Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pijat vs Pengobatan Medis

A'an • Jumat, 17 Januari 2025 | 09:53 WIB
Alya Febria Fatmawati.
Alya Febria Fatmawati.

Oleh: Alya Febria Fatmawati

 

KETIKA dihadapkan pada sebuah kata “sakit”, masyarakat akan memilih untuk menggunakan jasa pengobatan tradisional atau tenaga medis kesehatan. Pada kasus-kasus tertentu, ada Sebagian warga masyarakat yang lebih menyukai pengobatan tradisional seperti mencari tukang urut/pijat untuk kesembuhannya.

Terapi pijat/urut bukan hal salah untuk dilakukan. Salah satu bentuk terapi alternatif yang banyak digunakan untuk meredakan gejala penyakit tertentu. Terapi ini tidak hanya dapat memberikan efek relaksasi, tetapi juga efektif untuk mengatasi stres dan meredakan nyeri. Pijat adalah aktivitas memberi tekanan pada anggota tubuh, terutama kulit, otot, dan urat, dengan teknik atau metode tertentu. Terapi pijat dapat ditemukan diberbagai tempat, mulai dari salon, spa, hingga jasa terapis pijat tradisional yang dapat dipanggil ke rumah.

Selain sebagai metode relaksasi, terapi pijat juga dapat memberikan beragam manfaat lain bagi kesehatan. Ada beberapa manfaat terapi pijat. Pertama, meredakan sakit kepala. Terapi pijat bisa bermanfaat untuk meringankan keluhan sakit kepala, termasuk migrain. Studi menunjukkan bahwa terapi pijat dapat meredakan gejala nyeri dan memperbaiki kualitas tidur pada orang yang sering merasakan sakit kepala atau migrain.

Kedua, meringankan nyeri punggung. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa pijat dapat mengatasi gejala nyeri punggung kronis. Namun, manfaat terapi pijat sebagai metode pengobatan nyeri punggung masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Ketiga, mengurangi nyeri sendi. Nyeri dan kaku pada sendi merupakan salah satu keluhan yang cukup umum terjadi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh radang sendi atau osteoartritis. Studi menunjukkan bahwa terapi pijat bisa dilakukan sebagai terapi tambahan untuk meringankan nyeri dan meningkatkan pergerakan sendi pada penderita radang sendi.

Keempat, mengurangi stress. Terapi pijat diketahui dapat membantu tubuh untuk meningkatkan empat jenis hormon yang menimbulkan perasaan bahagia, yaitu serotonin, dopamin, endorphin, dan oksitoksin. Peningkatan hormon-hormon tersebut tentu dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks, sehingga stres yang dirasakan sebelumnya pun akan berkurang.

Kelima, memperbaiki kualitas tidur. Pijat yang dilakukan secara rutin terbukti dapat menurunkan tingkat depresi dan rasa cemas serta meningkatkan kualitas tidur. Hal ini karena pijat dapat memicu pelepasan hormon serotonin, yaitu hormon yang dapat menimbulkan rasa tenang. Penelitian menunjukkan bahwa terapi pijat dapat bermanfaat bagi penderita insomnia yang telah menopause atau menderita gagal jantung kongestif.

Keenam, merangsang pembentukan jaringan otot. Kelumpuhan, stroke, atrofi otot, atau multiple sclerosis adalah beberapa jenis kondisi yang dapat menyebabkan menyusutnya jaringan otot. Untuk merangsang kembali pembentukan jaringan otot yang menyusut, terapi pijat bisa dilakukan sebagai terapi tambahan.

Namun dibalik manfaat terapi pijat untuk Kesehatan, ada juga resiko yang bisa dialami terutama bila tidak dilakukan oleh terapis profesional. Berikut ini adalah beberapa risikonya seperti Patah tulang, cedera saraf dan bekuan darah

Berbagai risiko di atas akan lebih memungkinkan terjadi pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti osteoporosis, gangguan pendarahan atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah, luka bakar atau luka yang belum sembuh sempurna, penyakit kulit menular, seperti kutil, kerusakan saraf. Oleh karena itu, jika memiliki kondisi medis tertentu. Sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter sebelum melakukan terapi pijat.

Terkait dengan terapi pijat, pada awal tahun 2025 ini, penulis mengalami sakit parah. Fenomena yang terdapat di kampung penulis, masyarakatnya lebih cendrung menggunakan jasa pengobatan alternatif seperti tukang urut yang ada di kampung. Perilaku ini penulis alami dimana ketika sakit hanya dilakukan dengan pengobatan di rumah dan diurut berhari-hari serta berharap penyakit akan hilang sendiri. Namun seriring waktu, pengobatan tersebut tidaklah membawah hasil dan penyakit yang dirasakan semakin kuat. Melihat kondisi yang semakin parah, barulah muncul keinginan untuk membawa ke tenaga kesehatan yang professional seperti bidan, Puskesmas dan rumah sakit.

Pasan yang penulis ingin sampaikaan bahwa terapi pijat/urut bukan tidak baik untuk kesehatan. Terapi pijat/urut sangat baik dilakukan apabila dianosanya tepat mana penyakit yang dapat disembuhkan dengan terapi pijat/urut dan mana yang tidak bisa dilakukan dengan pengobatan pemijatan.

Kekakuan pikiran yang dipahami semua penyakit dapat dilakukan dengan pemijatan, tentu dapat membahayakan bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Tenaga medis professional seperti perawat, bidan maupun dokter pasti memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih paham dalam dianosa suatu penyakit. Bahkan tenaga-tenaga kesehatan memiliki cabang-cabang keilmuan yang semakin kompleks sesuai dengan perkembangan penyakit saat ini.

Kesimpulan yang ingin disampaikan bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih pelayanan kesehatan. Pilih layanan kesehatan sesuai dengan penyakitnnya. Jangan paksakan semua penyakit dapat dilakukan dengan pengobatan terapi pijat. Jika dinilai sakit yang kita alami tidak tepat dengan pemijatan/urut sebaiknya pergi kepelayanan kesehatan yang aman seperti ke puskesmas, rumah sakit, atau klinik Kesehatan agar mendapatkan pelayanan yang sesuai dan terjamin. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan, karena merawat lebih baik daripada mengobati.**

 

*Penulis adalah mahasiswa Administrasi Kesehatan ITEKES Muhammadiyah Kalimantan Barat.

Editor : A'an
#Pengobatan Medis #pijat