Oleh: Eka Hendry Ar
PUASA Ramadan telah tiba. Umat Muslim bersuka cita menyambut kedatangannya. Setelah sekian lama berkesempatan menjalankan ibadah puasa Ramadan, setiap kita tentu memiliki “diary Ramadan” yang berisi catatan pengalaman menjalankan ibadah puasa. Dimana diary tersebut akan dibuka setahun sekali. Karena dibuka setahun sekali, diarynya mungkin berkapuk dengan debu. Tahun ini kita berkesempatan membuka lagi diary tersebut, membersihkannya, membuka halaman demi halaman. Mungkin sambil tersenyum, namun boleh jadi juga sambil menitikkan air mata.
Pada halaman awal, tertulis catatan perjalan puasa kita dari awal kita mulai belajar puasa. Ayah dan bunda melatih kita dari sejak dini mengenal ibadah puasa. Kita diajarkan melafadzkan dan menghafal niat puasa bersama-sama. Kemudian, bunda membangunkan kita sahur, agar kita belajar mengikuti makan sahur. Meskipun sulit sekali membangunkan anak kecil, namun ayah dan bunda dengan sabar membangunkan kita, mengajak kita ikut sahur, dengan segala bujuk rayu. Kadang dijanjikan dengan makanan kesukaan, dan kadang dijanjikan akan mendapatkan hadiah jika ikut berpuasa. Semula kita puasa beberapa jam saja, kemudian perlahan setahap demi setahap kita mulai memperpanjang durasi puasa kita, setengah hari sampai kemudian satu hari full.
Pada halaman berikutnya kita tersenyum simpul, tertulis “diam-diam (curi-curi)” meneguk minuman, karena terasa sangat dahaga. Kemudian, kita gembira ikut ayah dan bunda pergi tarawih di masjid, sembari berjumpa teman-teman sebaya. Kita lebih banyak bermain ketimbang salat. Namun ayah bunda tidak lantas berhenti membawa kita ke masjid, meskipun mereka tahu kita hanya bermain. Paling-paling dinasehati, agar saat sholat jangan bermain dulu. Ya, nama saja anak-anak, dibilang berkali-kali, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Diam sejenak, nanti lupa, dan main kembali.
Pada halaman-halaman berikutnya, kita mungkin tertawa, karena tercatat kita berbuka bersama bersama ayah, bunda dan saudara-saudara dengan penuh kehangatan. Meskipun menu yang dihidangkan oleh orang tua kita sangat sederhana dan ala kadarnya, namun tidak mengurangi sedikit pun kegembiraan kita. Tidak jarang buka puasa dihiasi dengan pertengkaran kecil, rebutan makanan dan minuman, namun tetap penuh kehangatan. Namun kini, itu semua tinggal kenangan, karena saat ini kita telah dewasa, dan telah berkeluarga. Kita tidak lagi berbuka bersama ayah dan bunda. Tidak juga lagi berbuka dengan abang, kakak dan adik. Karena semuanya, sudah dewasa dan menjalani kehidupannya masing-masing. Terkadang ada kerinduan akan suasana tersebut. Jika orang tua dan saudara tinggal satu kota maka, kenangan tersebut bisa diulang dengan ifthar bersama. Namun jika tinggal berjauhan kota, hanya saling menyapa dan bercanda melalui WhatsApp dan video call, sembari menikmati menu berbuka di meja yang berbeda.
Pada halaman berikutnya, mungkin kita akan menitikkan air mata. Tertulis di halaman tersebut, kursi di meja makan yang selama terisi semua, namun kini satu-satu telah tiada. Pada puasa sebelumnya, ayah bunda masih bersama kita, tetapi puasa kali ini salah satu atau keduanya telah tiada. Pada bulan puasanya, saudara-saudara kita masih lengkap saat makan bersama, kini salah satunya telah tiada. Karena telah terlebih dahulu menghadap kepada Sang Maha Kuasa. Kini yang tertinggal kenangan senyuman, tawa, suara serta tingkah polahnya.
Pada halaman berikutnya tercatat perjalanan ibadah selama Ramadan. Terlihat catatan ibadah kita pada Ramadan-Ramadan sebelumnya masih jauh dari maksimal. Kita baru sebatas menahan lapar dan dahaga. Namun, belum mampu sepenuhnya mempuasai diri secara rohani seperti menjaga lisan, menjaga penglihatan, menjaga hati dan perbuatan. Kita memang setiap tahun ikut Salat atarawih, namun baru sebatas ikut-ikutan, tanpa ilmu dan pemahaman yang baik. Kita juga turut berbagi dengan infak dan sedekah, namun belum sepenuhnya memahami arti ikhlas. Kita juga ikut euphoria menanti lailatul qadr, setiap malam di sepuluh malam terakhir kita selalu mengikuti itikaf dan sahur di masjid. Saya menyebutnya euphoria, karena memang sekarang jadi trend itikaf bersama. Masjid-masjid akan penuh dengan jama’ah itikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Fenomena ini tentu saja mengembirakan, secara kasat mata ini petunjuk bahwa meningkatnya ghirah beragama umat Islam. Namun, dalam diaryku, akan mencatat aku belum menemukan hakekat lailatul qadr bagiku, meskipun aku hadir di keramaian itikaf tersebut.
Halaman terakhir, catatan diary Ramadan tahun lalu tertulis, “Aku belum sempat menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh sanak saudara dan para sahabat." Maka di awal halaman diary Ramadan tahun ini, saya mengores beberapa catatan penting prioritas. Pertama, ingin meng up grade pengetahuan dan kualitas puasa Ramadan tahun ini. Kedua, ingin menyelami seluk beluk ibadah selama Ramadan kali ini. Ketiga, harus menyampaikan permohonan maaf dari hati yang paling tulus, kepada seluruh saudara dan sahabat, atas segala salah dan khilaf dalam pergaulan sehari-hari. Perindahlah catatan diary Ramadanmu.**
*) Penulis adalah Founder Ngopi Senandung dan Dosen IAIN Pontianak.
Editor : A'an