Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tidak Mencela walau Beda Pilihan

Miftahul Khair • Sabtu, 2 November 2024 | 14:09 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi*

 

Ahad, 20 Oktober 2024 lalu secara resmi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia telah dilantik. Dan Presiden Prabowo bersama wakilnya pun telah melantik para menteri kabinet Merah Putih. Kini kita di daerah dihadapkan dengan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Itu artinya tidak lama lagi kita kembali akan memilih gubernur-wakil gubernur dan bupati-wakil bupati atau walikota-wakil walikota yang baru.

Di antara kita, tentu sudah memiliki nama pasangan calon (paslon) yang akan dipilih nanti pada 27 November 2024, baik itu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur maupun pasangan calon bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota. Kalau belum, segera cari tahu paslon agar tidak salah dalam memilih pemimpin di daerah ini. Baik itu kepribadiannya, karirnya atau rekam jejaknya dan lain-lain.

 Baca Juga: Polda Metro Jaya Temukan Kantor Satelit Judi Online di Bekasi, Pelaku Lindungi 1.000 Situs Judol

Jangan Mencela Paslon Lain

Agama Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur kehidupan manusia secara vertikal, yaitu tentang urusan hubungan manusia dengan Tuhannya. Namun, agama Islam juga mengatur hubungan horizontal, yakni urusan dengan sesama manusia. Manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak diperbolehkan semena-mena bertindak dan berucap yang meliputi perkataan kotor, caci maki, umpatan-umpatan, hingga kekerasan fisik tanpa ada alasan yang legalkan oleh syariat.

Mengumpat bagi sebagian orang mungkin sudah menjadi sebuah kebiasaan. Mengumpat bisa berbentuk kata-kata yang kasar atau bisa juga dengan menyebut nama hewan tertentu yang tujuannya adalah mengolok-olok dan merendahkannya atau menertawakannya.

Kita tidak mengetahui secara hakikat, orang yang kita umpat itu dalam pandangan Allah SWT. Dia pasti lebih buruk dari kita, belum tentu. Ataukah justru dia itu lebih baik dalam pandangan Allah SWT dibanding kita yang mengumpatnya.

Allah SWT berfirman di dalam Alquran, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Suatu ketika, dalam sebuah hadits riwayat Jabir, Nabi Muhammad SAW ditanya oleh seorang laki-laki, “Nabi, berikan pesan wasiat kepadaku!” Nabi menjawab, “Sungguh, jangan sekali-kali kamu mengumpat siapa pun!” Lalu Jabir berkata, “Setelah mendapat wasiat itu, aku tak pernah mengumpat, mencela siapa pun baik itu orang merdeka, hamba sahaya, onta, maupun sapi.”

Lalu Nabi berpesan lagi, “Jangan remehkan kebaikan sedikit pun. Bicaralah kepada saudaramu dengan wajah penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari kebaikan.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga: Festival Tunas Bahasa Ibu: Memeriahkan Bulan Bahasa dan Melestarikan Kebudayaan di Kalimantan Barat

Di antara hal yang dapat kita ambil pelajaran dari hadits ini adalah level larangan Nabi ini adalah larangan keras. Terlebih di masa kampanye seperti sekarang ini, semua masyarakat harus bisa menahan diri supaya tidak sampai ada kata-kata kotor dari  lisannya atau mengata-ngatai orang hanya karena beda pilihan pasangan calon gubernur-wakil gubernur dan calon bupati-wakil bupati atau beda partai pendukung.

Hati-hati dalam berkomentar baik secara langsung maupun melalui media sosial.  Ibnu Masʼud menceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mengumpat orang muslim merupakan tindakan fasik (dosa besar). Membunuhnya sama berarti kafir.” (HR. Muttafaq alaih)

Keharaman mengumpat tidak hanya bagi saudara kita yang muslim saja, tetapi juga kepada nonmuslim. Sesama warga Indonesia, kita semua harus menampilkan akhlak luhur Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai kita mengumpat, memberikan sumpah serapah kepada orang lain. Dengan demikian, mengata-ngatai siapapun, baik muslim maupun nonmuslim, hukumnya tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, dalam masa kampanye pemilukada tahun 2024 ini, marilah kita ciptakan kedamaian, ketenangan bersama-sama. Hindari berkata kotor baik secara lisan maupun tulisan di media sosial. Hindari politik identitas. Jangan buat agama sebagai tameng untuk memenuhi keinginan nafsu berkuasa dan mendapatkan nilai-nilai duniawi.

Sebagai pemilih, marilah kita siapkan diri sebagai pemilih yang bijak dan cerdas dengan tanpa caci maki.  Semoga negara dan daerah yang kita huni ini selalu damai dan dilindungi oleh Allah SWT dari segala macam pertikaian sehingga kita tetap bisa hidup aman dan damai, bisa beribadah kepada Allah SWT dengan baik. Harapan kita bersama semoga pemimpin yang terpilih nanti bisa membawa kemaslahatan dan perubahan yang jauh lebih baik ke depan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Wallahua’lam.**

 

*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : Miftahul Khair
#beda pilihan #opini #Mencela