Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Paradoks Umat Terbaik antara Janji Allah, Teladan Rasulullah, dan Realitas Daya Saing Umat Islam

Hanif PP • Jumat, 2 Mei 2025 | 10:46 WIB
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

Oleh: Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA*

Dalam sejarah peradaban manusia, umat Islam telah melahirkan sejumlah cendekiawan yang menjadi pelopor dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Nama-nama seperti Al Khawarizmi yang dikenal sebagai bapak algoritma, Al Jazari yang merintis robotika, Ibnu Firnas dengan penemuan aerodinamika, Jabir bin Hayyan atau Ibnu Geber dalam kimia, serta Ibnu Sina di bidang kedokteran adalah bukti nyata dari kecemerlangan intelektual umat ini. Namun demikian, Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran: 110, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia."

Sebuah janji agung yang seharusnya memotivasi kita untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ironisnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa daya saing umat Islam berada pada titik rendah; Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara-negara mayoritas Muslim tertinggal jauh di belakang negara lain. Kontribusi sains dan teknologi dari dunia Islam hanya mencapai 6 persen, meskipun populasi Muslim mencakup sekitar 25 persen dari total populasi global.

Pertanyaan mendasar muncul: apa penyebab paradoks ini? Untuk memahami fenomena tersebut secara lebih mendalam, kita perlu membandingkan antara idealisme ajaran Islam dengan kenyataan kehidupan sehari-hari melalui empat sudut pandang. Pertama-tama adalah perbandingan antara firman Allah dan mentalitas umat. Dalam QS. At-Talaq: 2-3 disebutkan, "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya."

Sementara QS. Ar-Ra’d: 11 menegaskan, “Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”

Namun kenyataannya, banyak di antara kita terjebak dalam kultur instan, mengharapkan pertolongan tanpa ikhtiar maksimal, serta fatalisme yang membuat kita menerima kemunduran sebagai takdir tanpa melakukan introspeksi. Selanjutnya adalah sabda Rasulullah SAW mengenai etos kerja, dibandingkan dengan realita saat ini. Nabi Muhammad bersabda, "Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang jika bekerja menguasai pekerjaannya." (HR. Baihaqi), serta mendorong agar kita bekerja untuk dunia seolah-olah hidup selamanya, dan beramal untuk akhirat seolah-olah mati besok (HR. Ibnu Asakir).

Sayangnya, banyak di antara kita malas berinovasi dan merasa cukup dengan warisan ilmu masa lalu tanpa melakukan pengembangan lebih lanjut; disiplin kerja sering kali terabaikan, meskipun waktu ibadah sangat dijunjung tinggi.

Ketiga adalah kata-kata bijak para sahabat Nabi dibandingkan perilaku kontemporer saat ini. Umar bin Khattab pernah berkata, agar anak-anak diajarkan keterampilan kompetitif seperti berenang dan memanah. Ali bin Abi Thalib juga menekankan pentingnya usaha dalam mencapai doa-doa kita, dengan mengatakan janganlah engkau malas bekerja karena mengandalkan doa semata. Namun realita menunjukkan pendidikan agama masih dominan tetapi kurang seimbang dengan penguasaan sains serta keterampilan praktis lainnya; budaya konsumtif sering kali lebih kuat daripada budaya produktif terlihat jelas sebagian besar pada pola belanja selama bulan Ramadan maupun Idulfitri.

Dampaknya terhadap daya saing sangat memprihatinkan. Global Innovation Index 2023 hanya mencatat dua negara mayoritas Muslim berada di posisi TOP 50, yaitu Uni Emirat Arab dan Malaysia. Sementara laporan Bank Dunia menunjukkan produktivitas tenaga kerja di negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mencapai 40 persen lebih rendah dibanding rata-rata global lainnya. Akar masalah tampaknya terletak pada pemahaman agama yang parsial, menekankan ritual namun melupakan etos kerja serta keunggulan intelektual juga krisis kepemimpinan akibat minimnya teladan pemimpin adil dan kompeten.

Oleh karena itu diperlukan solusi konkret guna menghidupkan kembali semangat "Khairu Ummah". Reformasi pendidikan harus dilakukan melalui integrasi ilmu dunia-akhirat misalnya pesantren berbasis Science Technology Engineering Mathematics (STEM). Revitalisasi etos kerja juga perlu dilakukan melalui kampanye Ihsan atau profesionalisme dalam setiap profesi sembari memerangi korupsi lewat implementasi transparansi ala pemerintahan Umar bin Abdul Aziz.

Kesimpulan yang dapat ditarik bahwa umat Islam merupakan Khairu Ummah (Ummat Terbaik) tidak hanya karena status atau istilah belaka, tetapi karena fungsi mulia sebagai pelopor kebaikan, inovasi serta keadilan bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Paradoks tersebut akan terus ada selama kita abai terhadap integrasi iman-ilmu-amal sebagaimana dinyatakan oleh Hasan Al-Banna, “Kita adalah umat yang bangkit dari keterpurukan, ketika kembali pada Alquran sebagai petunjuk hidup bukan sekadar bacaan.”**

 

*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura; Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Kalbar; Ketua DPW HEBITREN Kalbar.

Editor : Hanif
#sejarah #paradoks #peradaban manusia #daya saing #realitas #ipm #umat islam #rasulullah