Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Selubung ‘Kekerasan’

Miftahul Khair • Senin, 4 November 2024 | 13:42 WIB
Samuel, S.E., M.M.
Samuel, S.E., M.M.

Oleh: Samuel, S.E., M.M.

Akhir-akhir ini, saya membaca kembali koleksian buku dengan topik Filsafat Moral yang dulu pernah menjadi mata kuliah inti dalam manajemen. Koleksi bacaan itu saya ambil dari mata kuliah saat saya menempuh pendidikan strata 1 saat itu, dosen pengajarnya adalah Prof. Dr. William Chang OFMCap yang kini menjadi Konselor Kapusin untuk Asia Pasifik. Saat itu beliau masih belum menjadi guru besar dan statusnya juga masih menjabat sebagai Vikaris Jendral Keuskupan Agung Pontianak (Wakil Uskup). Waktu itu dia menjadi dosen Filsafat Moral yang dikemas dalam mata kuliah manajemen konflik. Bicara mata kuliah moral, tetap rasanya, masih hangat dalam ingatan.

Cerita ini, saya mulai dengan kisah dongeng dari seorang rabi hassidsis Yahudi, Israel ben Eliezer alias Baal Shem Tov (1700-1760). Kisah itu dimulai dengan dua orang berjalan, mereka hendak melewati hutan/ Saudara satu itu tengah mabuk, kemdian satunya yang lain sadar. Beberapa saat selelah mereka berjalan, penyamun datang dan merampok mereka habis-habisan. Pakaian-pun ‘dipreteli’ tanpa menyisakan sedikit-pun helaian kain yang menyangkut pada tubuh mereka.

Singkat cerita, telanjanglah mereka keluar dari hutan dan mereka ditanyai orang yang melihat kondisi mereka dengan sangat mengenaskan. “Ngapa, perjalanan kitak neh! Ade ape? (‘cek-cek logat Pontianak).

Aman, intinye aman bah, tak ade ape-ape,” jawab yang mabuk itu.

Kening orang lain yang bertanya itu-pun seketika mengkerut, kemudian mengatakan dengan jelas bahwa mereka telanjang.

Ee, gimane kau bilang aman, hah? Aman mate mu! Kau tu telanjang berdarah-darah!” kata si penanya dengan terheran-heran. Seketika orang mabuk itu diam.

“Jangan percaye kate-nye tu, die tu mabok. Pencuri tadi tu ngambe barang kame, lalu lah kame dibantai-nye. Ati-ati ye jangan kau kenak gak, nanti,” kata rekannya yang sadar. 

Dogeng dari kisah hassidis di atas hendak menceritakan sebuah tindak Kekerasan (K – kapital). Sesungguhnya, kekerasan tanpa disadari menyelimuti kita semua. Tapi kita tidak menyadarinya. Kekerasan menyelubung dan membayang-bayangi siapa saja. Tapi siapa pun tak merasakan bayang-bayangannya. Kekerasan mengancam manusia, tapi manusia hidup seakan tanpa ancamannya. Kekerasan hadir setiap saat, bagai angin yang ada di mana-mana. Tapi manusia mengirupnya, tanpa merasa bahwa hawa kekerasan masuk bagai napas yang menghirupnya.

Tidak ada wadah yang dikecualikan oleh kekerasan. Tanpa disadari kekerasan itu masuk ke dalam tubuh dan tubuh pun tak hanya dapat dilukai oleh kekerasan, tapi juga dapat melukai dengan kekerasan. Tangan manusia dapat menggengam untuk memukul lawannya. Kakinya dapat menendang untuk menjatuhkan lawannya. Masih tak puas! Manusia menggunakan ke-ahli-an-nya untuk ‘membantai’ manusia lain sebagai perpanjangan dirinya. Tadinya ilmu (keahlian) itu dapat menghasilkan sesuatu, lama-lama menjadi ‘alat’ untuk memusnahkan sesamanya.

Analogi pisau dipakai untuk mengiris bawang, tapi begitu di tangan, pisau itu dapat menikam untuk membinasakan apa yang ia anggap lawan. Tragis! Senjata kemudian berkembanglah dengan semakin canggih. Dalam persenjataan modern, tak ada lagi kekerasan bersifat penyerangan tubuh. Namun dalam per-senjata-an kekerasan dengan sendirinya menganga dan siap melumat korbannya. Sedih, kekerasan itu dapat berada dengan amat ‘rapi’ bahkan ‘bersih’. Darah yang mengalir karenanya dianggap sekedar ‘kecap’ yang wajar ada.

Tarung di atas ring dianggap wajar sebagai permainan, meski di sana kekerasan menunjukkan dirinya secara habis-habisan. Kekerasan juga mudah menular, berjangkit bagaikan virus. Satu orang yang terkena kekerasan, ia segera mencari sasaran (kambing hitam: istilah teori Rene Girard) untuk melampiaskan dendam akibat kekerasan yang dideritanya. Demikianlah dalam sekejap bak virus yang men-jangkit seketika ke banyak orang, saling membantai dan menyiksa tanpa ada habisnya.

