Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*
Merindukan pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bersama adalah mimpi serta harapan semua masyarakat. Masyarakat merindukan pemimpin yang peduli terhadap masalah-masalah yang ada pada zaman ini, misalkan masalah ekonomi, sosial, politik, lingkungan hidup, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Ketika menonton debat para calon pemimpin di media seosial, hal yang urgen dibahas seputar masalah-maslah itu. Tentu semua pemimpin memiliki cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Pertanyaannya apakah ini menjadi nyata atau janji? Seogyanya semua persoalan itu perlu dijawab meski waktu lima menjabat sebagai pemimpin bukan waktu yang lama untuk menuntaskan persoalan-persoalan itu. Sekurang-kurangnya, pemimpin dari generasi ke generasi secara perlahan menjawab pokok persoalan yang ada di masyarakat, sehingga bertumbuh masyarakat yang sejahtera untuk generasi emas yang akan datang di tahun 2045. Menjadi pemilih cerdas untuk mewujudkan peradaban demokrasi itulah mimpi bersama sebagai masyarakat Indonesia.
Jika masyarakat menginginkan peradaban demokrasi itu terwujud secara merata, maka jadilah pemilih cerdas dengan suara hati yang jujur. Menjadi pemilih cerdas berarti tidak tergoda dengan tawaran-tawaran yang manis dan semu, tetapi menatap ke depan dalam mewujudkan perabadan demokrasi. Kekuatan pemilih cerdas ialah meniti kembali rekam jejak pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kekuatan visi-misi mendorong perubahan dan perkembangan hidup masyarakat untuk mewujudkan perabadan demokrasi.
Pemimpin Role Model
Pemimpin adalah figur dan teladan bagi semua masyarakat. Pemimpin menjadi salah satu indikator utama perubahan. Jangan sampai krisis teladan dari seorang pemimpin. Memang bukan hal yang muda. Karena yang dihadapi pemimpin begitu kompleks. Dalam konteks masyarakat global, pemimpin harus melakukan perubahan. Ingat! Yang selalu dikenang oleh masyarakat adalah pemimpin-pemimpin yang melaukan perubahan; tekun dan setia mewujudan peradaban demokrasi. Salah satu wujud konkrit perabadan demokrasi adalah pemberdayaan. Kehadiran pemimpin merupakan upaya untuk melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat, sekalipun tidak ada masalah.
Tujuan pemberdayaan membangkitkan kreativitas, inovasi menuju masyarakat yang mandiri. Ohoitimur mengutip perspektif Mangunwijaya dalam Piet Go (2004:210) menegaskan untuk mewujudkan pemberdayaan masyarakat memerlukan basis kecerdasan. Artinya program yang paling fundamental dari pemberdayaan masyarakat ialah pencerdasan. “Demokrasi hanya dapat datang dari bangsa yang berkebiasaan berpikir rasional, yang emosi-emosinya yang wajar lazimnya dikendalikan oleh otak. Suatu nasion demokrasi adalah nasion dari bangsa yang cerdas.” Kiprah seorang pemimpin sangat menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab gambaran hidup seorang pemimpin adalah gambaran hidup patriotisme tarhadap bangsa.
Terkesan Memikul Beban kepada Pemimpin
Kecenderungan yang dihadapi dalam realita konkrit bila ada permasalahan adalah tanggungjawab pemimpin. Tidak dalam sistem pemeritahan, salam satuan unit kerja pun, cenderung terjadi demikian. Terkesan memikul beban kepada pemimpin. Pertanyaannya apa kontribusi masyarakat terhadap perabadan demokrasi? Senada, Presiden ke 35 Amerika Serikat juga pernah menyampaikan pertanyaan kepada audiens pada pidato inaugurasinya, “Jangan bertanya apa yang telah negara berikan untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang telah Anda lakukan untuk negara?” Pertanyaan ini mengelitik bagi audiens, tetapi menarik untuk dapat direfleksikan antara peran pemimpin dan peran masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Santa Theresa Culcuta mengatakan “Jangan menunggu adanya pemimpin, lakukan sekarang juga.” Terkesan untuk melakukan perubahan, tunggu adanya pemimpin. Padahal, tidaklah demikian. Untuk mewujudkan perubahan, dapat dimulai dari diri sendiri. Ketik mampu melakukan perubahan dari diri sendiri, maka peran terhadap bangsa dan negara terwujud. Kontribusi terhadap bangsa dan negara menjadi kenyataan.
Meski dilihat dari dua perspektif dalam tulisan ini, menjadi pemilih cerdas berarti memilih dengan suara hati yang jujur serta menatap masa depan bangsa Indonesia menuju generasi emas 2045. Generasi emas akan terwujud kalau masing-masing menyadari peran penting sebagai pemimpin dan sebagai masyarakat. Keduanya memiliki peran terhadap bangsa dan negara. Pemimpin memiliki peran penting untuk melakukan perubahan dalam hidup bermasyarakat dan masyarakat memiliki kontribusi perubahan terhadap bangsa dan negara. Kedua peran ini tidak bisa saling mengabaikan. Tugas penting dari pemimpin adalah memberikan pelatihan-pelatihan atau pun kegiatan lainnya dalam menanggapi masalah yang urgen yang dialami masyarakat. Memilih dengan cerdas berarti memilih pemimpin sesuai dengan harapan. Pemimpin yang hadir untuk memberdayakan hidup masyarakat. Pemimpin yang mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi di masyarakat.**
*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak, Alumni USD Yogyakarta.
Editor : Miftahul Khair