Oleh: P. Adrianus Asisi*
Hu Wen Chiang, pakar pendidikan dari Taiwan menyebutkan ada empat tipe guru, yaitu guru yang hanya bisa memindahkan informasi dari buku ke peserta didik, guru yang bisa menjelaskan sebuah masalah atau buku ajar, guru yang bisa menunjukkan materi ajar dengan baik, paling ideal adalah guru yang bisa menjadi inspirasi bagi siswanya.
Paragraf di atas tercantum dalam halaman 252 dari buku Asrul Right dan Farida dengan judul, “Millenial Teachers for Gen Z”, terbitan Noktah Yogyakarta. “Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendahknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya (Ki Hadjar Dewantara)”. Untuk menjadi guru telah memilih profesi ini, salah satu langkah untuk menghebatkan diri yaitu jadilah guru expert.
Lalu, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menjadi guru expert? Bagaimana langkahnya agar menjadi guru expert tersebut? Adakah kiat-kiatnya? ke sana pembahasan agar Anda sebagai guru expert mendidik peserta didik untuk generasi Z.
Kini, guru [zaman apa saja] pasti berhadapan dengan peserta didik generas Z. Ini era mereka. Generasi Z dalam keseharian dikenal sebagai Zoomers merupakan anak yang lahir dari generasi baby boomers, generasi X atau generasi milenial. Generasi Z lahir antara tahun 1997 hingga tahun 2012. Salah satu pertimbangan rentang generasi tersebut adalah perkembangan teknologi karena berpengaruh a.l. pada pola hidup, pola pikir, pengalaman, dan psikologi.
Generasi Z yang dipakai Indonesia antara tahun 1997-2012 menurut data resmi Badan Pusat Statistik di Indonesia pada Sensus Penduduk tahun 2020, generasi Z menempati angka 27,94 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Generasi Z tumbuh bersamaan dengan reformasi digital, meski perlu disadari ada efek negatif yakni mereka dapat saja menghabiskan waktu dengan layar gadget-nya.
Akibatnya prevalensi alergi lebih besar dari populasi umum, selain itu kesehatan mental dan kurang tidur, ada kecenderungan menderita disabilitas intelektual dan gangguan mental. Generasi Z menghabiskan lebih banyak waktu pada perangkat elektronik, lebih sedikit waktu untuk membaca buku, sehingga berdampak rentang perhatian, kosakata, prestasi akademik, dan kontribusi ekonomi masa depan.
Salah satu cara agar guru sukses mendampingi momen belajar generasi Z adalah menjadi guru expert. Guru expert harus berlatih dengan mempraktikkan lebih dari yang dilakukan oleh guru lain, di samping mengalokasikan waktu untuk mengasah dan membentuk keahlian kita sendiri.
Malcolm dalam bukunya, “outliers, the story of succes”, menyatakan bahwa seseorang akan menjadi expert setelah mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam sehingga muncul teori 10.000 jam. Guru yang berada pada level expertise (ahli) merupakan guru pada level tertinggi. Guru expert memiliki intuisi sangat tajam, berada pada unconscious competence. Guru expert juga berpikir dan bertindak cepat utamanya dalam menemukan solusi. Pengaruh pengalamannya menyebabkan instuisi tajam, sehingga tidak perlu membolak-balik teori, karena ilmu mereka sudah ada di dalam otaknya.
Guru level di bawah guru expert adalah guru proficient artinya guru cakap. Guru proficient intuisi mulai bertumbuh, mulai memahami atas pola-pola, memiliki kemampuan di atas rata-rata, paten dalam teori dan jago melakukan eksekusi, jam terbang tinggi karena pengalaman mumpuni. Hasilnya, intuisi kian tajam sehingga tepat menemukan solusi secara tepat.
