Oleh: Muhammad Fadhly Akbar, S.H.,M.H*
Apa yang paling mahal bagi manusia saat ini? Pertanyaan yang sulit dijawab jika tolak ukurnya adalah nominal uang. Lalu apa yang paling berharga di dunia ini? Pertanyaan yang juga tidak kalah sulit untuk dijawab karena setiap orang punya pandangannya sendiri terhadap hal itu yang berasal dari pengalaman dan orientasi hidup masing-masing. Apa pun jawaban untuk kedua pertanyaan ini sejatinya adalah realita yang tidak pernah punya tafsiran yang sama pada setiap orang. Tidak semua realita berbanding lurus dengan prinsip dan idealisme yang dimiliki manusia. Terkadang dalam kondisi tertentu prinsip dan idealisme harus tergadaikan dan mengalah pada realita yang terjadi dan ini sangat wajar serta dapat dimaklumi.
Begitu pula dengan apa yang dirasakan oleh zilenial saat ini. Kelahiran 1991-2000 secara tidak sengaja mengelompokan diri mereka dalam circle yang sama dikarenakan kemiripan pada karakteristik dan sikap khas yang mereka miliki. Tipologi bawaan yang dimiliki membuat mereka seakan tidak punya ruang permanen untuk menyuarakan bagaimana prinsip dan idealisme yang mereka pegang teguh. Hal ini menjadi problematika tersendiri dalam realita kehidupan mereka masing-masing. Lahir di paruh akhir milenial dan tumbuh berkembang di era generasi Z dan Alpha membuat mereka yang tergolong zilenial tidak bisa mengekspresikan secara maksimal prinsip dan idealisme yang mereka punya.
Kecenderungan untuk dapat nyaman berkomunikasi, bersosialisasi dan menjalin relasi dengan generasi milenial maupun generasi Z pada satu sisi melahirkan keuntungan, tetapi pada sisi lain menjadi batu sandungan yang cukup merepotkan. Berada di antara generasi milenial dan Z, membuat zilenial tampak serba salah pada persoalan prinsip dan idealisme yang mereka miliki berhubungan denganpenggunaan teknologi di era digital. Jika zilenial menyampaikan prinsip dan idealismenya terkait itukepada generasi Z kerap kali dianggap terlalu berhati-hati dan tidak berani mencoba, tetapi jika itu disampaikan kepada generasi milenial dianggap terlalu progresif dan mengikuti zaman.
Idealisme adalah hal paling orisinil yang bisa manusia produksi dengan otak mereka. Sedangkan prinsip adalah kebenaran yanng menjadi dasar sebuah tindakan dilakukan oleh manusia. Pada persoalan penggunaan teknologi di era digital, generasi zilenial tampaknya berada pada titik yang sulit untuk menemukan ruang guna mengekspresikan prinsip dan idealismenya. Contohnya dalam perkembanggan penggunaan Artificial Intelegent (AI), realitanya hari ini AI masuk merambah seluruh aspek kehidupan manusia, entah untuk memberikan dampak positif atau pengaruh negatif. Pada prinsipnya generasi Z menggunakan AI sebagai teknologi untuk memudahkan hidup mereka dalam segala hal, sedangkan generasi milenial memiliki prinsip untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan AI tersebut. Lalu bagaimana prinsip dan idealisme mereka yang tergolong zilenial dalam menanggapi tren AI ini. Zilenial memiliki idealisme bahwa penggunaan AI terlalu massif dapat mengakibatkan terkikisnya kreatifitas manusia, oleh karena itu manusia harus lebih hati-hati dalam menggunakaannya.
Di masa depan manusia harus mampu menguasai AI bukan malah dikuasai oleh AI. Sedangkan pada prinsipnya zilenial tetap merasa AI itu penting dan tidak dapat ditinggalkan seutuhnya, namun harus disertai dengan aturan yang jelas dalampenggunannya. Positioning zilenial terhadap hal ini membuat mereka serba salah di mata generasi Z dan milenial karena dianggap kurang mengikuti zaman oleh generasi Z akan tetapi dianggap terlalu berani mengambil resiko oleh generasi milenial. Padahal jika dilihat dengan kacamata yang lebih netral, idealisme dan prinsip yang dimiliki oleh zilenial dalam hal ini tergolong unik karena menggabungkan apa yang difahami oleh generasi Z dan milenial. Bahkan di sisi lain jika dipikirkan lebih jauh memiliki mereka yang tergolongzilenial dalam sebuah kelompok menjadi sisi positif tersendiri. Hal itu dikarenakan mereka dapat menjadi katrol untuk menghubungkan prinsip dan idealisme yang dimiliki oleh generasi Z dan milenial pada sebuah realita yang terjadi, sehingga sebuah kelompok tertentu dapat merespon apapun realita yang ada dengan lebih hati-hati, proporsional dan kontekstual. Terlihat progresif dan mengikuti zaman tetapi tidak kehilangan esensi dan tujuan terhadap hal-hal yang dilakukan.
*Penulis adalah Founder Family Research Center Of West Borneo
Editor : Miftahul Khair