Selamat Menjadi Haji Mabrur

Hanif PP • Dipublikasikan Selasa, 13 Mei 2025 | 11:07 WIB
Didih Abidin
Didih Abidin

Oleh: Didih Abidin*

Musim haji telah tiba. Berdasarkan release yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU),  Indonesia, untuk tahun 2025 ini mendapat 221.000 kuota, terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Untuk Provinsi Kalimantan Barat, Harian Pontianak Post beberapa waktu lalu memberitakan bahwa jemaah haji Kalbar tahun ini mendapat kuota sebanyak 2.529 orang.

Pemberangkatan menuju embarkasi Batam dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2025, untuk selanjutnya melakukan perjalanan ke tanah suci, setelah sehari sebelumnya masuk ke Asrama Haji Pontianak yaitu pada tanggal 21 Mei 2025.

Melaksanakan ibadah haji adalah suatu kemuliaan. Ibadah haji merupakan bagian dari penyempurnaan terhadap penerapan rukun Islam, karena tidak semua umat islam bisa diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah rukun Islam kelima ini. Ada yang sangat berkecukupan secara ekonomi tapi belum mendapat “undangan”, tetapi ada yang hidupnya biasa saja tapi telah diperkenankan hadir memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah. Ada yang usianya lanjut, tetapkan ada juga yang masih muda, dan lain sebagainya. Yang jelas ibadah haji merupakan undangan atau panggilan Ilahi. Oleh karena itu momentum untuk menunaikan ibadah haji hendaknya harus bisa dimaksimalkan oleh para jemaah, agar haji yang dilakukan menjadi mabrur.

Oleh karena itu kepada umat Islam yang telah menerima undangan ke Baitullah, maka hendaknya memanfaatkan secara maksimal momentum ini. Tidak hanya mempertebal rasa keimanan dan keislaman sebagai makhluk-Nya, tetapi juga menjadikan kegiatan ini sebagai pendekatan diri kepada sang pencipta sekaligus muhasabah terhadap diri sendiri.

Melalui tulisan ini, tanpa bermaksud menggurui, ijinkanlah penulis berbagi pengalaman dan informasi akan beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan dan dilakukan oleh para jemaah haji, terutama berkaitan dengan persiapan keberangkatan dan pelaksanaan kegiatan ibadah haji yang akan dilakukan nantinya. Haji diwajibkan bagi setiap muslim, dengan syarat “bagi yang mampu”.  Mampu artinya siap, dari sisi kesehatan mencakup sehat fisik dan mental, kesiapan administrasi dan kesiapan finansial.

 Baca Juga: Pendidikan Anak ala Militer

 

Kesiapan Kesehatan Fisik dan Mental.

Kesiapan kesehatan secara fisik disini antara lain adalah menjaga kesehatan fisik dengan cara rutin melakukan olahraga atau gerak badan secara teratur. Jemaah akan banyak melakukan pergerakan yang memerlukan kesiapan fisik yang prima. Aktivitas selama melakukan perjalanan hingga kegiatan inti seperti wukuf, thawaf, sa’i, mabit, lempar jumrah, bahkan menunggu waktu ibadah haji datang, juga memerlukan kondisi fisik yang prima. Apalagi kondisi cuaca di tanah suci dan tanah air agak berbeda. Oleh karena itu disarankan agar jemaah untuk tidak melakukan kegiatan yang tidak perlu yang dapat menurunkan ketahanan daya fisik jemaah seperti begadang. Istirahat dan tidurlah dengan waktu yang cukup.

Selain melakukan olahraga dan istirahat yang cukup, para jemaah haji hendaknya juga selalu menjaga pola makanan yang diasup yaitu makan makanan yang sehat dan bergizi. Banyak minum air putih. Jangan khawatir, di tanah suci ketersediaan air minum sangat banyak, tersedia dimana saja dan gratis. Sebelum berangkat ke tanah suci jemaah haji pasti telah melakukan medical check up atau MCU, disitu tercatat kondisi hasil kesehatan secara menyeluruh dari para jemaah. Bagi para jemaah yang kondisi kesehatannya kurang baik disarankan untuk memperhatikan pola makan dan menghindari makanan yang dilarang, yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan para jemaah.

Jika ada gangguan terhadap kondisi kesehatan dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jemaah agar segera lapor kepada petugas kesehatan haji yang ikut mendampingi kontingen jemaah, untuk segera dapat diambil tindakan preventif. Sedangkan bagi jemaah yang kondisi kesehatannya baik tetap disarankan untuk selalu menjaga kondisi agar selalu sehat, bugar dan fit.

Selain kondisi kesehatan secara fisik juga diperlukan kondisi kesehatan mental. Yang penulis maksudkan disini berkaitan dengan kesiapan kesehatan mental adalah bahwa melakukan ibadah haji dilakukan dalam waktu yang relatif lama, yaitu kurang lebih 40-50 hari.

Ada kondisi dimana para jemaah mungkin akan rindu pada suasana kampung halaman. Entah itu rindu pada keluarga, rindu pada anak, rindu pada cucu atau bisa juga rindu pada makanan kampung misalnya. Selain itu para jemaah juga akan berinteraksi dengan orang lain yang punya latar belakang, pola perilaku dan budaya yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu diperlukan pengertian dan kesabaran dalam menghadapi situasi seperti ini.

