Oleh: Denny Yulloh, S.Pd.*
Pendidikan adalah fondasi utama bagi masa depan bangsa yang cemerlang. Setiap tahun, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan semangat baru dan harapan akan masa depan pendidikan yang lebih baik. Hardiknas 2025 yang mengangkat tema "Partisipasi Semesta Menuju Pendidikan Bermutu untuk Indonesia" menjadi momentum penting sebuah ajakan kolektif untuk bergotong-royong membenahi sistem pendidikan agar mampu mencetak generasi emas yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman.
Pada momentum Hardiknas ini, Presiden Republik Indonesia ke-8, Bapak Prabowo Subianto, meresmikan Program Hasil Terbaik Cepat (setkab.go.id). Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan bahwa program ini akan mampu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di seluruh penjuru negeri, sekaligus membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Program ini digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai langkah nyata dalam memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Namun demikian, upaya mewujudkan program ini tentunya membutuhkan kerjasama dan kolaborasi semua pihak. Dengan semangat yang sama, kita mampu mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Membaca Ulang Wajah Pendidikan Indonesia
Meskipun pendidikan Indonesia telah mengalami kemajuan di beberapa aspek, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satu sorotan utama datang dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022. Meski peringkat literasi Indonesia naik ke posisi 39 dari 41 negara, skor literasinya justru menurun. Penilaian ini mencakup kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam bidang membaca, matematika, dan sains. Skor yang diperoleh setara dengan capaian tahun 2003 untuk membaca dan matematika, serta tahun 2006 untuk sains. Ini menjadi cerminan bahwa ada persoalan mendalam dalam sistem pendidikan kita yang harus segera ditangani, khususnya dalam hal pemerataan akses dan kualitas.
Selain itu, temuan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2025 menunjukkan bahwa indeks integritas pendidikan Indonesia berada pada angka 69,50, yang termasuk dalam kategori korektif. Artinya, masih banyak yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan, baik dari segi transparansi pengelolaan hingga kualitas layanan pendidikan itu sendiri.
Fenomena lain yang mengkhawatirkan adalah temuan Dinas Pendidikan Buleleng di Bali, yang menemukan bahwa ratusan siswa SMP didaerah tersebut kesulitan membaca dengan lancar, meskipun mereka terampil dalam menggunakan media sosial. Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng, I Made Sedana menjelaskan, fenomena pelajar SMP yang belum bisa membaca ini merupakan cerminan rendahnya literasi siswa. Keadaan kemampuan membaca siswa Indonesia merupakan tantangan nyata utama pendidikan Indonesia.
Patisipasi Semesta: Solusi Menghadirkan Pendidikan Bermutu
Pendidikan bukan hanya urusan pemerintah pusat dan daerah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama baik masyarakat, dunia usaha, dan semua sektor yang ada. Filosofi pendidikan yang menyeluruh selaras dengan bapak pendididikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan adalah usaha bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Program Hasil Terbaik Cepat yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas Pendidikan dan menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua.
Dalam konteks inilah Program Hasil Terbaik Cepat hadir sebagai tonggak penting. Program ini mencakup tiga fokus utama. Satu, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Dua, digitalisasi pembelajaran. Tiga, pemberian insentif dan bantuan pendidikan bagi guru non-ASN yang belum bersertifikat profesi dan belum memenuhi kualifikasi pendidikan minimal S-1 atau D-4.
Ketiga fokus ini saling melengkapi dan menjawab akar persoalan pendidikan Indonesi, mulai dari rendahnya mutu pembelajaran hingga kesenjangan akses. Perbaikan infrastruktur pendidikan akan memastikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak bagi peserta didik. Digitalisasi pembelajaran membuka akses terhadap materi dan metode belajar yang lebih inovatif dan adaptif terhadap kebutuhan zaman, sekaligus menjembatani kesenjangan informasi antarwilayah. Sementara itu, perhatian terhadap kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru, khususnya non-ASN, adalah bentuk investasi jangka panjang untuk menjamin kualitas pengajaran di ruang kelas.
Program Hasil Terbaik Cepat bukan hanya kebijakan, tetapi sebuah gerakan nasional yang membutuhkan partisipasi semua pihak. Di tengah tantangan besar yang kita hadapi, mulai dari rendahnya literasi, masalah integritas pendidikan, hingga tantangan disrupsi teknologi program ini bisa menjadi momentum untuk menyulam harapan dan membangun masa depan. Kini saatnya kita menyadari bahwa pendidikan bukan hanya urusan pemerintah saja, tetapi urusan kita semua. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini. Mari kita bergerak bersama, demi generasi yang lebih cerdas, berintegritas, dan siap menghadapi masa depan.**
*Penulis adalah pemerhati kebijakan pendidikan dan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Banjanegara.
Editor : Hanif