan biarkan pisau itu lama tak dipakai. Ibarat manusia yang jarang belajar maka orang itu akan lupa dengan materi yang pernah dipelajari. Semakin banyak waktu untuk belajar semakin besar juga ilmu yang akan didapat. Belajar sama seperti mengasah pisau itu sebagai sarana mengingat kembali dan mereview (mengulang) pelajaran yang pernah diterima.

Setiap insan yang besungguh-sungguh saat bertindak atau menghadapai masalah pasti akan menemukan pemecahan dari problem (problem solving) yang dihadapi. Sebagai contoh ada sebatang kayu keras yang akan dipotong dengan pisau yang tidak terlalu tajam, pasti susah untuk potong dan memmerlukan tenaga ekstra kuat, kesabaran yang besar, dan keteguhan hati. Tanpa itu semua hanya akan menyisakan keputusasaan, karena dalam pengerjaannya perlu waktu yang lama, tidak hanya satu dua kali pukulan tapi berulang-ulang.

Banyak juga contoh nyata yang bisa kita amati di sekitar kita. Seorang siswa yang sukses belum tentu karena dia itu pandai, siswa yang mendapat rangking 1 di kelas bukanlah karena ia terlahir cerdas, melainkan ketekunan yang selama ini dilakukannya tentu saja melalui proses dengan waktu yang relatif lama. Juga seorang ilmuwan yang tekun dalam bereksperimen melakukan penelitian sehingga tercapai sebuah kesimpulan dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pisau yang dari awal penciptaan sudah tajam haruslah dirawat dan terus diasah. Ketika proses pemeliharaan itu diperlukan ketekunan dalam mengasah pisau itu. Di sini sudah jelas bahwa jika ingin tetap pandai, ingin tetap ingat akan ilmu yang pernah diserap harus rajin membuka lagi catatan alias mereview. Misalnya, hafalan doa dan wirid yang panjang bagi seorang siswa pasti akan hafal jika sedang menghadapi ujian praktik. Setelah itu? Seminggu, sebulan, atau setahun pasti lupa lagi jika tidak diamalkan dengan mengulang-ngulang. Berbeda dengan orangtua yang dia beri doa dan wirid, kemudian dihafalkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari setelah selesai salat, misalnya. Setiap hari dia akan mengamalkannya, dari amalan tersebut dia seperti merefresh lagi memori di otak. Jadi tidak ada kata lupa, semua akan tetap melekat kuat dalam memori pikiran.

Bagi seorang guru mata pelajaran tertentu juga dia pasti telah menguasai ilmu yang akan diajarkan kepada para siswanya. Pada saat menyampaikan materi dia akan sangat terlihat luwes (baca: tidak kaku). Materi yang ia ajarkan itu bisa dibuat semenarik mungkin setiap masuk kelas dengan beragam metode, strategi, dan pendekatan yang hal itu berulang di tahun-tahun berikutnya.

Kesimpulannya adalah kalau ingin pisau tetap tajam, maka rajin-rajinlah mengasahnya. Jika tidak, pisau yang tajam itu lama kelamaan akan tumpul bahkan berkarat yang pada akhirnya tidak bisa digunakan sebagaimana fungsi pisau itu sendiri. Jika ingin sukses dalam belajar, maka rajin-rajinlah mereview pelajaran. Jika tidak, pelajaran apapun akan mudah lupa disebabkan oleh banyaknya ilmu dan informasi yang selalu diterima oleh setiap manusia normal.

Baca Juga: IDI Titipkan Pemerataan Dokter pada Prabowo

Renungkanlah bahwa, memori otak manusia itu ibarat sebuah wadah seperti gentong/tempayan. Setiap hari banyak ilmu dan informasi yang diperoleh, maka ia akan terus menumpuk di bagian bawah gentong/tempayan itu. Hal inilah yang menyebabkan kita mudah lupa. Cara terbaik untuk mengingat dan “memanggilnya” kembali adalah dengan mengulang atau mereviewnya sehingga memori ingatan akan muncul ke permukaan sehingga sesuatu yang tadinya lupa akan dapat diingat kembali dengan baik, kecuali seseorang yang sudah terkena penyakit pikun dan lupa ingatan, karena ketekunan bisa mengalahkan kepandaian. Wallahu a’lam.**

 

*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : Miftahul Khair
#opini #ketekunan