Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Karya P. Ramlee Seniman Agung dan Pertumbuhan Seni Budaya di Era Digital

Miftahul Khair • Selasa, 29 Oktober 2024 | 12:13 WIB
Ahadi Sulissusiawan
Ahadi Sulissusiawan

Oleh: Ahadi Sulissusiawan*

Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau  lebih dikenali dengan  P. Ramlee. Seorang seniman agung yang sangat berbakat besar dalam bidang tarik suara (seorang biduan), peran, sutradara film, pelawak, penulis serta pencipta lagu. Karya seni  menjadi karya yang segar karena mengandung tema makna tersirat. Sangat berani menekankan beberapa aspek penting dalam kehidupan seperti sosial,  politik, agama dan  budaya masyarakat Malaysia.

Empat film terbaik P. Ramlee sarat dengan kritik sosial. Pendekar Bujang Lapok (1959) mengangkat isu kronisme, nepotisme melalui watak-watak gangster yaitu mendahulukan kepentingan peribadi dan keluarga dibanding kepentingan  umuma. Gangster yang wujud boleh dilihat sebagai kerajaan tempatan yang wujud tidak mampu menguruskan kesejahteraan dengan baik. Ini juga menyangkut kepada persoalan feudal yang tidak putus-putus P. Ramlee dalam banyak karya mencoba untuk mengkritisi. 

Film Penarek Becha (1955) menyentuh tentang hirarki dalam struktur masyarakat dengan eleman patriarki yang cukup kuat. Golongan kaya menindas yang miskin dan golongan lelaki menindas wanita. Cuplikan dialog cukup baik untuk direnungkan bersama “Kekayaan manusia itu hanya daki dunia”, “Budi bahasa tidak memerlukan modal". 

Bujang Lapok (1957) muncul ketika Semenanjung Tanah Melayu mencapai kemerdekaan. Yang coba diangkat adalah soal materialistik masyarakat dalam korpus negara kapitalis yang sedang membangun. Juga P. Ramlee sedikit sebanyak menyentuh soal feudalisme dan kelas.

Musang Berjanggut (1959) memberikan kritikan kepada golongan agama, ulama dan ustazd Mereka berpura-pura dengan penampilan fisik (penampilan agama), tetapi korup (ini melalui watak Datuk Nikah Kawin – Musang Berjanggut). Juga kritikan diberikan kepada golongan pemerintah (watak Sultan) apabila Sultan sudah dilihat salah maka beliau umumkan untuk ke Mekah bagi mengerjakan Haji. Ini adalah eskapisme yang paling mudah untuk dilihat suci dan tidak berdosa.

 Film-film P. Ramlee bukan saja menghiburkan, tetapi juga membawa tema yang mendalam mengenai kehidupan, masyarakat, dan moral. Sentuhan kreatif Beliau yang menggabungkan komedi, drama, dan unsur-unsur sosial menjadikan film-filmnya relevan sepanjang zaman. Warisan seni film P. Ramlee akan terus hidup dan dinikmati oleh generasi masa kini dan akan datang

Beberapa lagu terbaiknya, seperti  Azizah. Cinta awal P. Ramlee yang ditulis ketika Beliau masih muda, Azizah menjadi lambang cinta sejati dan kekal sebagai satu di antara  lagu paling popular sepanjang zaman. Lagu Getaran Jiwa   paling ikonik, menonjolkan kemerduan suara Beliau dan lirik yang penuh dengan cinta. Lagu ini sering dimainkan di berbagai acara dan terkesan relevan di hati peminat hingga kini. Engkau Laksana Bulan

Lagu  metafora yang indah, membandingkan kekasih dengan bulan, simbol keindahan dan kecemerlangan.  Lagu Jeritan Batinku menampilkan perasaan yang mendalam  penuh kesedihan dan tekanan, mencerminkan sisi emosional dengan liriknya kuat dan sarat dengan emosi,  karya Beliau yang paling menyentuh hati.

Gaya musik dan bahasa yang digunakan dalam lagu-lagu P. Ramle sangat indah dan menyentuh, mengungkapkan lambang cinta sejati dan kekal (lagu Azizah), penyampaian perasaan hati yang mendalam (lagu Getaran JIwa), menggunakan bahasa metapor yang indah, membandingkan kekasih dengan bulan(lagu Engkau Laksana Bulan). mengungkapkan perasan batin yang sangat kuat dan emosi, tetapi tetap santun (lagu Jeritan Batinku)

 Film P. Ramlee yang diproduksi pada era 1950-an hingga 1970-an menggunakan teknologi lama. Untuk membawa karyanya ke era digital,  langkah-langkah yang perlu dilakukan dengan pemulihan film (Restorasi). Proses pertama adalah memulihkan film-film klasik agar kualitas visual dan audio bisa diperbaiki. Ini termasuk menghilangkan kerusakan fisik pada film asli, seperti goresan atau warna yang memudar.

