Oleh Y Priyono Pasti
PERINGATAN dan perayaan Hari Pahlawan 10 November 2024 ini mengusung tema: Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu. Tema ini menyiratkan pesan mendalam agar kita senantiasa memiliki semangat meneladani perjuangan para pahlawan bangsa dalam keberanian, pengorbanan, dan semangat juang, meneruskan cita-cita para pendiri bangsa dan mencintai negeri.
Hari pahlawan merupakan momentum bagi segenap anak bangsa negeri ini untuk mengenang dengan penuh hasrat peristiwa heroik Pertempuran Surabaya pada 1945. Dalam peristiwa yang penuh air mata, darah, dan menyebabkan melayangnya banyak nyawa itu, tentara kita harus berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peringatan dan perayaan Hari Pahlawan menjadi momen penting bagi kita sebagai bangsa untuk kembali mengenang, menghormati jasa para pahlawan, dan membangkitkan semangat patriotisme di kalangan masyarakat Indonesia.
Dalam konteks pendidikan, khususnya para guru, bagaimana guru memaknai peringatan Hari Pahlawan yang dilaksanakan pada 10 November setiap tahunnya itu? Pertanyaan reflektif ini pantas dikemukakan mengingat guru juga pahlawan pencerdas bangsa untuk tetap setia melayani dan mengabdi di jagat pendidikan guna memerangi kebodohan di negeri ini.
Memiliki andil besar
Guru dan pahlawan adalah sosok-sosok yang memiliki andil besar dalam membangun negeri ini. Keduanya sangat berjasa bagi kemajuan nusa dan bangsa. Guru juga pahlawan dan pahlawan juga guru. Meskipun guru tidak secara langsung bertempur di medan perang dengan memikul senjata layaknya seorang pahlawan perang, kontribusi guru sangat besar dalam memerangi kebodohan.
Dalam lagu Hymne Guru, sosok guru sebagai pahlawan bangsa lugas diungkapkan. “Guru bak pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan, dan patriot pahlawan bangsa”. Untaian kalimat substantif dalam Hymne Guru itu menegaskan bahwa guru adalah pahlawan pencerdas bangsa.
Memang sampai hari ini, nasib guru belum sepenuhnya mengalami perubahan yang signifikan. Masih banyak guru, terutama guru swasta dan guru honorer, yang kisah hidupnya masih saja memilukan. Ketika ratusan bahkan ribuan muridnya telah berhasil menjadi “orang”, sosok guru yang direpresentasikan “Oemar Bakrie” tetap saja hidup sederhana dan nasibnya tetap berada di lapisan alas.
Ada guru yang mengajar di wilayah terpencil, untuk mengambil gajinya yang tak seberapa, ia harus merogoh koceknya yang tak sedikit untuk biaya perjalanan. Dan itu terjadi setiap bulan. Ada juga guru untuk menambah kebutuhan hidup keluarganya menjadi tukang ojek.
Namun, toh, semua itu dilakukan dalam kesunyian. Tak terdengar suara lantang keluh kesah mereka. Semuanya dilakukan dengan semangat pengorbanan bak pahlawan. Seseorang yang dengan rela mengabdikan seluruh hidupnya dengan penuh dedikasi dan loyalitas untuk mencerdaskan anak bangsa.
Ketika guru sungguh dihayati sebagai panggilan jiwa/hati, maka seorang guru bekerja tulus penuh syukur. Guru senantiasa bersyukur, berbuat baik, dan menunjukkan kemurahan hati. Guru semakin gemar menabur buah-buah kebaikan dan bertekad untuk menjadi guru yang lebih baik lagi. Meskipun mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya, ia tetap semangat mengajar, memberikan yang terbaik untuk para muridnya. Bukankah itu menggambarkan betapa spirit pahlawan mengalir dalam darah pengabdian para guru?
Memerangi Kebodohan
Guru adalah pahlawan untuk memerangi kebodohan. Kita bisa membaca dan menulis karena jasa guru. Kita bisa menduduki jabatan tertentu, guru juga yang menghantarkannya. Kita mampu berkreasi atau berwirausaha, tetap guru juga yang mempunyai andil besar di dalamnya.
Tanpa guru, kita sulit berhasil meraih impian, tanpa guru kita tidak dapat seperti sekarang. Tanpa guru tak ada camat, bupati, walikota, anggota DPR(D), gubernur, menteri, presiden, atau jabatan apapun itu. Sungguh, betapa besar peran, kontribusi, jasa seorang guru dalam kehidupan dan keberadaan kita saat ini.
Guru adalah pahlawan pendidikan pencerdas bangsa. Di tangan para guru, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Guru adalah pahlawan pembangunan karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini.
Tugas yang diemban guru tidaklah ringan. Guru harus mampu menumbuhkan keingintahuan murid dan memfasilitasinya dengan cara yang paling mereka minati. Guru harus bisa menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang menyenangkan, aman, bebas dari celaan dan cemoohan agar murid berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa untuk tumbuh menjadi insan-insan pembelajar yang percaya diri dan optimis.
Di tengah dinamika perkembangan iptek dengan segala konsekuensi yang ditimbulkannya, kehadiran guru yang mampu mengayomi, memberikan nasihat yang konstruktif-edukatif, memberikan motivasi kepada para murid agar mereka tetap semangat, mampu menghadapi dan mengelola perubahan serta dapat menyongsong masa depan mereka dengan penuh antusias menjadi tuntutan.
Kini, guru dituntut tidak hanya mampu memberitahu, menjelaskan, dan mendemonstrasikan, tetapi juga dapat menginspirasi-mengilhami muridnya. Sebagai pahlawan pencerdas bangsa, terutama dalam memerangi kebodohan, guru mesti memiliki jiwa juang, semangat untuk berkorban, dan menjadi pioner dalam kemajuan murid menjadi insan-insan cendekia berkarakter-berintegritas.
Kepemilikan semangat kepahlawanan dan kemampuan guru dalam membangun karakter baik generasi peradaban sangat menentukan kemajuan sebuah bangsa. Pencapaian Indonesia hingga saat ini tak terlepas dari peran, kontribusi, dan jasa guru dalam membimbing, mengarahkan, dan memfasilitasi para murid menjadi insan-insan dewasa mandiri, disiplin, bertanggung jawab, berbudi pekerti luhur, berkarakter, berintegritas, dan siap menjadi pemimpin.
Tanpa kehadiran guru dengan semangat kepahlawanannya, keberadaan Indonesia seperti sekarang ini tak akan terjadi dan tak pernah kita nikmati. Untuk itu, sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban kita selalu menghargai dan meneladani jasa-jasa para guru yang pahlawan pencerdas bangsa memerangi kebodohan itu, yang telah rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
Menutup opini ini, penulis kutipkan kalimat inspiratif-motivatif presiden pertama RI, Ir. Soekarno dari bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” yang berbunyi “Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak”.
Semoga semangat rela berkorban dan pantang menyerah dari para Pahlawan yang kita peringati dan rayakan setiap 10 November, bertransformasi menjadi semangat juang para guru yang juga pahlawan pencerdas bangsa untuk tetap setia mengabdi memerangi kebodohan di negeri ini sebagai bentuk kongkrit cinta pada negeri. Semoga demikian!
*Penulis Alumnus USD Yogya Guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak – Kalimantan Barat
Editor : Miftahul Khair