Oleh: P. Adrianus Asisi*
Hari Pendidikan Nasional merupakan momen penting untuk memperingati peran pendidikan terutama dalam membangun bangsa. Adapun, tema Hari Pendidikan Nasional 2025 yaitu “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, mencerminkan semangat kolaborasi antara pemerintah, pendidik, peserta didik, keluarga, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan sistem pendidikan yang adil dan merata.
Setiap tahun pada tanggal 2 Mei kita memeringati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei ditetapkan berdasarkan pada hari kelahiran Pahlawan Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Agar kita dapat memetik pentingnya memeringati Hardiknas, supaya tidak hanya sekadar seremoni belaka, penulis merefleksikan empat hal, yakni hakikat mendidik, siapa itu guru, peran orang tua dalam mendidik anda, dan ajakan untuk kembali membaca buku dan menulis.
Merenungkan kembali hakikat mendidik berarti mengkaji secara mendalam esensi dan tujuan sejati dari kegiatan mendidik. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru ke murid, melainkan sebuah upaya membentuk manusia seutuhnya, baik itu dari aspek intelektual, moral, spiritual, maupun emosional.
Mengajar berfokus pada penyampaian pengetahuan, sedangkan mendidik melibatkan pembentukan karakter, nilai-nilai, dan kepribadian. Seorang pendidik tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga teladan dalam sikap dan tindakan. Tujuan dari mendidik yakni membentuk manusia berkarakter, pendidikan sejati bertujuan menciptakan manusia yang berakhlak mulia, mandiri dan bertanggung jawab, mampu berpikir kritis dan kreatif, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan.
Guru tidak lagi menjadi pusat segala pengetahuan, tetapi fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan dan mengembangkan potensinya. Guru juga harus menjadi sumber inspirasi, membangkitkan semangat belajar dan rasa ingin tahu.
Mendidik menuntut adanya hubungan yang hangat dan manusiawi antara pendidik dan peserta didik. Rasa hormat, kasih sayang, dan empati menjadi kunci dalam membangun suasana belajar yang sehat dan produktif. Pendidikan tidak hanya tugas guru atau sekolah, melainkan juga orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Setiap pihak memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Siapa itu Guru?
Guru bukan sekadar seseorang yang berdiri di depan kelas dan mengajarkan pelajaran. Guru adalah figur yang memiliki peran strategis dan mulia dalam membentuk masa depan generasi penerus bangsa. Dalam pandangan luas, guru adalah siapa saja yang memberikan ilmu, teladan, dan inspirasi, baik secara formal di sekolah maupun secara informal dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah peran guru? Guru adalah pendidik yang bertugas mentransfer ilmu dan nilai universalitas. Guru merupakan pembimbing untuk mengarahkan siswa dalam memilih jalan hidup yang benar. Guru adalah teladan, menjadi contoh nyata dalam sikap dan perbuatan. Guru yaitu motivator untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri peserta didik. Guru adalah pelayan, untuk melayani kebutuhan belajar murid dengan sabar dan penuh cinta.
Mari kita menghayati peran guru. Menghayati peran guru berarti menyadari dan meresapi betapa penting dan dalamnya tanggung jawab yang diemban seorang guru. Peran guru tidak hanya terbatas dalam ruang kelas, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan kemanusiaan.
Baca Juga: Sekda Kalbar Harisson Ajak Kolaborasi untuk Kesejahteraan Buruh di Hari Buruh Internasional
Penulis menemukan ada peranan guru dalam konteks sekolah. Pertama, sebagai penanam nilai. Guru menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, toleransi, dan cinta tanah air. Kedua, sebagai pendorong potensi siswa. Guru melihat potensi tersembunyi dalam diri murid, dan membantu mereka menggali serta mengembangkannya agar menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. Ketiga, sebagai agen perubahan. Guru memiliki peran besar dalam mendorong perubahan sosial melalui pendidikan. Pendidikan yang baik menghasilkan masyarakat yang cerdas, adil, dan beradab. Keempat, sebagai penjaga moral bangsa. Dalam era yang penuh tantangan moral dan informasi, guru menjadi benteng terakhir dalam menjaga generasi muda agar tidak kehilangan arah dan identitas.
Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak. Bahkan sebelum anak mengenal sekolah atau guru, peserta dididk telah belajar banyak dari rumah, mulai dari cara berbicara, bersikap, hingga menilai sesuatu. Oleh karena itu, peran orang tua sangat krusial dan tidak bisa tergantikan oleh institusi pendidikan mana pun.
Peran orang tua sangat penting bagi pendidikan anak, alasannya ada tiga hal berikut. Lingkungan rumah adalah sekolah pertama anak belajar nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, sopan santun, tanggung jawab, dan kejujuran dari orang tua. Rumah menjadi fondasi karakter anak.
Keterlibatan orang tua meningkatkan prestasi penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya aktif terlibat dalam pendidikan mereka, cenderung lebih berprestasi dan memiliki perilaku positif di sekolah.
Orang tua menjadi model hidup anak. Anak meniru sikap, ucapan, dan kebiasaan orang tuanya. Oleh sebab itu, teladan yang baik dari orang tua akan membentuk kepribadian anak yang kuat dan positif.
Ada cara untuk memaksimalkan peran orang tua dalam pendidikan anak. Ada dalam enam hal berikut. Membangun komunikasi yang terbuka. Orang tua harus menjadi tempat curhat yang nyaman. Komunikasi yang baik membantu anak merasa didukung dan dipahami.
Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Sediakan ruang dan waktu yang kondusif untuk anak belajar di rumah. Kurangi gangguan seperti televisi dan gadget saat waktu belajar. Bekerja sama dengan guru dan sekolah. Ikut serta dalam kegiatan sekolah, menghadiri rapat orang tua, serta menjalin komunikasi dengan guru membantu orang tua mengetahui perkembangan anak.
Memberikan dukungan emosional. Anak membutuhkan dorongan semangat, bukan hanya saat berhasil, tetapi juga saat gagal. Kehadiran dan empati orang tua memberi rasa aman dan percaya diri. Menanamkan nilai dan karakter sejak dini. Pendidikan karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati lebih efektif ditanamkan di rumah sejak kecil. Mengawasi Penggunaan Teknologi. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan teknologi dan internet agar tidak terpapar hal-hal negatif.
Kembali Baca Buku dan Menulis
Paradigma kembali membaca buku adalah sebuah gerakan kesadaran untuk menempatkan aktivitas membaca sebagai bagian penting dalam proses belajar, berpikir, dan membentuk karakter manusia. Di era digital yang serba cepat, budaya membaca buku mulai tergeser oleh konsumsi informasi instan seperti media sosial, video pendek, dan berita cepat. Karena itu, penting untuk mengubah kembali cara pandang (paradigma) kita terhadap aktivitas membaca.
Mengapa harus kembali membaca buku? Membaca buku melatih fokus dan daya pikir mendalam. Buku menuntut perhatian dan konsentrasi penuh, sehingga melatih kemampuan berpikir secara sistematis, reflektif, dan kritis. Meningkatkan kualitas literasi dan wawasan. Tidak seperti informasi singkat di media sosial, buku menyajikan pemikiran yang utuh, mendalam, dan terstruktur. Ini penting untuk membangun pemahaman yang kokoh terhadap suatu topik.
Membentuk karakter dan empati membaca buku, terutama karya sastra dan biografi, membuka cakrawala emosi dan nilai-nilai kemanusiaan, serta menumbuhkan empati dan rasa peduli. Menjadi modal berpikir kritis di era digital di tengah maraknya hoaks dan informasi palsu, membaca buku membantu seseorang memiliki kerangka berpikir yang kuat untuk memilah dan menyaring informasi secara logis dan etis.
Kembali membaca buku adalah panggilan untuk menghargai kembali proses belajar yang mendalam dan berkelanjutan. Buku adalah jendela dunia, tetapi hanya terbuka bagi mereka yang bersedia meluangkan waktu, perhatian, dan rasa ingin tahu untuk membacanya. Di tengah dunia yang serba cepat, membaca buku adalah bentuk perlawanan bijak untuk tetap berpikir jernih dan manusiawi. Hal ini senada pentingnya kita mulai belajar dan mengajarkan bagaimana caranya menulis.**
*Penulis adalah guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak; alumnus TEP FKIP Untan Kalbar.
Editor : Hanif