Oleh: Sholihin HZ
BANYAK referensi yang bisa diangkat sebagai tanda seseorang dicintai Allah SWT. Ini mengandung makna bahwa menjadi orang yang dicintai Allah SWT dapat ditempuh dengan melakukan aktivitas yang mengundang ridha-Nya. Dari sekian banyak aktivitas yang mengundang ridha Allah adalah taubat. Allah SWT menyatakan bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang menyucikan diri. (QS. 2: 222).
Manusia yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah karena ini mustahil. Mereka yang baik adalah yang kala melakukan kekeliruan segera insaf, sadar dan istighfar. Di sinilah pentingnya hidayah. Hidayah untuk memohon ampun kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits disebutkan senantiasa melazimkan istigfar antara 70 hingga 100 kali. Betapa manusia mulia, al mushthofa, yang menjadi teladan manusia sepanjang masa, masih mengakui kesalahan dengan memohon ampun kepada Nya. Ini harus menjadi instrospeksi dan motivasi kita bahwa Allah SWT sangat memahami kita sebagai makhluk Nya yang bertabur dosa dan noda, tetapi dia juga yang membukakan pintu ampunan, rahmat dan kasih sayang-Nya bahwa sayang-Nya mengalahkan murka-Nya.
Termasuk orang yang disenangi Allah adalah mereka yang istiqamah. Istiqamah berarti orang yang berdiri di jalan kebenaran baik keistiqamahan hatinya maupun keistiqamahan amalnya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Allah menyukai orang yang beramal meskipun kecil atau sedikit. Ketahuilah, sesungguhnya yang Allah SWT bukanlah amal itu sendiri karena motif amal bisa saja bukan karena Allah. Allah SWT melihat sejauh mana konsistensi dan ketekunan dalam memposisikan dirinya sebagai abdullah (hamba Allah) dan yang terpenting sejauh mana tingkat keikhlasannya dalam beramal.
Ketekunannya dalam beramal menunjukkan bahwa ia merasa betah dengan kebaikan dan kadang keistiqamahan ini melahirkan keajaiban-keajaiban yang khusus Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya. Sehingga disebutkan bahwa "istiqamah bisa melahirkan karomah". Saudaraku, jadilah hamba yang istiqamah dalam beramal karena Allah SWT menyukai hal itu. Imam Syafii pernah berucap, “Ridha manusia merupakan tujuan yang tak mungkin ditaklukkan. Konsistensilah dalam mengerjakan setiap hal yang mengandung kemashlahatan untukmu.”
Mengundang ridha Allah berikut adalah dengan sikap tawakal. Tawakal adalah memasrahkan diri hanya untuk Allah SWT. Orang yang bersikap tawakal hakikatnya menyerahkan segala urusannya pada Allah. Namun, sebagai manusia yang dibekali potensi dan kompetensi maka keberhasilan yang diraih nantinya bukanlah karena jerih payahnya sebagai manusia tapi bahwa Allah "hadir" bersamanya. "Innallaaha yuhibbul mutawakkiliin", Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri.
Tawakal tumbuh dari pemahaman tauhid yang benar yang kemudian menjadi pola pikir kesehariannya. Seringnya menggunakan kata “kebetulan” adalah termasuk hal yang harus dikoreksi karena tidak satupun yang Allah ciptakan ini secara kebetulan, semuanya sudah disetting dan didesign secara rapi dan apik oleh Zat Pengatur Alam Semesta ini. Ada pesan penting dalam bertawakkal ini yakni tidak merusak sifat tawakkal dalam berkecimpung untuk urusan-urusan dunia selama dia hanya bergantung kepada Allah dan tidak bergantung pada urusan pekerjaannya. Dalam Qs. Ali Imran/ 3: 173 dinyatakan, “… Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Inilah diantara amal yang dapat menjadi media untuk menjadi hamba yang disukai Allah SWT. Bukan karena amalnya semata tetapi bahwa rahmat Allah-lah yang meliputi semuanya. Menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupan, merasa Dia selalu hadir dan meyakini Dia selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya dan selalu “tersenyum” menerima kedatangan hamba-Nya yang duduk simpuh taubat dihadapan-Nya adalah sinyal bahwa kita diinginkan Allah untuk selalu dalam dekapan kasih sayang Allah SWT.
Sebagai ulasan akhir, kiranya baik doa berikut untuk diucapkan sebagai permohonan agar Allah meridhoi apa yang kita hajatkan. Jika Allah sudah ridho maka segala ketidakmungkinan akan menjadi serba memungkinkan.
Allaahumma innii as aluka ridhooka wal jannah wa a'uuzubika min sakhothika wannaar (Ya Allah, aku mohon ridho-Mu dan surga-MU dan aku berlindung dari murka dan neraka-Mu). **
*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak dan Sekum PW IPIM Kalimantan Barat.
Editor : A'an