Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Asosiasi Masjid Kampus Indonesia sebagai Sumber Daya Manusia Kalbar

A'an • Rabu, 22 Januari 2025 | 10:22 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran

 

HARI pelantikan pengurus Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) wilayah Provinsi Kalimantan Barat masa bakti 2024-2028 menjadi sinyal bagi kebangkitan baru masjid-masjid di kampus. Mengingat sekarang, masjid kampus seakan mati suri. Bagai kerakap tumbuh di batu.

Hidup segan, mati tak mau. Padahal masjid adalah simbol dan gerakan perdamaian. Masjid tidak sekadar bangunan sakral yang menyejarah, tidak sebatas artefak. Namun, kerja fungsional masjid wajib mengambil peran di tengah arus globalisasi yang deras. Bagaimana mendekatkan netizen dengan masjid, tidak hanya berupa sedekah makanan dan minuman gratis usai salat jumat. Atau, pembagian zakat fitrah yang saban tahun menjadi ikon masjid.

Dr. H. Baidhillah Riyadi. S.Ag, M.Ag, selaku ketua PW AMKI Kalbar periode 2024-2028 menyemangati umat dan pengurus untuk memberikan perhatian terhadap kemakmuran dan kesejahteraan masjid. Artinya, masjid merupakan satu pilar dari pilar-pilar berbangsa dan bernegara menuju Indonesia emas (2045).

Dalam perjalanan sejarah, masjid sudah berperan maksimal saat menjaga keutuhan NKRI. Ketika masa penjajahan, masa kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. Kala damai dan konflik. Buktinya, masjid Al-Fatah di Ambon, menjadi aksi perdamaian yang mampu menampung ribuan pengungsi akibat konflik yang berbau SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).

Masjid tidak sebatas bangunan yang memiliki sudut timur-barat, utara-selatan. Namun SDM (sumber daya manusia) masjid terpenting untuk dibina. Diharapkan masjid berfungsi ibarat pelataran (halaman depan) peradaban.

Masjid adalah rumah Allah. Siapa yang masuk ke dalamnya, sungguh dia telah menjadi tamu Allah SWT. Dan Allah SWT yang paling berhak memuliakan dan menghormatinya. Program brilian selama empat tahun masa bakti, masjid kampus selayaknya membuat etalase layanan yang langsung bersentuhan dengan civitas akademika kampus. Asistensi dan advokasi dosen terhadap mahasiswa dalam peningkatan SDM nasional dan trans nasional.

Masjid menjadi pusat penyebaran pesan perdamaian. Masjid menjadi amunisi umat dalam berhadapan dengan kejahatan kemanusiaan. Masjid sebagai solusi terhadap masalah akademik dan non akademik. Masjid memberikan arah jalan rohani, perlindungan, kehidupan, dan kesejahteraan lahir batin. Perlu pertolongan dari Allah, dan kerja sama yang baik dengan semua elemen bangsa.

Masjid, ruang terbuka tanpa bayar. Ruang luas tanpa sekat komunitas. Siapa yang masuk ke dalam, dipastikan aman. Tidak ditanya KTP dan kartu identitas lain. Bahkan Snouck (orientalis Belanda yang bekerja pada pemerintahan Hindia-Belanda) dengan menyamar nama Abdul Ghaffar, berhasil memasuki kota Mekah (the sreat moslem) dalam keadaan aman.

Masjid sudah tiba waktunya untuk dibuka 24 jam. Bagaimana kesaksian hari ini, SPBU buka 24 jam tanpa takut maling. Supermarket buka 24 jam tanpa khawatir dijarah. Hotel, rumah sakit, kantor polisi, buka 24 jam (non stop) melayani, melindungi umat. Era digital hari ini, layanan halo dokter, sudah 24 jam. Mengapa masjid riskan untuk didekati dan malu untuk membuka diri?

Dibuka waktu menjelang zuhur, ditutup dan dimatikan ac, meski masih ada yang salat sunnah ba'diyah zuhur. Dibuka lagi menyambut asar. Tutup buka, buka tutup masjid seperti portal di kompleks perumahan. Bukankah hamba Tuhan selalu merapat tanpa memperhitungkan waktu dan tanpa jumlah batas bilangan tasbih. Namun bermesraan tiada jeda, berkelanjutan tiada henti (sustainable, istimrar).

Kehadiran AMKI adalah kembali membangun kesadaran baru yang terlupakan (recounsiusness) bahwa sungguh masjid untuk semua (for all) umat. Tidak terbatas oleh ajaran kelompok dan golongan tertentu. Bukan masjid NU, bukan masjid Muhammadiyah, bukan masjid Wahabi, bukan masjid Sunni. Menegaskan kesadaran bahwa masjid Allah bukan tempat untuk mengangkat nama kelompok dan menjatuhkan kelompok lain.

Firman Tuhan dalam surah Al-jin ayat 18, "Dan sesungguhnya, masjid-masjid adalah milik Allah. Jangan kamu menyeru (taat) kepada siapapun didalamnya bersama Allah, sembahlah Allah saja (ahad)."

Hari ini, kesucian masjid harus dijaga, seiring dengan keramahan masjid sebagai pranata pelayan umat. Untuk gagasan indah inilah, AMKI dilahirkan. Jangan pengurus masjid menjadi jumawa dihadapan umatnya sendiri. Ketika masjid bekerja hanya menghitung pemasukan kas (kredit), pengeluaran kas (debet), dan sisa kas (saldo). Saat masjid menjadi angker bagi anak-anak, dan menjadi momok bagi remaja. Padahal, anak dan remaja adalah harapan dan cita-cita masjid yang kita titipkan di pundak mereka.

Tiba masanya, masjid wajib ramah ibu dan anak. Masjid pelindung orang-orang miskin, masjid pecinta anak-anak yatim. Lebih lanjut, kehadiran masjid menjadi corong perluasan ilmu pengetahuan, rahmat bagi lingkungan. Untuk wilayah Pontianak, radius antar masjid ke masjid sangat dekat. Bahkan ada yang berdampingan jalan. Mengingat demikian, cukuplah kewajiban menyejahterakan umat disekitarnya. Bukan lagi merehab dan melantai-duakan masjid. Lalu, siapa yang mengisinya?

Kecuali ramai ketika salat jumat, sekali sepekan. Dan salat dua hari raya, dua kali dalam setahun.

Sisanya, ruang-ruang yang mubazir. Alangkah bermanfaat lagi berhikmah, jika saldo masjid disalurkan dengan cepat, segera. Guna kebaikan menyambung hidup orang-orang fakir, miskin, musafir secara kontinyu. Masjid memberi beasiswa pendidikan untuk anak yatim. Masjid mendonasikan infak jamaah kepada umat yang sakit dan kehilangan pendapatan harian. Endingnya, masjid wajib hadir menjadi rahmat bagi umat. Wallahua'lam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak;  pengurus AMKI Kalbar bidang Pengembangan Dakwah.

Editor : A'an
#AMKI Kalbar #pelantikan