Oleh: Fitria Ramadhany
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah berada pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang mengalami AIDS, tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan. Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga dapat menjalani hidup secara normal.
Di Indonesia, penyebaran dan penularan HIV paling banyak disebabkan oleh hubungan intim yang tidak aman dan penggunaan jarum suntik tidak steril saat memakai narkoba. Seseorang yang terinfeksi HIV dapat menularkannya kepada orang lain bahkan sejak beberapa minggu setelah tertular. Kelompok orang yang berisiko terinfeksi HIV dan AIDS adalah orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondom, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual, orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik, orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain, pengguna narkotika suntik, dan orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik.
Gejala HIV dan AIDS tergantung pada tahap infeksi. Tahap pertama biasanya tidak menimbulkan gejala selama beberapa tahun. Pengidap akan mengalami gejala mirip flu beberapa minggu setelah terinfeksi, seperti demam, nyeri tenggorokan, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening, diare, kelelahan, nyeri otot, dan nyeri sendi. Tahap kedua umumnya tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun. Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Penularan infeksi dapat terjadi, dan tahap ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.
Tahap ketiga, daya tahan tubuh pengidap menjadi sangat rentan sehingga mudah sakit. Kondisi ini dapat berkembang menjadi AIDS dengan gejala seperti demam terus-menerus lebih dari sepuluh hari, merasa lelah setiap saat, sulit bernapas, diare berat dalam jangka waktu lama, infeksi jamur pada tenggorokan, mulut, dan vagina, bintik ungu pada kulit yang tidak hilang, hilang nafsu makan, dan penurunan berat badan drastis.
Tes HIV harus dilakukan untuk memastikan apakah seseorang mengidap HIV. Pemeriksaan melibatkan pengambilan sampel darah atau urine yang akan diteliti di laboratorium. Jenis-jenis pemeriksaan HIV meliputi tes antibodi, tes antigen, hitung sel CD4, pemeriksaan viral load (HIV RNA), dan tes resistensi. Pemeriksaan ini bertujuan menentukan obat antiretroviral (ARV) yang tepat karena beberapa pengidap memiliki resistensi terhadap obat tertentu.
Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV, pengobatan dengan ARV dapat memperlambat perkembangan virus. ARV bekerja dengan mencegah virus menghancurkan sel CD4. Jenis-jenis ARV meliputi Etravirine, Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, dan Nevirapine. Selama pengobatan, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 setiap 3–6 bulan serta memeriksa HIV RNA setiap 3–4 bulan. Pengidap harus segera mengonsumsi ARV setelah didiagnosis untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sistem kekebalan tubuh. Kepatuhan pada jadwal pengobatan sangat penting; jika dosis terlewat, segera konsumsi dosis yang terlupakan dan lanjutkan jadwal berikutnya. Namun, jika banyak dosis terlewat, konsultasikan dengan dokter.
HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi serta kanker tertentu seperti Pneumocystis Pneumonia (PCP), kandidiasis (sariawan), tuberkulosis (TB), dan sitomegalovirus.
Langkah-langkah untuk mencegah penularan HIV dan AIDS meliputi menggunakan kondom baru setiap kali berhubungan intim, menghindari hubungan intim dengan lebih dari satu pasangan, bersikap jujur kepada pasangan jika mengidap HIV dan mendorong pasangan untuk melakukan tes HIV, mendiskusikan penanganan kehamilan jika didiagnosis positif HIV untuk mencegah penularan ke janin, dan melakukan sunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV.
Baca Juga: Rabun Jauh pada Anak Tidak Sebatas Penggunaan Kacamata
Jika mencurigai baru saja terinfeksi HIV, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan obat post-exposure prophylaxis (PEP), yang harus dikonsumsi selama 28 hari dan terdiri dari tiga jenis ARV. Jika kamu atau anggota keluarga mengalami gejala di atas, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
*) Mahasiswa Administrasi Kesehatan Itekes Muhammadiyah Kalimantan Barat
Editor : A'an