Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mitologi Agama di Tengah Kemajuan Sains dan Teknologi

Miftahul Khair • Sabtu, 23 November 2024 | 14:10 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

 

Agama selalu berangkat dari premis mayor, pernyataan positif. Oleh kultur dikonstruk menjadi premis minor (tanda petik), atau beralih status menjadi pernyataan negatif. Artinya, agama memiliki lampiran apakah yang bernama tafsir, takwil, terjemah. Jebakan ketiga ini terjadi saat umat Islam kontak dengan dunia blok barat (Roma) dan dunia blok timur (Persia). Pusat pertemuan tersebut di wilayah Syam. Syam termasuk kawasan Kufah, Basrah dan Palestina. Wilayah Syam sangat subur bagi perkembangan agama Yahudi dan Nasrani kala itu.

Ini yang menyebabkan ajaran-ajaran Islam yang awalnya berdinamika seputar Mekah Madinah, menjadi meluas (berdialog) dengan naskah-naskah Israiliyat (Yahudiyat dan Nasraniyat), serta bersinggungan dengan filsafat Yunani (skolastik). Misal, yurisprudensi hukum (usul-fikih) dikonstruk dengan meminjam hukum kausalitas, hukum kias (analogi), silogisme, konvensi, dan syarat-syarat jurnalistik (sanad, rawi, dan matan). Muncul istilah parsial (khas), universal ('am). Meminjam istilah hukum ruang dan waktu yang sempit (mudhayyaq), luas (muwassa') serta dampaknya. Asas hukum kesulitan (musyaqqah) yang membuka peluang kemudahan. Logika yang sebenarnya jika tidak dicermati dengan baik, dapat membuat agama jauh dari dalam diri pemeluknya.

Agama sudah menjadi bagian dari sains yang membuat garis demarkasi antara subjek dan objek beragama. Ditambah lagi dengan legenda Arab, Roma, Persia, Afrika, dan mitos kepercayaan saat bertuhan wajib terejawantah lewat kenyataan. Mitologi agama semakin subur saat difilmkan (artifisial), bukan esensial. Hari ini memantik pemurnian (furifikasi) terhadap naskah-naskah keagamaan. Lalu berupaya mendeferensiasi mana naskah asli, cuplikan, saduran, dan editan.

Akibatnya, kenyataan yang dihadapi adalah agama sulit menyatu pada diri penganutnya. Agama selalu dicari sisi salah dan sisi luar diri. Jadi yang tertimpa salah adalah pihak kedua, pihak ketiga. Lalu dibuat unsur pembenar, begitu seterusnya.

Ajang debat mewarnai abad pertengahan dunia Islam (the middle age). Ilmu Kalam harus bertanggungjawab terhadap warisan sejarah perdebatan Jabariyah-Muktazilah, Sunni-Syi'i, walau kompromi mereka ditangan Ahlussunnah. Namun sampai detik ini, belum menyelesaikan masalah. Wahana debat dan diskusi tersebut terus membentuk bentangan haluan organisasi keagamaan yang sektarian. Terakhir, berujung biasanya ujung-ujung duit.

Uraian agama yang seperti itukah yang akan diwariskan kepada generasi. Agama yang jauh dari diri pemeluknya. Agama yang selalu berhukum hitam-putih (salah-benar). Agama yang mengklaim dirinya paling benar, paling hebat (superioritas). Dengan mengabaikan keberadaan orang lain, dan sikap arogansi yang tidak dibenarkan. Menyeleksi kembali teori agama dan praktik keagamaan semakin penting. Sebab, agama tumbuh dan kembang dalam ruang budaya, politik, dan panggung sejarah kemanusiaan.

Dalam sejarah bisa terjadi kompromi negara dan agama. Kolusi ilmuwan, agamawan, negarawan,  hartawan demi stabilitas politik dan ekonomi publik. Dan mengangkat kepercayaan atas nama Tuhan  yang esa. Agama telah bercampur dengan ajaran, konsep, kultur, definisi dan adat (etika) lokal (akulturasi). Jadilah agama "doktrin luar diri." Terlupa dan terabai unsur terpenting dari dalam diri yaitu fitrah. Fitrah (roh bertuhan) atau bekal utama meniti titian kehidupan terselubung bahkan terkubur oleh jasad diri. Jasad diri adalah kubur penjara yang penuh jeruji besi. Bagi orang yang belum mengenal pengertian kubur. Kubur syariat atau kubur hakikat. Hakikatnya, di dunia ini adalah kubur dalam makna penjara. Logika ini dibangun atas landasan jasad diri mengurung roh. Sifat roh adalah bebas, karakter yang tidak dikepung oleh empat penjuru mata angin, tidak dibatasi oleh empat tembok, dan tidak dibatasi oleh empat waktu bagian (timur, barat, utara, selatan).