Guru level berikut di bawah kedua level terbaik di atas adalah guru competent, artinya mampu. Pada level ini, guru mulai memhami prinsip-prinsip (kaidah) dibalik teknik yang digunakan, lebih fleksibel dalam menggunakan teknik-teknik yang ia kuasai. Sangat mengetahui selut-beluk teknik yang akan digunakan, sehingga bisa memprediksi kondisi yang akan terjadi dengan melakukan teknik tersebut. Jika siswa heterogen kemampuannya dan memiliki keaktifan yang tinggi cocok digunakan model cooperative learning, dan metode lain yang lebih mengaktifkan kolektivitas.
Guru level kedua, yaitu advanced beginner, artinya pemula tingkat lanjut. Pada level ini, guru mulai memahami konteks, pandai menganalisis berbagai teknik yang dipelajari. Misalnya, guru pada level ini, jika berhadapan dengan siswa heterogen dan tingkat keaktifan tinggi, tidaklah tepat membelajarkan dengan model contextual learning, sehingga perlu pendekatan dengan model lainnya, misalnya cooperative learning.
Nah, guru level kesatu, guru novice artinya pemula. Guru pada level ini mengikuti teknik-teknik secara kaku, berpikir untuk mengeksekusi keterampilannya dengan baik. Kurang improvisasi untuk melakukan teknik-teknik baru yang lebih tepat penggunaannya, karena pada posisi ini guru masih minim pengalaman atau harus menambah jam terbangnya.
Kelima hal tersebut merupakan Dreyfus Model yg dikembangkan oleh dua bersaudara yaitu Stuart E. Dreyfus dan Hubert L. Dreyfus dari Universitas California, Berkeley (1980) yang dituliskan kembali oleh Asrul dan Farida dalam bukunya, “Millenial Teachers for Gen Z” (h. 2017-220).
Guru dari level manapun wajib sadar bahwa kita perlu menumbuhkan kreativitas peserta didik. Diperlukan perancangan dalam menumbuhkan kreativitas peserta didik dengan cara berikut. Pertama: berikanlah kesempatan dan waktu untuk mengeksplorasi dan melakukan pekerjaan terbaiknya, jangan mengintervensi ketika mereka lagi termotivasi dalam menyelesaikan tugas-tugas produkfitnya. Kita guru sebagai fasilitator saja. Kedua: ciptakanlah lingkungan sekolah yang menarik dan mengasyikkan, sehingga peserta didik merasa nyaman dan menyenangkan, secara otomatis akan memancing kreativitas peserta didik.
Ketiga: sediakan dan sajikan secara melimpah berbagai bahan serta sumber belajar yang menarik dan bermanfaat bagi peserta didik. Misalnya, buatlah pojok baca di kelas, karena peserta didik yang rajin membaca akan jauh lebih kritis dan tidak menduga jawaban dari mereka ketika berpendapat. Keempat: ciptakanlah iklim kelas yang kritis. Kelas seperti tersebut mendorong peserta didik berani mengambil risiko atas apa yang telah diperbuatnya. Hantarkan peserta didik agar berargumen berdasarkan fakta yang ada, bukan berdasarkan perasaan dan asumsi terhadap suatu masalah.
Untuk membawa peserta didik pada kesadaran akan penting kreativitas, maka guru wajib memenuhi kreteria berikut antara lain: memahami kebutuhan kreativitas peserta didik, mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah (problem solver gunakanlah model problem based learning), mengembangkan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill).
Untuk mengakhiri tulisan ini, disampaikan nasihat dari Steve Jobs (bos bisnis elektronik ‘Jeruk (eh Apel) yang digigit tepinya’ berikut. Kreativitas hanyalah menghubungkan hal-hal. Ketika Anda bertanya kepada orang kreatif bagaimana mereka mengerjakan sesuatu, mereka merasa sedikit bersalah karena mereka tidak benar-benar melakukannya, mereka hanya melihat sesuatu yang tampak jelas bagi mereka setelah beberapa saat. Itu karena mereka mampu menghubungkan pengalaman yang mereka miliki dan menyintesis hal-hal baru. Semoga!**
*Penulis adalah guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak; alumnus TEP FKIP Universitas Tanjungpura, Kalbar.
Editor : Miftahul Khair