Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rabu Abu Awal Puasa Katolik

A'an • Selasa, 11 Maret 2025 | 10:32 WIB
P. Adrianus Asisi.
P. Adrianus Asisi.

 

Oleh: P. Adrianus Asisi

 

PADA tahun 2025 ini, ibadat puasa Katolik hampir bersamaan dengan ibadah puasa dari Saudara kita beragama Islam. Ibadah puasa umat Islam dimulai tanggal 1 Maret 2025 dalam kalender Masehi. Kemudian tanggal 5 Maret 2025, umat Kristiani memulai ibadat puasa, ditandai dengan pengenaan abu di kening sebagai tanda umat siap menjalankan ‘Retret Agung’ selamat 40 hari melakukan refleksi diri dalam peristiwa tersebut. Tulisan ini hanya mengarah pada puasa dalam tradisi Katolik.

Rabu Abu istilah yang dipilih oleh umat Katolik, harus bertepatan dengan pada hari Rabu, tak bisa digantikan hari lain. Pada hari tersebut, umat diberikan tanda salib abu di kening. Abu yang dipilih berasal dari abu pembakaran benda rohani daun palma yang digunakan dan diberkati pada perayaan iman Minggu Palma tahun sebelumnya. Dikumpulkan oleh umat ke gereja, dibakar dan ditambahkan air suci lalu dalam antrean, umat buatkan tanda saling dikening oleh Pastor atau Prodiakon.

Abu menandakan bahwa kita berasal dari tanah dan nanti kembali ke tanah, sementara abu bagian dari tanah. Saat penulis menghadiri Misa Rabu Abu membuat catatan khusus dari Homili Pastor Yopi Paulus, M.Sc. yang menekankan tiga hal dari menjelani Puasa kali ini, yaitu berdoa, memberi derma/sedekah, serta puasa dan pantang. Tentu dengan argumentasi lain sebagai catatan tambahan.

Hal berdoa, firman Tuhan mengatakan, “Koyakkanlah hatimu jangan pakaianmu.” Cara berdoa, jangan sampai diketahui oleh orang lain, yaitu masuklah kamar, kunci rapat, lalu berdoa. Dalam ajaran Katolik, menekankan bahwa doa merupakan ungkapan dari rasa syukur, permohonan, penyesalan, dan penyembahan kepada Tuhan. Doa yaitu tindakan kebijakan moral yang dilakukan untuk mengenal Allah dan meminta kebaikan dari-Nya.

Hal berderma atau sedekah. Dalam tradisi Katolik, bahwa berpuasa bukan berarti tidak makan, hanya mengurangi porsi makan, makan satu kali kenyang sedangkan dua kali tidak kenyang, maksudnya dua tidak kenyang itu, penyisihannya (dalam bentuk lain tentunya) untuk disumbangkan. Apapun kondisinya, termasuk keadaan miskin. Ada pengalaman, salah satu, misalnya ketika masak (baca: menanak nasi) biasa empat canting, selama 40 hari puasa cukup tiga canting, sisanya 1 canting disimpan tempat tertentu untuk didermakan lewat gereja.

Dalam tradisi ajaran Katolik untuk menampung dalam mengurangi jatah tersebut, umat Katolik diajak berderma, disimpan dalam Amplop Aksi puasa (APP). Jumlah bukanlah menjadi target yang diberikan atau dimasukkan ke dalam APP, tetapi ketulusan hati untuk berderma.

Hal puasa dan pantang. Beberapa tradisi di daerah terentu, seperti daerah penulis. Pantang tidak makan daging hewan berdarah panas, yang bisa mengatur suhu tubuh/tidak terpengaruh oleh suhu lingkungan (homoiterm), tapi boleh makan daging berdarah dingin (seperti ikan, kelompok pisces) dan seperti kodok (kelompok amphibia), dan seperti kadal-kadalan (kelompok reptilia). Hewan berdarah dingin adalah kelompok hewan yang mengatur tubuhnya dengan memanfaatkan sumber panas ekternal, seperti matahari. Hewan berdarah dingin disebut pula sebagai hewan ektomik. Akan tetapi kelompok aves dan mamalia, seperti ayam, babi, sapi dan lainnya tidak boleh dikonsumsi selama pantang dan puasa.