Kondisi lingkungan di tanah suci tentu berbeda dengan kondisi jemaah di kampung halaman. Yang perlu diingat bahwa kepergian para jemaah adalah untuk beribadah dan merupakan tamu Allah SWT. Ketika kaki telah melangkah dari rumah, kosongkanlah hati dari segala urusan, hadapkanlah diri sepenuhnya kepada Allah. Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusan  kepada Sang Pencipta dan seraya membersihkan dosa-dosa.

Yakinlah bahwa karena kepergian menunaikan haji ini dilakukan karena ibadah semata, maka segala sesuatu yang ditinggalkan akan dijaga dengan baik oleh Sang Pengasih. Dan karena jemaah datang sebagai tamu yang diundang maka sudah sepantasnya untuk menjadi tamu yang baik dihadapan Allah SWT. Jemaah handaknya memperkuat niat dan meminta ampun, bertaubat, dan memasrahkan diri kepada Allah SWT.

 

Kesiapan Finansial.

Tetap harus ada uang yang harus dibawa. Sebagai dana cadangan untuk mengantisipasi jika ada pengeluaran tambahan berkaitan dengan kepentingan ibadah haji. Bagi para jemaah yang masih punya tanggungan, jangan lupa bahwa keluarga yang akan ditinggalkan agar tetap diberikan “jatah hidup”. Kepergian ibadah yang memakan waktu yang cukup relatif lama, yaitu ± 40-50 hari,  maka keberlangsungan kehidupan keluarga yang ditinggalkan tetap wajib untuk diperhatikan. Selain biaya hidup sehari-hari, juga keperluan untuk membeli bahan pendukung hidup, termasuk biaya listrik, biaya air, biaya komunikasi, dan lainnya. Jangan lupa juga untuk meninggalkan  nomor pajak lainnya yang harus dibayar agar tidak lewat waktu atau kena denda.

Biasanya sambil menunggu puncak kegiatan haji, akan ada waktu luang untuk berziarah atau mengunjungi tempat tertentu yag menarik minat para jemaah. Ada yang dikelola secara kelompok ataupun mandiri. Ketika ini dilakukan, jemaah hendaknya jangan terlalu memaksakan diri untuk membeli oleh-oleh atau tanda mata hanya demi gengsi. Kalaupun ingin membeli, belilah secukupnya dengan membeli barang yang bermanfaat dan diperlukan.

 

Kesiapan Adminsitrasi.

Administrasi atau dokumen yang diperlukan oleh para jemaah pasti telah diurus secara lengkap sebelum melakukan perjalanan. Namun untuk berjaga-jaga, perlu juga dibuat salinan atau cadangan datanya seperti data pasport, data MCU, termasuk kartu meningitis, data kloter, data rombongan bahkan data hotel tempat menginap, serta catatan nomor penting yang bisa dihubungi.

Diperlukannya para jemaah untuk menyimpan cadangan data ini, dimaksudkan agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap dokumen adminsitrasi para jemaah, maka jemaah masih punya arsipnya. Apalagi di era teknologi yang sekarang sudah semakin canggih bisa saja arsip dokumen tersebut dapat disimpan secara digital pada alat komunikasi yang digunakan.

Satu hal juga yang perlu penulis sampaikan kepada para jemaah, hendaknya para jemaah selalu mengikuti arahaan dari pemerintah, panitia, pembimbing dan pendamping haji, Jangan bergerak sendiri sendiri karena bagaimanapun mereka adalah para wakil jemaah dinegeri seberang. Jangan ragu untuk berkomonikasi dan bertanya kepada para petugas tersebut. Para petugas yang telkah ditunjuk dan terlatih tersebut pasti akan membantu dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada para  jemaah semua agar dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan baik.

Ibadah haji adalah suatu  ibadah yang memerlukan kebulatan  tekad dan kesungguhan hati. Substansinya adalah kemampuan untuk menyiapkan diri sebagai tamu Allah SWT. Yang perlu juga dipahami bahwa keberhasilan ibadah haji bukan dilihat dari seberapa sering orang berangkat menunaikan ibadah haji. Bukan pula simbol atau gelar haji atau hajjah yang disandangnya, tetapi ditentukan oleh kesadaran perubahan kehidupan akan hakekat merasakan keberadaan-Nya. Karena inilah yang kemudian akan membentuk karakrter manusia itu sendiri. Setelah melakukan ibadah haji mestinya mampu membersihkan diri dari unsur-unsur  duniawi dan membangun kehidupan baru yang selaras dunia dan akhirat. Berikan selalu kebaikan-kebaikan dalam berperilaku. Haji yang demikianlah yang pantas mendapat gelar haji yang mabrur. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para jemaah haji.**

 *Penulis adalah widyaiswara pada BPSDM Provinsi Kalimantan Barat; jemaah haji kontingen Kota Pontianak tahun 2024.

Editor : Hanif
musim haji Jamaah haji haji mabrur asrama haji pontianak ibadah haji