Oleh: Agus Wahyudi, S. Pd., Gr.
Dalam dunia pendidikan modern sekarang ini, peran guru mengalami pergeseran dan pergerakan paradigma yang masif. Dulu seorang guru dipandang sebagai satu-satunya sumber ilmu dan pengetahuan, pemegang otoritas mutlak di kelas. Namun, kini muncul pemahaman baru yang lebih humanis, bahwa seorang guru harus menghamba kepada murid. Perlu kita ketahui ungkapan ini sejatinya bukan bermakna untuk merendahkan posisi seorang guru, tetapi justru menempatkan seorang guru pada posisi yang sangat luhur sebagai pelayan proses tumbuh kembang belajar murid sesuai kodrat dan potensi yang dimilikinya. Pemikiran ini sejatinya telah lama digaungkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara (KHD), dalam filosofi pendidikannya yang masih relevan hingga hari ini.
KHD menyatakan bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Baginya, setiap murid memiliki kodrat alam dan kodrat zaman yang perlu dihormati dan dikembangkan. Tugas seorang guru bukan menjejalkan ilmu secara kaku, tetapi membimbing, mengarahkan, dan memfasilitasi tumbuh kembang murid sesuai dengan potensinya. Dalam sebuah kalimat terkenalnya dan sangat fenomenal sampai saat ini , “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” KHD menegaskan bahwa guru harus memberi teladan, membangun semangat bersama murid, dan memberikan dorongan dari belakang. Filosofi ini mengimplikasikan bahwa peran guru adalah sebagai pembimbing dan memfasilitasi kebutuhan belajar murid di sekolah.
Menghamba kepada murid berarti guru memiliki kerendahan hati untuk belajar dari murid ataupun sebaliknya. Guru tidak merasa paling tahu, paling benar, atau paling bijaksana, melainkan bersedia mendengar, memahami, dan merespons kebutuhan serta suara hati murid. Sikap ini sejatinya mencerminkan penghayatan nilai-nilai demokratis dalam pendidikan. Murid bukan sekadar obyek yang pasif, tetapi subyek aktif yang perlu dihargai keberadaannya.
Selain itu, sikap menghamba melatih guru untuk bersikap sabar, empatik, dan penuh kasih hal ini yang seharusnya dimiliki oleh semua guru. Dalam praktiknya, guru yang menghamba akan mengajar dengan hati, memperhatikan latar belakang dan emosi murid, serta tidak semata-mata mengejar capaian akademik. Ia memahami bahwa pendidikan adalah proses menumbuh dan mengembangkan, bukan membentuk sesuai cetakan. Dengan cara ini, guru akan lebih peka terhadap kebutuhan individual murid, baik secara intelektual maupun emosional.
Filosofi KHD juga menekankan pentingnya merdeka belajar, sebuah konsep yang menempatkan murid sebagai pusat pendidikan. Guru sebagai fasilitator harus mampu menciptakan ruang aman, nyaman, dan membahagiakan agar murid dapat mengekspresikan dirinya dan belajar sesuai dengan ritme masing-masing. Dalam konteks ini, menghamba kepada murid bukan sikap pasif atau tunduk, tetapi bentuk dedikasi tinggi untuk memastikan murid mendapatkan haknya dalam belajar secara merdeka.
Tentu saja, sikap menghamba ini tetap dalam bingkai tanggung jawab profesional. Guru tetap memiliki otoritas moral dan keilmuan, tetapi ia menggunakannya dengan cara yang bijak dan melayani. Ketika guru menghamba, ia tidak kehilangan wibawa, justru memperoleh kehormatan dari murid karena keikhlasan dan ketulusannya. Hubungan yang dibangun bukan relasi kuasa, tetapi relasi kasih sayang dan saling menghargai.
Dalam masyarakat yang terus berubah, pendekatan guru yang menghamba juga menjadi jembatan untuk mencetak generasi yang lebih kritis, mandiri, dan bertanggung jawab. Murid-murid yang merasa dihargai akan tumbuh dengan percaya diri dan motivasi intrinsik untuk belajar dan berkembang. Guru yang menghamba pada akhirnya sedang menanamkan benih karakter, bukan hanya mentransfer pengetahuan Oleh karena itu, sudah saatnya dunia pendidikan Indonesia kembali menghidupkan semangat KHD dengan mengedepankan guru yang rendah hati, penuh kasih, dan berorientasi pada kebutuhan murid. Menghamba bukan berarti menjadi kecil, tetapi menjadi besar dalam memberi makna. Dan dari sanalah pendidikan sejati dimulai dari hati yang melayani, bukan dari kuasa yang memerintah.**
*Penulis adalah guru SMPN 7 Tebas dan SMKS Hosana Tebas.
Editor : Hanif