Dalam iman Katolik, tidak seperti itu, karena dengan berpantang berarti tidak membeli makanan yang mahal-mahal. Bisa jadi dalam prinsip orang kami, bahwa ayam serta kelompok Mamalia merupakan makanan mahal, sehingga menurut daerah tertentu tersebut layak tidak dikonsumsi saat pantang dan puasa tersebut.

Pada kesempatan lainnya, P. Yopi menyampaikan arti pantang. Saat berpantang dan berpuasa tidak membeli makanan yang mahal. Dia mencontohkan saat beliau turun ke kampung ketika masa Prapaskah. Beliau disuguhi udang lobster. Jika dikalkulasi harga lobter tersebut lebih mahal dari harga sapi persatuan kilogram. Padahal, harganya mahal.

Meski banyak tradisi seperti itu, tetapi kurang tepat utamanya saat berpantang dan berpuasa tersebut. Maksud dari berpantang dan berpuasa tersebut adalah mengurangi porsi makan dan makanan, lainnya disisihkan lalu disumbangkan ke orang lain. Mengurangi belanja berlebihan. Melakukan berpuasa dan berpantang, bukan dilakukan bersungut-sungut.

Jadi, dalam tradisi iman Katolik berpuasa yang dilangsungkan dalam waktu 40 hari tersebut, memiliki esensi bahwa sebagai umat Katolik diajak mendekatkan (lebih-lebih waktu) berdoa kepada Tuhan, berbagi dengan saudara yang kekurang dalam bentuk derma yang disalurkan dalam bentuk Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Ajaran Katolik juga mengajak umat mengikuti peristiwa jalan salib yang laksanakan setiap Jumat selama Prapaskah dan diakhiri dengan Jumat Agung daam rangkaian perayaan Paskah. Empat kali hari Jumat dalam Prapaskah, umat Katolik berkumpul untuk merenungkan ,kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus. Dimaksudkan, dengan mengenang kembali peristiwa tersebut, umat Katolik makan menyadari betapa besar kasih Allah kepada umat-Nya. Umat Katolik disadarkan akan segala dosa yang menyebabkan Yesus menderita sengsara hingga wafat di kayu salib.

Jalan salib terdapat dua peristiwa dalam 14 peristiwa yang dicatatkan dalam panduan jalan salib. Perhentian keempat. Yesus bertemu dengan ibu-Nya, Bunda Maria. Umat Katolik diingatkan untuk mengikuti teladan Bunda Maria dalam mendampingi orang yang menderita.

Harapannya agar umat Katolik didorong umntuk lebih berani ambil bagian dalam keprihatinan sesama utamanya di sekitarnya. Umat menjadi sahabat sejati bagi orang yg menderita, sehingga menjadi sahabat-Mu sendiri.

Perhentian kelima, Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene. Dalam menjalani kisah sengsara, hingga sebanyak tiga kali jatuh (perhentian 3, 7, dan 9), hal ini karena Yesus sebagai manusia sangat letih dan lemah. Maka serdadu menahan seorang bernama Simon dari Kirene, dan mengenakan Salib besar dari Yesus untuk ditolong oleh Simon.

Memanggul Salib merupakan ukuran kelayakan seorang pengikut Yesus, karena Yesus sendiri bersabda, “Siapa saja tidak memikul salib-Nya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (bdk. Mateus 19:28).”

Bagi umat Kristen salib merupakan beban yang harus dipikulnya. Namun, umat Katolik harus mampu memilkul beban berat, kalau saling membantu. Kitab suci menyampaikan, “Bertolong-tolonglah, menanggung bebanmu! Maka kamu memenuhi hukum Kristus (bdk. Galatia 6:2)”.

Dalam perhentian ke-V tersebut, umat Katolik disadarkan untuk meringkan beban penderitaan orang lain. Umat Katolik bersyukur karena, melalui derma atau sedekah kepada sesama yang memerlukan, pengikut-Mu Yesus perkenankan untuk ambil bagian dalam Salib-Mu yang berat. Semoga demi Engkau, umat Katolik tidak takut menolong sesama yang sedang menderita, apa pun resikonya. Semoga.**

 

*Penulis adalah guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, alumnus S-2 FKIP Universitas Tanjungpura, Kalbar.

Editor : A'an
#puasa #rabu abu