Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mau Memilih Siapapun, No Stres

A'an • Kamis, 21 November 2024 | 10:37 WIB
Abdul Hamid.
Abdul Hamid.

 

 Oleh: Abdul Hamid

 

HANGATNYA suhu udara politik pada sejumlah wilayah di tanah air, termasuk di daerah Kalimantan Barat (Kalbar) kian terasa dari hari ke hari. Tentunya hal seperti ini sudah biasa sejak puluhan tahun yang lalu. Tahun ini terasa lebih hangat karena mereka yang dulunya itu dilarang kampanye, seperti mantan presiden, bahkan presiden, dan menteri sekalipun, kini diperbolehkan ikut “cawe-cawe”. Tak tahu bagaimana pertimbangannya, yang jelas telah terjadi pro-kontra.

Memilih pasangan calon kepala daerah, singkat sajalah dengan cakada, bisa dibuat mudah lagi sederhana, dan bisa juga dibuat susah lagi rumit, terpulang kepada yang punya hak pemilih pada waktu pemilihan kelak. Yang jelas sebaiknya memang harus memilih atau menusuk nomor salah satu dari dua atau tiga pasang cakada tingkat gubernur/bupati/walikota itu.

Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupan di dunia baik sendiri maupun dalam kelompok (bermasyarakat, berbangsa, bernegara), mempunyai fungsi sebagai pemimpin. Ketika sendiri, dia harus mampu memimpin dirinya. Jika tidak, dia akan merugikan dirinya sendiri, dan orang lain. Sebagai contoh sederhana adalah orang gila, stres, termasuk orang yang kesurupan. Bukankah mereka itu merepotkan orang lain, sebagaimana yang pernah menimpa beberapa orang yang gagal sebagai wakil rakyat atau gagal sebagai kepala daerah dalam beberapa tahun terakhir ini?

Coba perhatikan seseorang yang sedang kesurupan, bukankah dia tak mampu mengontrol dirinya sehingga dapat melakukan apa saja yang dapat berakibat fatal bagi dirinya atau bagi orang lain?

“Ketika kalian berdua, angkat atau tunjuklah salah seorang sebagai pemimpin atau imam”, demikian kita diingatkan oleh Nabi Akhir Zaman.

Dalam hidup berumah tangga, yang menjadi pemimpin, imam menurut etika agama, adalah suami /ayah/ aba /bapak. Jika aba tidak memerankan fungsinya sebagai imam, sibuk dengan urusan sendiri, maka kondisi rumah tangga bisa labil.

Apabila sejumlah orang berada dalam kelompok, apalagi dalam satu wilayah kota/kabupaten, maka peranan seorang pemimpin akan semakin besar. Hal ini dikarenakan bahwa substansi kepemimpinan  merupakan sebuah amanah yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar memahami/ahli, bertanggungjawab, bermoral baik termasuk jujur, dan adil, serta berkualitas. Jika amanah itu diberikan atau dipegang orang yang salah, maka yang akan merugi terutama adalah warga yang dipimpinnya. Jika dia kurang atau tidak memiliki hal-hal yang sebenarnya sederhana ini, maka jelas dia tak akan mampu berperan dengan baik dalam melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin. Sejumlah kasus yang terjadi di republik ini berkaitan dengan kepemimpinan daerah maupun negara, telah menunjukkan bagaimana akhir dari seorang pemimpin yang tidak memiliki hal-hal di atas. Permasalahan daerah yang dipimpinnya kian menumpuk, dan pada akhirnya merepotkan dirinya, dan masyarakat. Sekian banyak kasus yang terjadi pada suatu daerah juga menunjukkan kepemimpinan yang tidak amanah, tidak  bertanggungjawab, selalu mencari-cari alasan untuk membela diri dari kekurangannya dalam memimpin.

Jika amanah menjadi pemimpin ini diraih, maka untuk meraihnya  sebenarnya haruslah dilakukan dengan cara yang baik, benar dan jujur. Bagaimana mau melaksanakan tugas yang diamanahkan apabila amanah tersebut diperoleh dengan cara menghalalkan segala cara? Mungkinkah seorang pemimpin akan jujur apabila untuk meraihkan amanah itu dia berbuat seenaknya? Mungkinkah seorang gubernur, walikota/bupati akan mampu memimpin dengan baik, sesuai keinginan warga, apabila jabatan tersebut diraihnya dengan menghalalkan segala cara, dengan modal politik cuan yang  kelk harus dikembalikan? 

