Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Para Finalis Ramadan

Miftahul Khair • Senin, 24 Maret 2025 - 14:03 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran*

MEMASUKI putaran ketiga Ramadan, sepuluh hari terakhir, mulai malam 21 Ramadan terdapat karunia batin kebahagiaan. Putaran (fase ketiga) ini disebut masa "itqum-minan-nar" (bebas dari siksa api neraka). Setelah dua fase dilewati, rahmah (kasih sayang), dan maghfirah (ampunan) Allah Jalla wa 'Ala. Jika pembebasan (kemerdekaan) dari neraka adalah tujuan, dan masuk surga adalah rahmat Allah SWT. Lalu, apa syarat terbebas dari api neraka, dan terlulus masuk ke passing grade surga? Dengan bahasa indah yang sangat sopan dan lemah lembut, syarat tersebut sudah Tuhan simpul dengan doa dari-Nya. Membuktikan kehalusan budi pekerti Tuhan (Al-lathif), dan kesantunan adab-adab-Nya (Al-Halim).

Redaksinya, dengan puasa, mudahan kamu bertakwa. Dengan Alquran, mudahan kamu bersyukur. Dengan doa, mudahan mereka terbimbing. Takwa, syukur, bimbingan merupakan saluran menuju keselamatan dunia dan akhirat. Tuhan menginginkan takwa tumbuh dari kebenaran takwa, bukan takwa rekayasa. Bukan takwa robotika. Amal pemantiknya adalah puasa yang benar. Bukan pembenaran ego puasa. Untuk itu, Tuhan bungkus rapi dengan tiga paket hadiah Idulfitri. Satu, "la'allakum tattaqun." Semoga kamu bertakwa. Takwa, takwa ialah hadiah tertinggi dalam capaian hasil puasa Ramadan (baca Albaqarah:183).

Bertakwa adalah mengimani Allah dan senantiasa merasakan kehadiran-Nya. Tuhan dalam keghaiban. Dalam keghaiban itulah, mukmin beriman. Sering dalam keghaiban itu pulalah, seseorang berbuat durhaka kepada-Nya. Finalis Ramadan berlencana hati untuk menuhankan Allah di segala zaman. Buktinya, pembentukan kewajiban puasa adalah kesadaran masa lampau, sekarang, dan kesadaran masa depan (akhirat). Pengertian takwa dalam rangka menunai semua perintah, dan menjauhi larangan, saat sendiri dan saat kumpul. Sejalan dengan sifat puasa sebagai ibadah rahasia (sirriyyah).

Dampak takwa seperti tidak berzina, meski pasangan tidak tahu. Setia terhadap janji (akad) pernikahan untuk memberi dan menerima kehalalan. Siapa yang mencari kesenangan syahwat di luar itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Menjaga kesakralan (kesucian) akad nikah, meski di belakang pasangan. Tidak "main sana-sini, tidak nyecar sana-sini," bagian dari takwa. Ramadan mengantar kepada finalis takwa. Pascaramadan menjadikan seseorang pemenang takwa atau takwa yang sebenarnya.

Dengan kata lain, dari "la'allakum tattaqun" (mudahan kamu bertakwa), kepada menjadi "al-muttaqun" (orang-orang yang takwa). Takwa adalah akumulasi seluruh nilai taat, tidak sebatas salat dan puasa (baca: Albaqarah:177). Takwa juga diperluas makna dalam arti cerdas rohani (ladunni). Sebab, siapa yang takwa, pasti Allah SWT ajarkan ilmu, yang tidak mereka pahami. Basis ketakwaan adalah kecerdasan, basis kedurhakaan adalah kebodohan. Dua, "la'allakum tasykurun" (semoga kamu menjadi orang-orang yang bersyukur). Indikator syukur adalah bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, mencirikan bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, "mallam yasykur lin-nas, lam yasykur lillah" (siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, tanda tidak berterima kasih kepada Allah).

Indikator lain, mensyukuri bermakna meyakini rasa terima kasih datang dari Allah dan kembali kepada-Nya. Atau dengan kata lain, nikmat datang dari Allah dan nikmat kembali kepada Allah. Dalam arena kehidupan dan kematian (innalillahi wa inna ilaihi raji'un). Makna terdalam dari kesyukuran terhadap Ramadan dan Alquran, sangat memungkinkan seseorang berdialog dengan Alquran. Dimampukan berdialog dengan Alquran sama artinya berdialog kepada Allah SWT. Namun, bukan seperti dialog Musa kepada Tuhan yang berhijab (berdinding). Dialog hamba dengan Allah yang maha perkasa, tanpa perantara. Sebab, dialog yang bermedan inti magnet di hati (fi qalbi jallallah).

