Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kalimantan Barat: Model Agroforestri Berbasis Kearifan Lokal yang Mendukung Agenda Nasional dan Internasional

Miftahul Khair • Rabu, 4 Desember 2024 | 13:08 WIB
Prof. Dr. Ir. H Gusti Hardiansyah, M.Sc, QAM.
Prof. Dr. Ir. H Gusti Hardiansyah, M.Sc, QAM.

Oleh: Prof. Dr. Ir. H Gusti Hardiansyah, M.Sc, QAM*

 

Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi besar untuk menjadi model agroforestri berbasis kearifan lokal yang relevan dengan agenda nasional dan internasional. Sistem tradisional seperti tembawang—kebun hutan campuran khas masyarakat Dayak dan Melayu—tidak hanya berfungsi sebagai penopang ketahanan pangan dan konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai model adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan mengintegrasikan konsep agroforestri intensif, seperti agro-silvo-pasture, Kalbar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi hijau yang selaras dengan Astacita Prabowonomics, yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan.

Tembawang sebagai Solusi Adaptasi Perubahan Iklim

Tembawang adalah kebun hutan campuran yang menjadi bagian penting dari kearifan lokal masyarakat Kalbar. Sistem ini menggabungkan berbagai tanaman bernilai ekonomi seperti durian, tengkawang, gaharu, dan karet, dengan tanaman pangan serta obat-obatan. Keanekaragaman hayati yang tinggi dalam tembawang membuatnya lebih tahan terhadap perubahan iklim dibandingkan sistem monokultur. Pohon-pohon seperti karet juga berfungsi sebagai penyerap karbon yang berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Selain perannya dalam keberlanjutan ekologis, tembawang juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat lokal melalui hasil panen buah, lateks dari karet, dan produk non-kayu seperti madu dan bumbu-bumbuan. Model tembawang dapat diperkuat dengan mengintegrasikan praktik agroforestri intensif, seperti agro-silvo-pasture, yang menambahkan komponen peternakan ke dalam sistem. Hal ini meningkatkan produktivitas lahan sekaligus diversifikasi pendapatan bagi petani lokal.

Pengembangan Agroforestri untuk Family Farming, Smallholder, dan Corporate AF

Untuk memaksimalkan potensi agroforestri di Kalbar, pengelolaannya dapat dikembangkan dalam tiga skala utama.

Family Farming Agroforestry (AF), yakni skala keluarga dengan fokus pada diversifikasi hasil untuk kebutuhan rumah tangga dan pasar lokal. Komoditas utama: bumbu-bumbuan (jahe, kunyit), tanaman pangan, dan durian tembawang. Strategi: Pelatihan petani dalam teknik agroforestri sederhana seperti tumpangsari dan penggunaan tanaman multiguna.

Smallholder Agroforestry (AF), yakni petani kecil dengan fokus pada peningkatan hasil dan akses pasar. Komoditas utama: kopi, cokelat, karet. Strategi: Pembentukan koperasi petani untuk memperkuat akses pasar, termasuk sertifikasi produk organik atau fair trade.

Corporate Agroforestry (AF), yakni skala besar yang melibatkan perusahaan dalam pengelolaan lahan agroforestri. Komoditas utama: sawit, karet, dan kopi dalam sistem agroforestri intensif. Strategi: Kemitraan perusahaan dengan masyarakat lokal untuk memanfaatkan lahan secara berkelanjutan.

Analisis 4C Landscape dalam Agroforestri Intensif

Pendekatan 4C (Change, Competitor, Consumer, Company) memberikan kerangka bisnis yang kuat untuk pengembangan agroforestri intensif di Kalbar.

Change (Perubahan Ekosistem dan Pasar), yakni perubahan ekosistem seperti degradasi lahan dapat diatasi melalui restorasi berbasis agroforestri intensif. Perubahan pasar menunjukkan peningkatan permintaan global untuk produk ramah lingkungan seperti madu hutan, kopi organik, kakao dan kratom.

Competitor (Pesaing dalam Industri), yakni agroforestri bersaing dengan sistem monokultur seperti perkebunan sawit skala besar, namun memiliki keunggulan dalam keberlanjutan ekologis dan ekonomi jangka panjang.

Consumer (Konsumen dan Permintaan Pasar), yakni konsumen lokal diuntungkan dengan ketersediaan bahan pangan dan obat-obatan. Konsumen internasional menunjukkan minat tinggi pada produk seperti kopi organik dan kakao dari sistem agroforestri.

Company (Perusahaan dan Model Bisnis), yakni perusahaan dapat memanfaatkan agroforestri sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dengan fokus pada produksi berkelanjutan.

 

Kolaborasi dengan Mitra GCF dan Tropenbos Indonesia

Mitra internasional seperti Green Climate Fund (GCF) dan Tropenbos Indonesia memainkan peran penting dalam mendukung pengembangan agroforestri di Kalbar.

Pendanaan dan Restorasi Lahan

GCF memberikan hibah untuk restorasi lahan terdegradasi dengan pendekatan agroforestri intensif. Tropenbos Indonesia mendukung implementasi lapangan dengan melibatkan masyarakat lokal.

Pengembangan Infrastruktur Pasar

GCF mendanai pembangunan infrastruktur pemasaran produk agroforestri seperti madu hutan, kopi, dan kakao. Tropenbos Indonesia memfasilitasi sertifikasi produk untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Pemantauan dan Evaluasi

Tropenbos Indonesia membantu dalam pemantauan dampak sosial dan ekologis, sedangkan GCF menyediakan teknologi dan dana untuk evaluasi keberlanjutan.

Relevansi dengan Astacita Prabowonomics

Di bawah kerangka Astacita Prabowonomics, agroforestri di Kalbar berkontribusi pada, pertama, Ketahanan Pangan Nasional, Agroforestri yang menggabungkan tanaman pangan, pohon bernilai ekonomi, dan peternakan meningkatkan ketersediaan pangan lokal serta mengurangi ketergantungan pada impor; kedua, Ekonomi Hijau dan Berkelanjutan, model agroforestri berbasis kearifan lokal mendukung pembangunan ekonomi hijau dengan menciptakan lapangan kerja berbasis sumber daya alam yang lestari.

 

Kesimpulan

Kalbar memiliki peluang besar untuk menjadi model agroforestri berbasis kearifan lokal yang mendukung adaptasi perubahan iklim dan pertumbuhan ekonomi hijau. Dengan mengintegrasikan konsep agroforestri intensif seperti agro-silvo-pasture, mengembangkan skala pengelolaan (Family Farming, Smallholder, dan Corporate AF), serta memanfaatkan analisis 4C Landscape, Kalbar dapat mempercepat implementasi solusi agroforestri yang relevan secara nasional dan internasional. Kemitraan dengan Green Climate Fund (GCF) dan Tropenbos Indonesia memberikan peluang strategis untuk memperkuat posisi Kalbar sebagai pelopor agroforestri berkelanjutan dalam kerangka Astacita Prabowonomics.

*Penulis Guru Besar Fahutan Untan Pontianak

Editor : Miftahul Khair
#opini #agroforestasi #kearifan lokal