Oleh: Sholihin HZ*
Secara umum, alarm diartikan sebagai penanda. Alarm jam sebagai penanda jam bangun tidur atau jam mengingatkan aktifitas penting lainnya. Alarm bencana alam sebagai penanda ada peristiwa alam yang digunakan untuk lebih waspada dan bersiap-siap menghindar. Jika dikaitkan dengan kematian, maka alarm ini berfungsi sebagai tanda pengingat bahwa ia akan mendekati atau bahkan kematian pada seseorang adalah tanda bahwa kematian itu dekat.
Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat mati. Bagaimana tanda orang yang cerdas? Pertama, ia tahu bagaimana menyikapi sesuatu sehingga kala ia menemuinya ia tidak panik dan gusar. Orang yang tidak memiliki ilmu ketika dihadapkan kepada satu pekerjaan kecenderungannya adalah menghindar. Mengapa menghindar? Karena tidak ada ilmunya.
Satu pekerjaan yang didasari oleh ilmu maka akan lebih enjoy saat dilaksanakan kala diberikan pekerjaan itu. Kematian pasti ditemui, karena pasti bertemu maka ia mempersiapkan ilmunya. Ilmunya perbanyak amal, melatih kesabaran dan keikhlasan.
Orang yang cerdas memahami kematian sebagai perjalanan hidup seseorang menuju akhirat dan tidak satupun yang bisa membantu kecuali amal kebaikan baik yang pernah dilakukannya sendiri maupun amal perbuatan yang ia menjadi sponsor kebaikan dan lantas diikuti orang lain.
Kedua, orang yang cerdas mengingat mati akan selektif dalam beramal. Amal (‘amal) atau perbuatan bisa berwujud perbuatan baik (hanasah) namun juga bisa keburukan (sayyiah). Dengan ilmunya ia tahu situasi dan kondisi yang bernilai lebih di sisi Allah SWT.
Hal ini sejalan dengan HR Muslim dan Tirmidzi berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “Dua rakaat (sebelum) fajar (subuh) lebih baik nilainya dari dunia dan seisinya.” Mengingat umur yang tidak sepanjang umat-umat sebelumnya, mengingat banyaknya kematian mendadak. Maka menyegerakan beramal dengan mempelajari keutamaan ibadah dan waktunya adalah diantara cara orang cerdas menyikapi kematian.
Ketiga, orang yang memahami bahwa kematian pasti akan dilewati maka setiap gerak langkahnya bisa menjadi isnpirasi bagi siapapun. Bisa inspirator kebaikan namun juga tidak sedikit menjadi sponsor keburukan. Yakinlah, saudaraku, tanpa disadari atau tidak sesungguhnya ada orang-orang yang menjadi kita sebagai spirit dan sumber inspirasi bagi mereka.
Tulusnya niat dan bagusnya amal menjadi patokan kehidupan bagi mereka. Karenanya, pesannya adalah jadilah sponsor amal jariyah agar kebaikan terus mengalir tidak hanya bermanfaat bagi yang masih hidup namun juga pahalanya mengalir kepada kita yang sudah meninggal dunia.
Rasulullah saw menyatakan, “Barang siapa mengajak kepada kebaikan maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”(H.R Imam Muslim).
Saudaraku, ternyata kehadiran alarm dalam berbagai jenis dan bentuknya hanya akan berfungsi manakala alarm itu berfungsi dan yang melihat atau mendengar tahu arti dari alarm itu. Sebagus-bagusnya traffic light di perempatan jalan, semahal-mahalnya biaya pembuatan rambu-rambu lalu lintas namun alat itu tidak akan berfungsi jika alat itu rusak, atau jika yang melihatnya tidak mengerti maknanya dan atau penggunanya melihat dan mendengar tapi tidka mau mengikuti arti alarm dan rambu itu sendiri.
Demikian juga dengan adanya alarm kematian. Umur (usia saat ini dikatakan panjang), jika mencapai 70-80 tahun tapi masih jauh dari agama, ia ikut menyalatkan dan mengantar ke lokasi pemakaman tapi tidak mentadabburi tanda-tanda ini, ia tidak mengambil pelajaran dari kematian mendadak yang pernha ditemuinya.
Semua alarm ini tidak akan berfungsi jika yang bersangkutan tidak cerdas memahami kematian. Akibatnya adalah semua peristiwa dan alarm ini akan terlewatkan begitu saja.
Menyesal di awal dengan merenungkan banyaknya ‘alarm kematian’ adalah lebih baik daripada menyesal ketika alarm itu tidak lagi sebagai pengingat tapi sudah kejadian yang menimpa kita.**
*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat.
Editor : Hanif