Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Merawat Legasi Pantun

A'an • Jumat, 13 Desember 2024 | 10:55 WIB
Khairul Fuad
Khairul Fuad

Oleh: Khairul Fuad

 

17 Desember  2020 hampir lima tahun berjalan kini, menjadi masa bersejarah bagi negeri ini dan masyarakatnya. Hari itu PBB melalui UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Intangible Heritage. Masyarakat Melayu pastinya tersanjung karena tradisi yang selama ini melekat memperoleh pengakuan secara global. Tradisi bagian tamaddun (civilization) Melayu secara defacto dan dejure  tersambung dengan akar yang jelas melalui jumhur pendapat para pakar dan pemangku kebijakan mendunia terkait.

Proses WBTB pantun tentunya sangat panjang apalagi menyangkut dunia global, validasi, verifikasi, apapun istilahnya harus dijalani demi kesahihan pantun. Tidak cukup menghitung hari, tetapi menjelajahi hari demi hari demi pantun empat larik, berpola ab-ab, dan perlu perimbangan rima agar berirama saat diperdengarkan. Meskipun demikian, pantun telah menjembatani komunikasi, menemani dan mengiringi Melayu dengan segala tradisinya.

Melalui pantun, segala komunikasi mudah terjembatani dalam koridor serius, tetapi tetap terkesan santai sehingga rasa membeku menjadi lumer. Proses meminang sebagai satu dari tradisi masyarakat Melayu dari dulu sampai sekarang, selalu tidak ketinggalan media pantun untuk memperlancar maksud dan tujuan. Acara-acara lain pun sekarang-sekarang ini masih memanfaatkan media pantun di samping menjebatani komunikasi, juga mudah memberi tahu runtutan acara.

Oleh karena itu, Kalimantan Barat sebagai bagian tamaddun Melayu, selain euforia WBTB pantun mendunia, juga upaya  terus memelihara legasi tersebut. Melalui pantun, ingatan kolektif (collective memory) tetap terpelihara terkait tradisi-tradisi Melayu. Tunjuk ajar, norma-etika, sejarah, dan agama, tersebarkan melalui pantun karena dirasa media ini mudah sebagai transformasi pengetahuan sekaligus akrab di tengah masyarakat Melayu.

Hari Pantun Nasional (Hartunas) merupakan ikhtiar menjaga legasi WBTB dunia sekaligus memelihara tradisi ikonik Melayu. Melontarkan pantun saja secara otomatis tertuju pada budaya dan tradisi Melayu. Kemungkinan juga, terjadi simbiosis mutualisma antara pantun dan bahasa Melayu, yaitu lingua franca Nusantara, berkembang bahasa Indonesia, bahasa resmi NKRI dan sebelumnya menusantara, kini pantun telah mendunia.

Hartunas wujud kepedulian masyarakatnya terhadap tradisinya, dalam hal ini masyarakat Kalimantan Barat yang lekat juga dengan tradisi-budaya Melayu. Perhelatan tersebut diisi dengan beberapa kegiatan seperti Bincang-Bincang TVRI Kalbar pada 10 Desember 2024 bertajuk Pantun, Karakter Budaya Yang Nyaris. Berturut-turut Jursastra pada 11 Desember 2024 di SMAN, Pantun Mendunia dari Balai Kerja MABM pada 17 Desember 2024, Webinar Hartunas pada 17 Desember 2024, dan Obituari Pejuang Pantun pada 18 Desember 2024.

Langkah seremonial tersebut upaya merayakan keberhasilan tradisi pantun menembus kancah global bersama tradisi-tradisi global lainnya. Di sisi lain, upaya terima kasih kepada semua pihak terkait, baik di dalam negeri dan luar negeri, yang telah bertungkul lumus bahwa pantun layak dan pantas sebagai warisan dunia (World legacy). Pihak-pihak terkait tidak bisa disebut satu per satu yang telah mengorbankan segalanya demi pantun yang terdiri dari empat larik dengan sampiran dan isi, berpola ab-ab. Termasuk, penelitian-penelitian terkait Malay world dipastikan kontribusinya untuk memperkuat bahwa pantun itu warisan dunia.

Memang sederhana unsur pantun, tetapi tidak sesederhana itu, ada banyak hal kait-terkait sehingga langgeng (evergreen) hingga sekarang. Sederhana saja, proses panjang telah dilalui pantun, bila ditelusuri dibutuhkan durasi panjang untuk menjadi sebuah pengetahuan. Hampir acara apa sekarang ini, baik resmi apalagi tidak resmi, yang tidak terkait dengan pantun, bahkan di beberapa kesempatan orang orang mendapat blessing in disguise karena memainkan komunikasi pantun dalam sebuah acara.

Baca Juga: Benteng Kokoh Melawan Radikalisme

Hartunas sebagai acara seremonial tetap saja terkendala sifat seremonial semata, rundown acara selesai maka ditutup sudah layarnya. Akan tetapi, tidak sesederhana itu pastinya tujuan yang akan dicapai melalui perhelatan ini, besar kemungkinan adanya efek domino terhadap aspek-aspek kehidupan, misalnya aspek pendidikan. Aspek ini sangat strategis melalui pemberdayaan pantun, pastinya rasa bahasa berbeda timbul di setiap jenjang pendidikan (likulli maqam maqal). Bukan tidak mungkin muncul spekulasi-spekulasi bahasa demi kebutuhan kreatifitas pantun, dan spekulasi itu sendiri berpeluang menambah perbendaharaan bahasa Indonesia meski harus berproses dahulu. 

Harapannya, Hartunas kembali menghelat di tahun mendatang dan tahun-tahun yang akan datang. Merayakan pantun dari kita, oleh kita, untuk kita, dan kini untuk semua, tidak hanya nusantara, tetapi dunia. Pada gilirannya, para leluhur meski telah gugur, baik di medan tempur maupun pergulatan kultur, ternyata berupaya penuh memantaskan generasinya sebagai bangsa luhur melalui pantun, sebuah legasi yang adiluhung.**

 

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).

Editor : A'an
#pantun