 Setelah pemulihan, film dapat dipindai ke format digital beresolusi tinggi (misalnya, 4K atau HD). Ini membuat karya tersebut dapat dinikmati di platform modern, seperti televisi digital, YouTube, atau layanan streaming lainnya.

Pengolahan Audio: Perbaikan dan peningkatan kualitas audio (misalnya, stereo atau surround sound) juga perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan ekspektasi penonton modern. 

Karya musik lama perlu di-remaster untuk meningkatkan kualitas suara, terutama untuk memenuhi standar platform streaming musik (Spotify, Apple Music, dll.). Setelah remastering, lagu-lagu dapat dipublikasikan di berbagai platform streaming, menjadikannya mudah diakses oleh audiens global.

Membuat playlist khusus yang menonjolkan karya-karya ikonik P. Ramlee berdasarkan tema tertentu (romantis, patriotik, dll.) untuk menarik lebih banyak pendengar baru. Kemudian  pengarsipan online menyediakan akses terbuka atau berlangganan ke film dan lagu P. Ramlee melalui platform arsip digital resmi, misalnya di perpustakaan nasional atau museum film.

Setiap karya digital perlu diberi metadata yang lengkap untuk memudahkan pencarian, baik di platform streaming atau arsip. Ini termasuk informasi tentang judul, tanggal rilis, deskripsi singkat, dan genre. Untuk menghubungkan karya P. Ramlee dengan generasi muda yang lebih banyak menggunakan media sosial, karya-karyanya perlu didaur ulang dan disesuaikan dalam bentuk cuplikan singkat. Potongan film, musik, atau kutipan terkenal dari P. Ramlee dapat diunggah sebagai video pendek di TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts untuk menarik perhatian audiens muda. Selain itu, melalui konten edukasi. Menciptakan konten yang mendidik mengenai kontribusi budaya P. Ramlee dan relevansinya di era modern dalam bentuk artikel, video dokumenter, atau podcast. Agar lebih relevan dalam era digital, karya P. Ramlee bisa diintegrasikan dengan teknologi baru: Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR): Membuat pengalaman interaktif, seperti menonton film P. Ramlee dalam format VR atau menghadirkan lokasi syuting film-film P. Ramlee secara virtual.

Menciptakan aplikasi mobile yang khusus menghadirkan koleksi karya P. Ramleek, bai film maupun musik, yang dapat dinikmati di mana saja.

Satu di antara cara untuk memperkenalkan karya P. Ramlee kepada generasi baru adalah dengan kolaborasi. Selanjutnya remake dan reinterpretasi yakni mendorong seniman atau sutradara muda untuk membuat ulang film atau lagu P. Ramlee dengan sentuhan modern. Penggunaan Karya dalam Konten Modern: 

Karya-karya P. Ramlee dapat dimasukkan dalam film, iklan, atau musik modern melalui lisensi resmi. Ini bisa menarik perhatian audiens baru yang belum mengenal beliau. Di era digital, penting untuk memastikan karya P. Ramlee dilindungi oleh undang-undang hak cipta agar tetap mendapat penghargaan yang adil, termasuk royalti dari penggunaan karya di platform digital.

Penting untuk bekerja sama dengan platform streaming, baik lokal maupun internasional, untuk mendistribusikan karya-karya P. Ramlee secara global, seperti Netflix untuk film atau Spotify untuk musik. 

Jika diteliti karya P. Ramlee, jelas beliau memilih untuk mendidik melalui jenaka dan budaya popular yang halus bentuknya, tetapi tajam kesannya. Isu-isu yang diketengahkan pula berkisar pada kepentingan umat, kekurangan golongan miskin serta penindasan terhadap yang lemah. Dengan caranya sendiri, P. Ramlee mengungkapkan nilai-nilai agama yang sebenarnya untuk dijadikan pijakan.

Sesungguhnya, sumbangan P. Ramlee adalah sangat besar kepada kita semua. Walaupun sejarah akan selama-lamanya mengingati beliau sebagai seorang seniman dan budayawan yang tersohor, jelas usaha-usaha beliau sebenarnya menjangkaui batasan seni dan budaya.**

*) Penulis adalah Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Tanjungpura

Editor : Miftahul Khair
#seniman #p ramlee