Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Deeplearning Bukan Kurikulum

Miftahul Khair • Selasa, 3 Desember 2024 - 12:32 WIB
Muhajir.
Muhajir.

Oleh: Mujahir*

 

Ada anggapan setiap pergantian Menteri Pendidikan selalu berganti kurikulum. Hal itu dapat dikatakan tidak selalu benar. Perubahan kurikulum penting karena menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kurikulum di Indonesia telah berkali-kali berubah, ini tahapan pelaksanaan kurikulum di Indonesia sejak kemerdekaan.

Tahun 1947, kurikulum pertama kali  disebut dengan kurikulum rencana pembelajaran. Yakni, kurikulum yang memberi penekanan terhadap pembentukan karakter sebagai warga negara Indonesia dengan kedaulatan dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kurikulum ini mulai diterapkan pada 1950.

Tahun 1952, yang disebut dengan Kurikulum Rencana Pembelajaran Terurai. Yakni kurikulum  pendidikan yang sudah mengalami penyempurnaan dimana sudah terdapat rincian mata pelajaran dan telah memakai silabus sebagai bahan pokok pembelajaran dimana setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Tahun 1964, kurikulum yang dibentuk penghujung era Presiden Soekarno. Kurikulum menerapkan program Pancawardhana uang bertumpu pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Pada masa ini, mata pelajaran mulai dikelompokkan menjadi lima bagian, meliputi bidang studi jasmaniah, moral,keprigelan (keterampilan), kecerdasan dan emosional/artistik. Sementara untuk tingkat pendidikan dasar hanya menekankan pada kegiatan fungsional praktis dan pengetahuan.

Kurikulum 1968 yaitu pada masa ini terjadi perubahan kurikulum Indonesia dari Pancawardhana menjadi pengetahuan dasar, pembinaan jiwa pancasila, dan kecakapan khusus. Melalui kurikulum ini, diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kecerdasan serta pengembangan secara fisik yang kuat dan sehat.

Tahun 1975, yang disebut Kurikulum 1975. Sistem pendidikan mulai terinci dengan baik dilihat dari materi, metode, serta tujuannya sesuai dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Setiap satuan pelajaran pada kurikulum ini, meliputi petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), alat pelajaran materi pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.

Tahun 1984, disebut Kurikulum 1984. Yakni kurikulum 1975 yang disempurnakan dimana siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Kurikulum ini mengutamakan pada pendekatan proses.  Pendekatan proses ini dilakukan mulai dari proses mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, sampai melaporkan hasil. Model pembejaran ini disebut dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Tahun 1994, yang disebut dengan Kurikulum 94  atau K-94. Yakni, sebuah kurikulum operasional pendidikan yang telah digunakan oleh masing-masing satuan pendidikan sejak tahun ajaran 1994/1995 sampai 2003/2004. Kurikulum 1994 merupakan revisi dari penyempurnaan kurikulum 1984 dan pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang no. 2 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Terjadi perbedaan sistem pembagian waktu pelajaran pada kurikulum ini, yakni dari sistem semester berubah menjadi sistem caturwulan. Melalui pembagian sistem caturwulan ini, dalam satu tahun terdapat tiga tahapan yang dapat memberi kesempatan untuk siswa supaya memperoleh materi pelajaran yang cukup banyak.

Tahun 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK). Kurikulum ini merupakan pengganti kurikulum 1994, yakni kurikulum yang memadukan antara pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang terlihat melalui kebiasaan berpikir dan bertindak.  Kurikulum ini tercatat tiga unsur pokok penting meliputi pemilihan kompetensi sesuai, pengembangan pembelajaran dan spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi.

Tahun 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini tidak jauh berbeda dengan KBK jika dilihat dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran sampai evaluasi secara teknis yang diterapkan di sekolah. Hanya saja, pada kurikulum KTSP ini guru dibebaskan merancang perangkat pembelajarannya sendiri sesuai dengan keadaan dan kondisi siswa serta lingkungan sekolah tersebut.

Tahun 2013,  Kurikulum2013. Mulai diterapkan pada Januari 2015, kurikulum ini memberi penekanan terhadap pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dengan ini, guru diharapkan bisa memotivasi siswa supaya dapat melakukan observasi, bernalar, bertanya, dan menyampaikan apa yang telah dipahami siswa usai proses belajar mengajar.

Tahun 2021, Kurikulum Merdeka. Sementara pihak sekolah juga diberi kewenangan untuk pengembangan serta pengelolaan kurikulum pembelajaran berdasarkan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. (sumber: www.klikpendidikan.id)

Tahun 2024, tahun ini Kurikulum tidak mengalami perubahan hanya pendekatan yang mengalami perubahan. Perubahan dipenghujung tahun 2024 ini, dan penerapannya pada tahun 2025. Sesungguhnya kurikulum saat ini cenderung masih Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan menggunakan pendekatan Deeplearning. Pendekatan deeplearning ini untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pendekatan yang lebih mendalam  dan fokus pada keterlibatan aktif. Pendekatan  deeplearning  memiliki tiga pilar yaitu mindfullLearning, meaningfull learning, joyfull learning. Tujuan ketiga pilar itu adalah untuk menciptakan suasana belajar yang lebih mendalam, bermakna  dan menyenangkan bagi siswa. Pendekatan deeplearning merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menteri Pendidikan menyebutkan pendekatannya adalah mengurangi volume materi, tetapi dengan mengeksplorasi mendalam. Pendekatan deeplearning ini seperti pendekatan CBSA pada Kurikulum 1984. Pernah berlaku pendekatan saintifik, pendekatan CTL. Pendekatan semua itu untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengungkapkan kurikulum deepLearning dirancang untuk membantu siswa memahami materi secara lebih baik melalui metode, yang menekankan  pada pemikiran kritis dan eksploratif.

