Oleh: Alkindi, S.Pd*
“Tidak semua pembaca adalah pemimpin tetapi semua pemimpin adalah pembaca.” Demikian diungkapkan Harry S, Truman, Presiden Amerika ke- 33. Jadi nspirasi yang memberi motivasi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin hebat di masa depan dengan segudang ilmu pengetahuan. Ungkapan “tidak semua pembaca adalah pemimpin” memberikan segudang makna bahwa meskipun banyak sekali orang yang membaca, tetapi tidak semuanya memiliki kemampuan atau kecenderungan untuk menjadi seorang pemimpin. Membaca memberikan pengetahuan dan wawasan yang luas, tetapi menjadi seorang pemimpin memerlukan lebih dari sekadar pengetahuan. Kualitas lain seperti kemampuan mengambil keputusan, berempati, berkomunikasi efektif, serta memiliki visi dan motivasi yang kuat juga penting dalam kepemimpinan. Jadi, membaca adalah salah satu jalan untuk mendapatkan informasi, tetapi menjadi seorang pemimpin melibatkan keahlian dan sikap yang lebih luas dari pada hanya membaca.
Ungkapan “tetapi semua pemimpin adalah pembaca" berarti sejatinya seorang pemimpin idealnya harus memiliki pembiasaan, kebiasaan dan rutinitas membaca untuk memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan, dan terus belajar sepanjang hayat. Membaca memungkinkan pemimpin untuk terus memahami berbagai perspektif, mengikuti perkembangan informasi terkini, dan membuat keputusan lebih tepat dan bijaksana, serta berpikir secara kritis dalam memberikan segala solusi permasalahan yang ada, dengan mencari informasi dari berbagai arah dan menentukannya dengan seadil adilnya.
Membaca bukan hanya tentang buku semata, tetapi juga tentang mencari informasi yang relevan dan terupdate, sharing and growing together, belajar dari pengalaman orang lain, dan mengembangkan potensi diri agar dapat memimpin dengan lebih baik. Pemimpin yang baik cenderung terus belajar sepanjang hidupnya “life long education”, dan salah satu cara utama untuk melakukannya adalah dengan membaca dan menulis.
Beberapa contoh tokoh–tokoh besar bangsa Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Sultan Syahrir, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), BJ Habibie, merupakan orang - orang terpelajar yang menjadikan kegiatan membaca, menulis, diskusi gagasan sebagai pembentukan landasan kompetensi intelektual dalam setiap langkah memimpin dan membangun gerakan kebangsaan. Para pemimpin ini memperlihatkan bagaimana kebiasaan membaca dapat memengaruhi wawasan dan kebijakan yang mereka ambil dalam memimpin bangsa.
Pada dewasa ini, kegemaran membaca buku (hari ini dengan beragam variasi digitalnya, e-book, e-informasi, buku inpirasi dan motovasi, kemampuan menulis, menuangkan gagasan dan berbicara yang baik, membutuhkan intelektual literasi. Jika seorang pemimpin tak pernah membaca buku, hampir bisa dipastikan yang bersangkutan tidak mempunyai intelektualitas yang mumpuni. Sehingga tak mampu menjelaskan dan melayani berbagai pertanyaan serta diskusi untuk menggali pemahaman berpikir kritis.
Pemimpin hebat dan literasi memiliki hubungan yang sangat erat. Pemimpin yang hebat sering kali adalah mereka yang memiliki kecintaan terhadap literasi baik itu membaca, menulis, atau berpikir kritis karena kemampuan literasi tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memupuk kebijaksanaan, kemampuan analisis, serta pemahaman mendalam terhadap tantangan yang dihadapi.
Pemimpin yang hebat selalu gemar membaca dan memiliki wawasan yang luas serta perspektif yang mendalam tentang berbagai isu. Literasi juga memungkinkan mereka untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang lebih inovatif dan efektif. Dengan mengakses berbagai ide, teori, dan pengalaman dari buku atau sumber literatur lainnya, pemimpin dapat mengembangkan pandangan yang lebih komprehensif tentang dunia, masyarakat, dan tantangan global.
Selanjutnya literasi mengajarkan pemimpin hebat untuk berpikir kritis dan analitis. Kemampuan berpikir kritis ini sangat penting bagi seorang pemimpin dalam menyusun strategi, merumuskan kebijakan, dan mengambil keputusan yang berdampak luas. Dengan banyak membaca, mereka terlatih untuk menganalisis informasi secara objektif, mengevaluasi bukti, dan membuat keputusan yang berdasarkan data, bukan asumsi atau spekulasi.
Selain itu kemampuan berkomunikasi adalah salah satu ciri utama seorang pemimpin yang hebat, dan literasi sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan ini. Mereka mampu mengartikulasikan visi, strategi, dan pesan mereka dengan cara yang mudah dipahami, baik oleh tim mereka maupun oleh publik. Pemimpin yang rajin membaca dan menulis memiliki kosa kata yang kaya dan pemahaman yang mendalam tentang cara menyampaikan ide dengan jelas dan persuasif.
Life long education, pemimpin hebat adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar. Dunia terus berubah, dan pemimpin yang gemar membaca dapat terus memperbarui pengetahuan mereka tentang tren terbaru, inovasi, dan tantangan global. Dengan kemampuan literasi yang kuat, pemimpin mampu mengikuti perkembangan dan beradaptasi dengan cepat, baik dalam hal teknologi, ekonomi, maupun politik.
Literasi memungkinkan pemimpin untuk terhubung dengan ide-ide besar dari pemikir-pemikir terdahulu, mulai dari filsuf, ilmuwan, hingga pemimpin dunia. Pemimpin yang hebat sering kali adalah visioner, yang mampu melihat melampaui realitas saat ini untuk membangun masa depan yang lebih cerah, dan literasi membantu mereka merumuskan visi tersebut. Melalui bacaan, mereka dapat belajar dari pengalaman sejarah dan menerapkan pelajaran-pelajaran tersebut untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Literasi bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga alat untuk membangun pemikiran yang dalam, wawasan yang luas, serta kemampuan kepemimpinan yang hebat. Pemimpin yang literat tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati, kemampuan komunikasi yang kuat, dan pandangan yang visioner. Literasi memungkinkan mereka untuk tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memimpinnya ke arah yang lebih baik. Dengan literasi yang kuat, seorang pemimpin mampu menghadapi tantangan, menginspirasi orang lain, dan menciptakan perubahan yang berdampak luas.**
*Penulis adalah pegawai BPMP Provinsi Kalbar.
Editor : Miftahul Khair