Secepat kilat kekerasan dapat membalikkan kesan tentang kehalusan dan kebaikan manusia. Manusia yang halus (ramah, sopan) tiba-tiba bisa kesurupan dan hilang ingatan begitu kekerasan menghampiri mereka. Mereka yang sehari-hari kelihatan alim dan suci, tiba-tiba rela terpercik darah ketika disulut oleh kekerasan. Hal itu tampak seolah mewahyukan bahwa batas antara kehalusan, lemah lembut dan nafsu yang ganas bahkan kasar memiliki sekat dinding yang tipis sekali. Kebrutalan dan kekasaran menjadi khas-nya saat mereka dihimpit oleh kekerasan.

Istilah Shindunata, Kambing Hitam - Sastra, Antropologi dan Agama,  (2023) menuliskan bahwa kekerasan melahirkan kekacauan, kebingungan, kelinglungan dan kekalutan. Disulut kekerasan, orang biasa meniadakan diri apa yang diperolehnya dengan cucuran dan keringat bersaat-saat lamanya. Kekerasan dapat menyulutkan manusia untuk menyalakan api di tengah kota, dan membuat bangunan megah tempat ia mengantungkan nafkah hidupnya hancur berantakan jadi arang dan puing-puing belaka. Kekerasan menaikkan api ke langit, menjadikan langit penuh kabut tebal. Dalam kabut tebal itu seakan tersimpan misteri, mengapa karena kekerasan manusia bisa menjadi kejam, ngawur, brutal dan mau membunuh sesama dan dirinya sendiri? Kekerasan memang bagaikan misteri.

Tak sadar, ‘dia’ didisiplinkan oleh kekerasan!

Dalam catatan itu juga, Shindunata mengulas tentang kekerasan bagaikan orang menyanyi dan tak sadar telah melebur bersama kekerasan. Padahal tangannya menenteng senjata (kekuasaan). Mereka berjoget gembira, seakan lupa bahwa mereka sedang didisiplinkan oleh kekerasan. Tapi, apa pun gerak kelembutan dan kegembiraan mereka, tetaplah ketahuan bahwa mereka sedang bersekutu dengan kekerasan, karena tangan mereka menenteng-nenteng senapan.

Menyusupnya kekerasan dalam organisasi, manajemen bahkan menghiasi kehidupan politik. Tak lain dan tak bukan dipicu mulai tuli dengan pendekatan kemanusiaan. Jika menggunakan konteks ini, bahkan demokrasi pun menyembunyikan kekerasan. Itulah kekerasan. Ia ada sebagai suatu kewajaran, kebiasaan dan keakraban, yang dekat pada manusia dan tak terpisahkan dari manusia. Kekerasan itu mirip dengan waktu, cinta dan kematian (kronos, eros, thanatos). Seperti ketiga konteks itu, ia bersemayam dalam kehidupan manusia dengan selubung moral sebagai selimutnya kemudian dibalik selimut kekerasan tengah menganga untuk mencari korban lagi. 

Sepintas, ‘bahasa’ sehari-hari sebetulnya murni terhadap kekerasan, tapi begitu bahasa dipakai untuk memperbincangkan kekerasan bahasa pun bisa membentuk objek (berjasad) kekerasan. Lewat bahasa justru kekerasan di-adon (manipulatif) untuk mengancam, menghina, merendahkan bahkan celakanya, bahasa itu juga ia pakai untuk membela kekerasan. Kekerasan dalam selubung, bukanlah cerita dongeng seperti yang baru anda baca dalam awal teks ini. Kekerasan seolah-olah merasuk dalam institusi, organisasi dengan senjata yang siap melumat apapun yang membuatnya tak senang. Kekerasan yang terselubung ada disekitar kita, bahkan dalam nasehat-nasehat baik-pun dapat dikendalikan oleh hasrat kekerasan, karena keterselubungan itu. 

Masih hangat dalam ingatan, saat memulai kuliah Manajemen Konflik, Prof William menerangkan topik tentang keutamaan dalam mata kuliah tersebut, begini bunyinya: “Anda yang belajar Manajemen Konflik, justru jangan memicu konflik. Kalau anda sudah tahu bahwa mereka (siapapun, dan apapun bentuknya) pemicu konflik, maka cegahlah! Minimal hindari – pertanyaan mungkin kah?.”

Setidaknya, barangkali ini bisa menjadi asas hidup yang mungkin saja dapat membawa kesadaran untuk melihat secercah ketersembunyian kekerasasn dalam ketersembunyiannya, sekurang-kurangnya perkataan dan nasehat baik jika tak selaras dengan usaha sikap untuk men-jadi-kan tindakan kebaikan (teladan), maka berhati-hatilah, pasti disana ada persemayaman ‘selubung’ kekerasan. Semoga!

*Penulis adalah Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Graha Arta Khatulistiwa Pontianak Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak

Editor : Miftahul Khair
#opini #kekerasan #Terselubung #refleksi