Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Merahasiakan atau Menyatakan Amal

Hanif PP • Jumat, 2 Mei 2025 | 10:38 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma’ruf Zahran Sabran*

Sebelum beramal, bersihkan terlebih dahulu rukun niat di dalam hati karena Allah atau karena selain Dia. Atau niat yang bercampur, karena Allah, karena manusia, karena dunia dan karena akhirat juga. Niat yang beragam seperti ini, jelas telah syirik karena banyak Tuhan yang diniati. Atau niat bukan karena Allah, jelas telah ingkar. Niat hanya untuk Allah saja (lillah), bukan selain Dia dan bukan banyak niat (tujuan) yang dituju.

Manajemen dalam Islam hanya mengenal satu tujuan, satu niat, untuk Allah. Seperti algoritma yang menarik banyak partikel disekitarnya. Allah SWT lebih dari segalanya, semua Dia ciptakan. Jelas, bila niat amal hanya bertujuan karena dan untuk Allah. Niscaya seluruh isi alam semesta tunduk kepada kehendak Allah SWT. Ibarat medan magnet yang menarik besi sehingga berani bergerak dan mendekat.

Oleh karena itu, semua amal (perbuatan) dalam Islam selalu dengan membawa nama Allah yang menjadi ayat pertama diturunkan oleh Allah SWT. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang maha menciptakan." (Iqra':1). Penting, memulai sesuatu dengan niat yang baik. Karena niat baik akan berpengaruh sepanjang hidup. Niat menggerakkan amal jasmani dan amal rohani.

Terkadang, niat seorang mukmin lebih ikhlas daripada amalnya. Maksudnya, terkadang kedudukan niat lebih mulia daripada amal. Oleh sebab itu, jangan remehkan niat. Niat adalah rahasia diri dengan Allah, dan rahasia Allah dengan diri yang selalu terjaga. Artinya, niat yang menuntun amal, bukan amal yang menuntun niat. Faktanya, banyak orang kaya, sanggup, sehat, ada biaya untuk berangkat haji, aman dalam perjalanan. Tetapi, tidak ada niat sama sekali untuk menunaikan haji. Takutlah kepada Allah SWT saat Dia menutup pintu niat untuk beribadah kepadaNya. Pada kondisi penuh gemilang kesenangan, kesehatan, kesempatan, namun diri dan hati telah jauh dari-Nya.

Kembali lagi, Dia peringatkan dengan kerikil musibah, agar hamba ingat dan berkeinginan pulang (kembali) taat kepada sang maha pengasih. Meski sang maha pengasih tidak tampak (ghaib). “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan. Dan mereka yang takut kepada yang maha pengasih, meskipun mereka tidak melihat-Nya (ghaib). Berikan kabar gembira kepada mereka dengan ampunan dan pahala yang mulia (surga)." (Yasin:11).

Demikian pula ibadah lain, seperti salat, puasa, zakat, haji. Hari ini kita salat, bagaimana baik-buruk salat, tidak terulang lagi dengan kondisi, situasi, toleransi salat berikutnya. Tahun ini kita puasa, bagaimana baik-buruk puasa, tidak terulang kembali dengan tahun, bulan dan harihari Ramadan yang akan datang. Betapapun bagus atau buruk zakat, infak dan sedekah ditahun tadi, tidak persis sama dengan zakat, infak dan sedekah ditahun ini. Ini menandakan waktu dan kesempatan tidak akan terulang dua kali. Sebab itu, Allah SWT dalam beberapa ayat, selalu bersumpah demi waktu. Demi masa yang senja, demi malam, demi waktu fajar, demi waktu duha, demi matahari, demi bulan. Menandakan bahwa momen waktu akan pergi berlalu, tanpa sanggup untuk ditarik kembali. “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu tentang siksa yang dekat. Pada hari manusia melihat apa yang telah mereka perbuat oleh kedua tangannya (kiamat). Berkata orang yang ingkar: Alangkah baiknya, sekiranya aku dahulu (di dunia), menjadi tanah saja." (Annaba':40).