Menurut menteri, ada tiga pilar. Yakni, mindfull learning, menghargai keunikan dan keterlibatan siswa. Memberikan ruang pada siswa untuk lebih aktif dalam pelaksanaan pembelajaran dalam menyikapi perbedaan kebutuhan dan potensi setiap individu siswa. Dalam kegiatan ini diharapkan keterlibatan langsung siswa melalui diskusi, eksperimen dan eksplorasi terhadap materi yang diajarkan. Misalnya. Saat membahas konsep-konsep Sains. Guru diharapkan tidak memberikan teori, tetapi diharapkan mengajak siswa memahami materi tersebut ke dalam dunia nyata. Contohnya pembelajaran tentang air dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ini dapat dilakukan melalui eksperimen laboratorium atau praktik terbimbing untuk mempelajari peran air dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mempelajari realitas dalam kehidupan sehari-hari.

Meaningfull learning merupakan pentingnya pembelajaran yang relevan. Pada pendekatan meaningfull, siswa diajak memahami alasan dibalik setiap pelajaran yang mereka pelajari. Pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mengaitkan pelajaran dengan penerapan di dunia nyata dengan harapan siswa termotivasi dan antusias.

Joyfull Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang bukan hanya menyenangkan, melainkan juga pendekatan ini mengedepankan kepuasan pada pemahaman yang mendalam. Pendekatan ini memberikan pengalaman pada pembelajaran yang bermakna, sehingga siswa tidak hanya senang tetapi benar-benar memahami materi yang diajarkan. Contoh pelajaran sejarah tidak hanya pembelajaran yang menghafal, namun memahami kontek historis yang lebih mendalam.

Pendekatan Deepleraning diperkirakan akan dimulai tahun 2025 seiring dengan pembenahan Infrastruktur dan pelatihan guru. Perubahan mindset guru menjadi lebih penting terutama dalam paradigma pembelajaran. Seiring perubahahan dalam pendekatan pembelajaran, Kementerian khususnya  Kemendikdasmen memperioritaskan enam agenda. Pertama, penguatan pendidikan karakter. Kedua, program pendidikan belajar 13 tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan yang meliputi afirmasi pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Ketiga, peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru. Keempat, penguatan pendidikan unggul, literasi, numerasi dan saint teknologi. Kelima, perbaikan dan pemenuhan sarana dan prasarana yang meliputi renovasi sekolah. Keenam, pembangunan bahasa dan sastra.

Untuk mensukseskan pendidikan dengan pendekatan Deeplearning pemerintah menyusun program prioritas. Adapun program prioritas, antara lain, pertama penguatan pendidikan karakter dipertegas dengan pelatihan pendidikan konseling dan pendidikan nilai untuk guru kelas, peningkatan kualitas untuk guru BK dan guru agama, pengangkatan guru BK, penanaman karakter tujuh kebiasaan anak indonesia dan makan siang  bergizi. Kedua, program wajib belajar 13 tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan yang meliputi afirmasi pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Misalnya, rumah belajar, pendidikan jarak jauh dan paud serta memfasilitasi relawan mengajar. Ketiga, peningkatan kualifikasi, kompetensi dan kesejahteraan guru yang meliputi peningkatan kualifikasi pendidikan guru minimal S1 atau D4, pelatihan kompetensi guru, serta peningkatan kesejahteraan melalui sertifikasi. Keempat, penguatan pendidikan unggul, literasi, numerasi dan sains teknologi. Program ini meliputi pendidikan matematika, sains dan teknologi sejak anak usia dini, pendirian sekolah unggul ,dan pengetahuan sekolah unggul, penguatan pendidikan vokasi, kejuruan dan pelatihan. Kelima, pemenuhan dan perbaikan sarana dan prasarana hal ini terimplementasi renovasi sekolah. Keenam, pembangunan bahasa dan sastra meliputi pemartabatan bahasa negara, pelindungan bahasa daerah, penginternasionalan bahasa Indonesia, dan peningkatan literasi.

Dalam mempersiapkan pembelajaran yang berpendekatan deeplearning, maka pemerintah  mensosialisasikan atau mengkampenyekan  Gerakan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dengan komitmen bangun pagi, beribadah, berolah raga, gemar belajar/membaca, bermasyarakat/ bersosialisasi, tidur awal, makan sehat / bergizi. Perubahan ini semoga memberikan manfaat sehingga Indonesia Emas dapat terwujud sesuai cita-cita.**

*Penulis adalah Widyaprada Ahli Utama BPMP Kalimantan Barat.

Editor : Miftahul Khair
#Deep Learning #opini #kurikulum