Persoalannya kemudian adalah siapakah pasangan cakada yang harus dipilih? Sebenarnya cara memilih pemimpin itu tidaklah statis. Namun, berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, atau sesuai dengan tujuan atau harapan yang ingin dicapai baik dalam jangka pendek (setahun), menengah (lima tahun) maupun dalam jangka panjang (20-25 tahun).

Sejumlah teori kepemimpinan yang dikemukakan para ahli, apalagi yang tertulis dalam kitab suci, telah mengemukakan atau menerangkan dengan cukup gamblang tentang siapa yang layak untuk dipilih sebagai pemimpin jika memang benar-benar diinginkan seorang atau pasangan pemimpin yang baik.

Dalam tulisan ini dikemukakan secara singkat enam persyaratan utama saja. Pertama, berpengalaman memimpin, dan paling memahami atau memiliki pengetahuan luas terhadap wilayah/daerah, dan  warganya. Kedua, mampu, tidak berkeberatan melayani yang akan dipimpinnya dalam berbagai bidang sesuai kebutuhan wilayah/daerah, bukan malahan yang minta dilayani. Saat ini dikenal dengan istilah karitas. Pemimpin yang berkaritas ciri-cirinya antara lain memiliki sifat rendah, respek kepada orang lain, dan tidak “gila pencitraan”. Ketiga, memiliki empat sifat utama pemimpin, yakni selalu/lebih banyak berkata benar, dapat dipercaya, cerdas, dan menyampaikan. Tanpa memiliki empat sifat utama ini, yang dipimpin jangan terlalu mengharap jauh darinya, apalagi kalau sudah terbiasa melakukan kebohongan dalam berpolitik (lying in politics). Keempat, dikenal sebagai figur yang tidak suka obral janji, tetapi memiliki sifat satunya kata dengan perbuatan, tidak mengatakan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Seorang pemimpin umat masa lalu pernah  melarang untuk menjadi pemimpin mereka yang menunggang himar (kini dapat disamakan dengan mobil mewah), memakan makanan lezat (kini: terlalu banyak makan/minum di hotel , memakai baju mewah/sutera dsb), dan yang suka mendatangi rumah rakyatnya tanpa kepentingan atau tujuan yang jelas. Pemimpin yang berintegritas memegamg komitmen, konsisten dengan sikapnya yang mementingkan warganya, memegang teguh kebenaran, bukan menyembunyikannya. Kelima, kapabilitas, memahami akan lingkup pekerjaannya sebagai kepala daerah, mampu memotivasi, meningkatkan sains, dan skill/keterampilan bawahan, serta warga yang dipimpinnya.  Keenam, mampu menggerakkan mereka yang dipimpin, karena memiliki legalitas formal, atau biasa disebut otoritas. Dalam hal ini dia akan berpegang teguh dengan “aturan main”, yang sudah tertulis, bukan dibuat-buat atau diada, adakan sesuai kepentingannya.

Dalam era perkembangan teknologi yang kian cepat, pesat saat ini, di mana dunia sudah dalam genggaman, seorang pemimpin juga perlu memiliki wawasan yang luas, mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan daan teknologi, memanfaatkan media maya/sosial/digital dengan percaya diri yang tinggi. Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sejauh perubahan itu mengikuti hukum-hukum-Nya. Berpandangan jauh ke depan, menginspirasi, berani mengambil/menanggung risiko, transparansi, memperlakukan warganya dengan baik dan wajar, bukan dijadikan “ATM” diri.  Jika butuh bantuan orang lain, hendaknya mereka yang membantu itu memiliki ilmu yang relevan dengan tugas-tugas yang dipercayakan. Ingatlah, bahwa seorang pemimpin itu bertanggungjawab seumur hidup, dan di hari akhir kelak.

Masih banyak sebenarnya persyaratan bagi seseorang yang pantas untk menjadi pemimpin, bukan yang dipantas-pantaskan. Namun, semoga keenam persyaratan di atas cukup diketahui, dan dipahami, dan dijadikan salah satu acuan dalam menentukan pilihan Anda. Memang, tidak ada pemimpin yang sempurna, tetapi jangan pula sampai asal pilih, karena sudah diingatkan-Nya bahwa, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”Siap bukan? Selamat berdemokrasi yang sehat walafiat.  Berangkatlah ke TPS, dengan senyum, serius, tusuk, selesai, santai, no stres.**

 

*Penulis adalah purnatugas Dosen Fak Teknik UNTAN sejak 2020; warga Kalbar.

Editor : A'an
#cakada #pilkada 2024