Lirik syair di bawah ini, diharapkan guna jalan pemahaman dan penggapaian malam kemuliaan (Alqadar): Hasbi rabbiy jallallah (cukuplah bagiku, Tuhanku yang maha agung) ... Mafi qalbi ghairullah (tidak ada di hatiku, kecuali Allah) ... Nur Muhammad shallallah (cahaya Muhammad ialah keselamatan dari Allah) ... Lailaha illallah (tiada Tuhan kecuali Allah) ... Syair ini menjadi bukti ikatan simpul beragama, Allah, Rasulullah, umat Rasulullah SAW. Tiga siklus berputar tiada jeda, tiada istirahat. Lalu, terbanglah si-hamba ke alam malakut dan jabarut (dimensi roh).

Dari makna "inna anzalnahu fi lailatil qadar" (sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada malam kemuliaan). Perhatikan redaksi kata anzala, anzalnahu (mudhari'), bereposisi "past tense, present tense, and future tens" (dahulu, sekarang, akan datang). Kalau redaksi nazala (telah turun), berstatus fi'il madhi (past tense). Artinya, tidak akan berulang lagi turunnya Alqadar (Alqadar yang membawa Alquran). Terjadi hanya satu kali. Sedang Alqadar terjadi berulang kali turun ke bumi (istimrariah), terlihat dari redaksi ayat: anzalnahu, dan tanazzul (sangat sering turun). Jadi, Alquran (wahyu, ilham) jangan dipahami dari luar diri umat Muhammad.

Tetapi, Alquran dari dalam diri. Tuhan bisa berkalam dengan suara dan tanpa suara. Tuhan dapat menjadikan sesuatu dengan sebab atau tanpa sebab. Tanazzalul malaikatu war ruhu, dapat diartikan berulang kali turun para malaikat dan roh (Jibril). Fiha (didalamnya jamak mengandung kebaikan yang banyak), bi-idzni rabbihim (dengan perkenan Tuhan mereka), min kulli amrin, salam (untuk mengatur tiap-tiap urusan, penuh keselamatan). Salamun hiya hatta mathla'il fajar (keselamatan untuk dia kasih-sayang sampai terbit fajar). Pada kata hiya, kata ganti muannats, feminin. Lailatul-qadar mengindikasikan bahwa kata hiya (lawan huwa) mengandung karakter keibuan (ummiyah, matternal) atau hubungan kasih sayang, pemeliharaan, perhatian emosi ibu terhadap anaknya (maternal care).

Orang-orang yang sudah mendapatkan lailatul-qadar, ialah mereka yang dijaga Alquran (parenting kitab suci). Seiring kalimat (Alqadar ayat 1): "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran pada malam Alqadar" dengan kalimat (Alhijir ayat 9): "Sesungguhnya Kamilah yang selalu menurunkan Adzdzikir (Alquran), dan sesungguhnya kewajiban Kami untuk benar-benar menjaganya (Alquran)." Tiga, "la 'allahum yarsyudun." Semoga mereka terbimbing.

Surah Albaqarah:186 mengisyaratkan bahwa Tuhan sangat dekat sehingga tidak bisa dilihat. Hubungan kepada-Nya didasarkan kepada iman. Memperhatikan posisi iman di atas logika, maka bertuhan tidak dapat dipaksakan. Manusia, sudah mengerti sebab beriman dan akibatnya, sudah mengerti sebab tidak beriman dan akibatnya. Ayat terkhusus ini adalah: "Dan jika hamba-Ku, bertanya tentang Aku. Maka sesungguhnya Aku sangat dekat .. " (Albaqarah:186). Buktinya, Dia firmankan: " ... Aku menjawab doa permintaan ketika mereka meminta ... " Dengan syarat: " ... Hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku, dan beriman kepada-Ku, semoga mereka terbimbing." Dengan doa, tersingkap semua tabir ketuhanan (musyahadah rububiyah). Bahwa selain Dia ialah selera yang berganti-ganti, serta tidak pernah putus dan tidak pernah puas, kecuali kematian.

Ibadah puasa Ramadan yang berujung pada kedekatan bersama-Nya, sungguh kenikmatan yang abadi, tersimpan rapi dan sisa hidup yang membahagiakan, setelah semuanya habis (finish) atau fana. Otomatis, diperoleh ganjaran dengan sempurna, saat Tuhan mengganti bumi ini, dengan bumi lain. Langit ini, dengan langit yang lain. Rumah ini, dengan rumah yang lain. Keluarga ini, dengan keluarga yang lain dalam ruang lingkup kuantitatif dan kualitatif. Titik simpul finalis Ramadan terletak pada capaian takwa dan syukur yang senantiasa terbimbing. Sampai menemui fajar kehidupan yang penuh kebaruan, yaitu "syamsul ma'rifah" (matahari pengenalan) terhadap kesejatian Tuhan dan Tuhan kesejatian. Wallahua'lam.

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

Editor : Miftahul Khair
#opini #ramadan