Maksudnya, investasi paling berharga adalah waktu hidup di dunia. Manfaatkan waktu hidup sebelum mati (hayataka qabla mautika), sehat sebelum sakit (shihhataka qabla saqamika), muda sebelum tua (syababaka qabla haramika), lapang sebelum sempit (faraghaka qabla syughlika), kaya sebelum miskin (ghinaka qabla faqrika). Lima momen penting yang tidak akan terulang. Artinya, puncak kejayaan (majesty) hidup, muda, sehat, lapang, kaya hanya sekali.

Jangan lalai terhadap sukses tadi. Setelah itu, mungkin hari-hari dimana banyak manusia menjadi prihatin dan menyesal. Seperti pepatah, "Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu. Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air."

Lalu, menyatakan atau menyembunyikan amal, sah-sah saja. Tergantung kepada niatnya. Niat adalah amal batin yang tidak ada seorang pun tahu. Niat sebagai amal batin rabbani itu adalah musyahadah, mahabbah, ma'rifah. Terwujud pada amal jasmani seperti istikomah, syukur, sabar. Terwujud lagi dalam amal rohani seperti ikhlas (tauhid), rida, zikrulmaut (ingat mati). Maknanya, niat memiliki posisi sentral dalam keseluruhan rangkaian ibadah apapun.

Perbuatan yang baik ('amal shalih) berawal dari niat yang saleh. Niat yang saleh bersumber dari hati yang bersih, hati yang sehat (qalbun salim). Hati sehat mengajak kepada kebaikan dan mengajar kepada perilaku terpuji (ihsan). Perbuatan yang jahat ('amal qabih) bermula dari niat yang rusak (jahat). Niat yang jahat bersumber dari hati yang sakit (qalbun maridh), atau hati yang telah mati (qalbun mayyit).

Hati yang mati selalu berorientasi kepada keakuan diri (egois), tanpa pertimbangan. Posisi hati sangat sentral, ibarat polisi, guru, dokter bagi diri, kesemuanya bisa berjalan. Dengan syarat, hati yang bersih. Hati yang bersih dapat membersihkan aura kotor dari setiap diri.

Hati yang sehat dapat mentransfer kesehatan hati pada hati yang sakit. Luar biasa kekuatan hati, bisa menembus lapisan hijab. Bila tidak tertembus, luar biasa juga tebal hijab seseorang. Sangat ingkar (kafara) sehingga tidak lagi "mempan" nasehat. Seluruhnya, berawal dari niat hati. Maknanya, hati yang selamat, sanggup menginspirasi dan sanggup mengintimidasi diri dan

lingkungan. Pemisah antara hamba Tuhan dengan hamba dunia. Hati yang bersih sanggup menginspirasi hamba (sahabat) Tuhan. Serta hati yang bersih mampu mengintimidasi musuh-musuh Tuhan.

Menyatakan amal sangat baik, jika berniat memotivasi orang lain untuk beramal. Niscaya akan banyak orang yang mengikuti jejak baiknya. "Siapa yang mentradisikan tradisi kebaikan, maka dia mendapat pahala, sebanyak pahala orang yang mengikutinya, sampai hari kiamat. Siapa yang mentradisikan tradisi keburukan, pasti dia mendapat dosa, sebanyak dosa orang yang mengikutinya, sampai hari kiamat." (Hadis riwayat Musim).

Ahli syariat selalu meletakkan amal untuk dinampakkan, dipernyatakan. Guna meraih fadilah (keutamaan) salat berupa pahala salat. Guna meraih fadilah (keutamaan) puasa berupa pahala puasa. Guna meraih fadilah (keutamaan) zakat berupa pahala zakat. Sedang ahli hakikat (ahlul-haq) selalu mementingkan musyahadah rububiyah, mahabbah ilahiyah, ma'rifah kamilah (kesempurnaan). Tiga level ibadah rabbani ini, sanggup melewati level ibadah jasmani dan rohani. Artinya, ciri khas mereka adalah menyembunyikan amal, kecuali yang terbiasa nampak, seperti salat berjamaah. Wallahua'lam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#dunia #akhirat #perbuatan #Beramal #Lillah #islam #amal