Oleh: Putri Kurniani*
DALAM era digital saat ini, di mana informasi dapat diakses dengan mudah, peran guru sebagai pendidik dan pembimbing menjadi semakin penting. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang untuk mendidik generasi muda agar tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik. Hari Guru, yang diperingati setiap tahun, menjadi momen refleksi bagi masyarakat Indonesia mengenai peran penting guru dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Namun, pada tahun 2024 ini, kita menyaksikan bahwa sosok guru semakin sering tidak dipandang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Hari Guru Nasional, yang diperingati setiap tanggal 25 November, seharusnya menjadi momen penting bagi generasi muda untuk menghargai dan memahami peran guru dalam kehidupan mereka. Di tengah arus informasi yang deras dan mudah diakses melalui internet, generasi muda perlu menyadari bahwa meskipun pengetahuan dapat diperoleh secara instan, bimbingan dan pengalaman seorang guru tetap sangat diperlukan. Hari Guru bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga kesempatan untuk merenungkan nilai-nilai yang diajarkan oleh guru dan bagaimana hal tersebut membentuk karakter mereka.
Kenyataan menunjukkan bahwa banyak guru saat ini tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Ada banyak kasus wali siswa melaporkan guru ke pihak yang berwajib tanpa memahami konteks atau latar belakang suatu peristiwa, seperti yang terjadi kepada Ibu Supriyani, yang dijebloskan ke penjara karena dituduh memukul muridnya yang merupakan anak polisi. Lalu, ada Pak Sambudi, seorang guru SMP di Banteng, yang divonis tiga bulan penjara karena mencubit muridnya yang tidak mau salat. Seorang guru yang seharusnya mengajar di sekolah malah harus menjadi narapidana akibat permasalahan yang dihadapinya. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah, namun ketika mendidik anak muridnya dengan cara yang sedikit keras, ancaman hukuman justru menanti.
Lalu, apa kabar dengan kasus yang sudah pasti melanggar hukum? Dalam beberapa kasus, tindakan ini dilakukan karena ketidakpuasan terhadap metode pengajaran atau hasil belajar anak mereka sendiri. Hal ini mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap profesi guru dan menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pendidikan yang diberikan.
Ada juga sebuah kasus di mana seorang guru honorer di Sukabumi menjadi pemulung usai mengajar karena gaji tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apa arti sosok guru sebenarnya? Selain itu, perilaku siswa yang tidak etis dan kurangnya rasa hormat terhadap guru semakin memperburuk citra profesi ini.
Realitas menunjukkan bahwa generasi muda saat ini cenderung kurang menghargai guru dibandingkan generasi sebelumnya. Pengaruh media sosial dan akses informasi yang mudah membuat siswa lebih cenderung mencari jawaban instan daripada menghargai proses belajar yang dibimbing oleh guru. Banyak siswa menganggap bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari internet tanpa perlu bimbingan seorang guru. Hal ini menciptakan kesenjangan antara nilai-nilai pendidikan tradisional dan cara belajar modern.
Peranan guru tidak bisa digantikan oleh hal-hal yang serba instan saat ini. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan; mereka adalah mentor, pemandu, dan inspirator bagi siswa. Dalam konteks pendidikan, guru membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan sosial yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran mandiri. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk pandangan siswa terhadap dunia. Mereka mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa yang melihat komitmen guru terhadap pendidikan dan nilai-nilai positif akan terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Oleh karena itu, meskipun teknologi dapat memberikan akses ke berbagai informasi, pengalaman dan bimbingan seorang guru tetap sangat diperlukan untuk membentuk karakter generasi muda.
Untuk mengatasi masalah kurangnya penghargaan terhadap guru, beberapa solusi konkret dapat diterapkan, yakni Pertama, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai peran vital guru dalam pendidikan. Masyarakat perlu memahami kontribusi guru dalam membentuk karakter generasi muda dan dampak positif yang mereka berikan kepada masyarakat. Sosialisasi edukasi dapat dilakukan untuk menyebarluaskan informasi ini sehingga masyarakat lebih menghargai profesi guru.
Kedua, orang tua harus berperan aktif dalam mendukung kegiatan sekolah dan menghormati keputusan serta otoritas guru di kelas. Dengan adanya dukungan ini, lingkungan yang menghargai profesi guru dapat tercipta sehingga meningkatkan motivasi para pendidik. Selain itu, pendidikan etika dan moral bagi siswa harus menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah. Siswa perlu diajarkan tentang pentingnya menghormati orang lain, termasuk guru mereka. Dengan demikian, generasi muda akan tumbuh dengan nilai-nilai yang menghargai jasa para pendidik.
Ketiga, para pendidik perlu terus mengembangkan keterampilan mereka agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pelatihan berkala mengenai teknologi pendidikan akan membantu mereka memanfaatkan alat digital secara efektif dalam proses pembelajaran.
Keempat, sekolah perlu bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memberikan kesempatan pembelajaran yang lebih luas bagi siswa. Kegiatan seperti kunjungan industri atau magang dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang dunia kerja sekaligus menunjukkan kepada mereka betapa berharganya peran guru dalam mempersiapkan mereka untuk masa depan.
Dengan solusi-solusi ini, diharapkan penghargaan terhadap guru dapat meningkat dan peran mereka sebagai pahlawan pendidikan semakin diakui oleh masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bangun generasi penerus bangsa dalam beretika yang baik, khususnya kepada guru yang begitu berperan dalam mencerdaskan anak bangsa. Selamat Hari Guru Nasional untuk semua guru dan calon guru di masa depan. Bermula dari penerus yang hebat, akan mewujudkan bangsa yang cerdas.
*Penulis adalah Anggota Family Research Center Of West Borneo
Editor : Miftahul Khair