Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Refleksi Hari AIDS Sedunia

A'an • Rabu, 4 Desember 2024 | 11:45 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi

 

SATU Desember dikenal sebagai Hari AIDS Sedunia. Berbagai aktivis menggelar aksi dalam rangka “perang terhadap AIDS”, ada juga yang melakukan aksi simpatik dengan membagikan pita merah, bunga, dan lain-lain. HIV/AIDS memang menjadi perhatian dunia saat ini, bahkan menjadi salah satu penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi seluruh lapisan masyarakat. Betapa tidak, penyakit yang satu ini bisa membawa kematian. Memutus mata rantai HIV/AIDS merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk memberangus penyakit mematikan itu dan setia pada pasangan yang sah, baik menurut agama maupun negara.

Gambaran PBB mengenai masa kanak-kanak normal yang mengidap HIV/AIDS sebagai akibat dari ulah orangtuanya telah menjadi bahan ejekan bagi berjuta-juta orang. Anak-anak di dunia itu polos, rentan, dan bergantung pada orang lain. Mereka juga mempunyai rasa ingin tahu, aktif, dan penuh harapan serta ingin memiliki harapan hidup yang sama seperti anak-anak sebaya mereka. Waktu-waktu mereka seharusnya masa bahagia dan damai, masa bermain, belajar, dan bertumbuh bersama orang lain. Masa depan mereka seharusnya dibentuk dalam keharmonisan dan kerja sama. Kehidupan mereka seharusnya bertumbuh dewasa selagi mereka memperluas perspektif dan menimba ilmu pengetahuan.

Anak-anak adalah titipan sekaligus harta berharga dan anugerah dari Sang Khalik. Namun, anak-anak bisa menjadi yatim karena orangtuanya mengidap HIV/AIDS, mereka hidup di jalanan, menjadi pengungsi, atau dipaksa masuk ke dalam pelacuran atau menjadi tenaga kerja di bawah umur. Tragisnya, sekilas pandang saja akan perubahan citra masa kanak-kanak bagi berjuta-juta anak yang hidup dalam keadaan yang susah, cukup untuk menggambarkan seberapa besar kerugian yang mereka rasakan, dan hilangnya kesempatan mereka atas untuk mengalami masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan.

Sangat tidak masuk akal jika anak-anak, yang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT. harus mengalami penderitaan bawaan dari orangtua yang mengidap HIV/AIDS tanpa harapan dalam hidup mereka. Pada awal milenia ini, hampir sepertiga dari penduduk dunia berusia di bawah 15 tahun; yaitu sekitar 1,8 milyar.” (Global evangelization movement, 2000). Dari semua anak-anak yang lahir saat ini, 80 persen hidup di negara berkembang di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan sebagian Eropa di mana lazim terdapat kemiskinan yang ekstrim. Menurut UNICEF, 130 juta anak-anak usia sekolah dasar tidak mempunyai akses untuk pendidikan, sehingga mereka tidak memiliki sarana untuk keluar dari siklus kemiskinan. (The state of the world's children, 1999). Diperkirakan antara tahun 1998 dan 2025, ada 4,5 milyar anak-anak akan dilahirkan, membuat tantangan ini kian membesar, demikian World population profile (1998).

Kerugian ini antara lain kehilangan keluarga, kasih sayang dan pemeliharaan ayah-ibu; kepolosan dan harga diri; kesempatan pendidikan; rasa aman; keutuhan jasmani; identitas dan status; kemampuan untuk percaya; kebutuhan dasar seperti makanan dan kebersihan; dan harapan, yang sering disebutkan oleh anak-anak sebagai kerugian terbesar. (Schoots, 1998)

Setiap hari, anak-anak akan sering mengalami kejadian yang mungkin memaksa orang dewasa sekalipun untuk menyerah. Mereka sendiri, didiskriminasi, dan menderita sakit, tanpa kasih sayang, tanpa harapan, dan tanpa rasa kehadiran orangtuanya yang meninggal dunia akibat penyakit HIV/AIDS yang diderita. Ketika anak-anak hidup di saat situasi yang traumatis seperti itu, harapan mereka diganti dengan keputusasaan. Tawa ceria dan semangat riang mereka diganti dengan ketakutan, kesangsian, dan kesedihan. Mereka menanggung beban dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari selayaknya bagi mereka. Mereka mengalami rasa putus harapan yang sangat dalam, dan mereka tidak melihat adanya kesempatan untuk mengembangkan karunia mereka yang diberikan kepadanya.

Malangnya, anak-anak dipaksa untuk belajar ‘dua pelajaran hidup’ yang menyakitkan dan tragis. Pertama, dunia ini bukanlah lagi tempat yang aman untuk hidup, dan kedua, orang dewasa tidak selalu dapat dipercaya. Melalui pengalaman pribadinya dengan penderitaan yang dihadapi anak-anak bisa saja menjadi terlantar, berkeliaran di jalanan, mereka ‘dibuang’ dan diasingkan oleh masyarakat, dan bahkan mereka bisa saja menjadi sosok yang akan dieksploitasi serta dimanfaatkan dalam hal-hal yang tidak manusiawi.

Penyakit AIDS diawali dari hubungan di luar nikah, sebagai akibat dari perbuatan yang tidak senonoh bahkan azab dari Allah SWT kepada setiap hamba yang melanggar aturan beragama. Waspadai di setiap pergantian tahun baru kelak, sebagaimana di tahun-tahun sebelumnya, banyak di antara penduduk bumi ini yang merayakannya penuh dengan kemaksiatan dan hal-hal yang sia-sia, seperti kumpul kebo yang pada akhirnya menjadi free sex, na’udzubillahi min dzalik. Oleh karenanya, jangan jadikan pesta pergantian tahun baru 2025 nanti dengan hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Ingatlah, hidup di dunia ini hanya sebentar saja dan di akhirat nanti setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban. Wallahualam.**

           

*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : A'an
#hari aids sedunia