Bila roh dikepung ilmu, roh dikepung agama, roh dipenjara taat, roh diikat maksiat, roh dikubur nikmat, roh ditimpa bala', niscaya dunia adalah kubur. Roh (fitrah) dikubur oleh unsur-unsur duniawi (jasmani). Kapan roh merdeka bekerja, bekerja merdeka? Saat tubuh ini dikubur.

Maksudnya roh keluar bebas tanpa syarat dari penjara (kubur) jasad. Mengingat talkin bagi simayit, sebenarnya untuk manusia hidup karena hidup mereka di dunia adalah penjara. Talkin tidak berguna bagi si mayit, apabila selama masih hidup di dunia tidak digunakan untuk iman dan amal kebaikan (takwa). Demikian pula "kiriman" surah Yasin, tahlil dan doa, kalau si mayit tidak memiliki nomor rekening akhirat (takwa), sia-sialah kiriman (transfer) pahala.

Baca Juga: Namanya Disentil Kasus BP2TD, Cawagub Nomor Urut 1 Somasi 1x24 Jam

Posisi doa untuk si mayit hanya mengonfirmasi kepada orang-orang yang hidup untuk  mengaminkan (menyetujui) rahmat untuk yang didoakan. Sejatinya, bagi si-mayit yang takwa, menjadi sambungan silaturahmi. Agama-agama terdahulu (Israiliyat) memang menginginkan Tuhan dipersonifikasi dalam bentuk materi. Pemeluknya ingin Tuhan bisa dilihat. Dahaga theologis ini dijawab oleh Samiri (Yahudian). Samiri membuat Tuhan berupa patung anak sapi, sehingga hati mereka disiram oleh kecintaan menyembah anak sapi karena kekafiran mereka (wa usyribu fi qulubihimul 'ijla bikufrihim). Demikian pula dijejer arca orang-orang suci dalam persembahyangan. Dewadewa yang mereka namakan, mereka sembah dan nenek moyang mereka, agama leluhur.

Para Nabi ingin meyakinkan eksistensi transendental maha ada, maka ditransformasi menjadi eksistensi profan dalam mengambil bentuk mukjizat hissi (material). Kapal (Nuh), unta (Saleh), tongkat (Musa), ikan (Yunus), pohon (Zakaria), jamuan makanan (Isa), dan lainnya. Kecuali Muhammad dengan mukjizat maknawi (Alkitab, Alquran, Alfurqan). Selebihnya, banyak agama bergaya (style) kaligrafi, Tuhan dalam tulisan, gambar, skema, dan sketsa wajah. Lihat sekarang di masjid, gereja, vihara, dahulu tempat-tempat suci itu anti terhadap gambar.

Orang-orang terdahulu meyakini Tuhan esa yang esa Tuhan bukan literasi, dan bukan grafika (bukan cetakan). Untuk kepentingan bisnis percetakan, ornamen, lukisan, pahatan, masjid dan gereja semakin berbenah fisik. Kemudian aneka arca muncul disetiap sudut yang berlukisan. Semakin memperkuat postulat bahwa agama sama dengan Tuhan, dan Tuhan adalah agama.

Beragama hari ini adalah bukan mewarisi keyakinan di atas, berambisi dalam taat, dan menyumpah-melaknat kepada pelaku maksiat. Memuji manusia yang berlimpah nikmat, mungkin istidraj. Menghina kepada musibah, mungkin hidayah. Kebohongan (fitnah Dajjal) menjadi ciri abad ini. Manusia merubah ciptaan Allah, bukan membangun, namun merusak. Mereka katakan sedang membangun. Semoga tercerahkan, amin.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Miftahul Khair
#opini #sains #agama #mitologi