Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kecerdasan Emosional Guru dan Segitiga Restitusi

A'an • Rabu, 12 Maret 2025 | 10:14 WIB
Lia Hizriani Rivaie, S.Pd
Lia Hizriani Rivaie, S.Pd

 

Oleh: Lia Hizriani Rivaie, S.Pd

 

APA yang akan terjadi jika seorang pendidik kurang dalam pengelolaan emosi? Bagaimana pandangan murid yang melihat guru yang dengan kemarahan meledak-ledak, tidak empati, kurang ramah, memotong pembicaraan murid? Apa sebaiknya yang perlu kita lakukan dalam menghadapi semua hal tersebut?

Kecerdasan emosional dan segitiga restitusi menjadi kuncinya. Dua hal tersebut bukanlah yang baru dalam dunia pendidikan. Segitiga restitusi menjadi proses mengembalikan anak bermasalah menjadi berdaya positif setelahnya. Ditambah pengelolaan kecerdasan emosional dituntut adanya kemampuan pribadi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mampun mengatasi tekanan yang di alami. Dalam kelas, bisa saja seorang guru diuji kecerdasan emosionalnya oleh murid.

Kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman terdapat kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati serta keterampilan sosial yang dimiliki oleh seseorang. Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tercantum pengertian emosional sebagai hal yang menyentuh perasaan dan mengharukan. Salovey dan Mayer dalam buku Kecerdasan Manusia yang ditulis oleh Saphiro, mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai sebuah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Sebagai kesimpulannya kecerdasan emosional adalah kemampuan mengelola emosi diri dan memahami emosi orang lain untuk mendukung pikiran serta tindakan. Konsep ini mencakup kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial, serta berperan dalam kecerdasan sosial.

Sementara itu segitiga restitusi adalah teori yang dikembangkan Diane Gossen dengan pendekatan disiplin positif yang membantu peserta didik memperbaiki kesalahan dan menumbuhkan karakter yang lebih kuat. Teori ini memberikan tiga langkah strategi melakukannya yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Restitusi bukan untu menghukum siswa atau menyetujui dan mengabaikan kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan. Tujuannya untuk memperbaiki hubungan. Sehingga setelah prosesnya, murid bermasalah keluar menjadi pribadi yang lebih bijak dan berbudaya positif.

Sejatinya dalam dunia pendidikan kecerdasan emosional sangat penting dalam membangun hubungan yang baik dengan murid di sekolah. Sembari mempraktikkan kecerdasan emosional, guru dapat secara langsung menjadi role model bagi anak-anak. Miris jika teori kecerdasan emosional disampaikan kepada murid sementara sang guru tak mampu menahan diri jika murid melakukan kesalahan.

Kecerdasan emosional yang meliputi kesadaran diri, yaitu kemampuan memahami emosi sendiri, mengenali pengaruhnya, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan prinsip segitiga restitusi yang pertama yakni menstabilkan identitas. Ketika murid melakukan kesalahan, sadari bahwa ada kebutuhan mereka yang mungkin belum terpenuhi. Bisa saja keinginan untuk dicintai yang tak ia dapatkan di rumah. Guru dalam menstabilkan identitas, dapat menyampaikan pada murid bahwa orang lain juga dapat saja melakukan kesalahan yang sama. Dengan ini murid diharapkan membuka dirinya. Lebih lapang dan lepas dalam menerima tahapan selanjutnya.

Selanjutnya pengendalian diri, guru memiliki kemampuan untuk mengontrol emosi agar tidak meledak-ledak, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan bertindak dengan integritas. Murid yang melakukan kesalahan tidak perlu didamprat. Bukan karena kita abai dengan kesalahan mereka, namun lebih pada memberikan ruang baik bagi guru maupun murid dalam menata dan menjaga diri agar tidak jatuh pada lobang kesalahan lainnya misalnya menggebrak meja, berteriak dengan suara menggelegar, mencelakai murid atau diri sendiri dan hal lain yang tak diinginkan.

Pada penerapan segitiga restitusi kedua, motivasi diri dalam pengertian dorongan untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat dan ketekunan, bukan karena faktor eksternal semata. Anak akan diberikan kesempatan untuk memahami kesalahan apa yang telah dilakukan sekaligus diskusi dengan guru untuk solusi permasalahannya. Jika dimarah satu arah, anak yang salah malah terjebak dalam masalah, tak mampu mendapat solusi. Silahkan mamvalidasi apa yang anak lakukan, gali secara langsung dari siswa, apa yang menjadi titik salah dan sekaligus yang mendasarinya. Sikap yang akan muncul adalah empati. Ini merupakan kemampuan memahami perasaan orang lain dan meresponsnya dengan bijaksana.

Terakhir, dalam segitiga restitusi yang menerapkan kecerdasan emosional adalah kemampuan dalam membangun hubungan, berkomunikasi secara efektif, serta berkolaborasi dengan orang lain. Anak kita dukung untuk mendefinisikan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Penting menanyakan ke anak tentang kehidupan ke depan yang diharapkan. Saat anak dapat menemukan gambaran ideal yang tentunya positif. Tidak ada orang yang menyetujui perbuatan negatif, mereka sadar itu salah. Begitu pula sebenarnya anak-anak murid kita.

Mari praktik kecerdasan emosi dan segitiga restitusi di sekolah kita masing-masing. Jadilah guru yang tidak hanya bisa menasihati murid namun juga menjadi contoh teladan murid kita dalam menerapkan kecerdasan emosional dan segitiga restitusi.**

 

*Penulis adalah Pengawas/Pendamping Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Pontianak.

Editor : A'an
#Suasana Belajar #guru #Segitiga restitusi #kecerdasan emosional