Oleh: Mohamad Rif’at
KITA memang sudah dijejali banyak informasi, data, berita resmi, cerita masyarakat mengenai masalah pendidikan yang ‘berhadap-hadapan” dengan politik. Pada situasi ini, berita resmi yang biasa dianggap sebagai kebenaran telah jadi rumor, solusi sains jadi mentah, cerita orang-orang berlalu begitu saja, dan opini-opini yang lahir diperlakukan biasa-biasa saja.
Kita ingat satu fakta yang kemudian jadi lelucon: bermula dari pergantian menteri berujung pergantian kurikulum. Pada tahap ini, bukan hanya perkara apa kata ilmu pengetahuan, tetapi minimal memahami bagaimana caranya bekerja. Apa usulan sains? Semua rekomendasi dan semua riset yang canggih, hanya mungkin karena sains sebelumnya. Kita tidak sekadar mengikuti aturan, tapi juga sedang menjalankan (mungkin juga menghargai) temuan dalam perjalanan sains hingga sekarang. Inilah tahap pertama menurut Siegel sebagai cara sains bisa membantu kita.
Tahap kedua adalah riset yang didorong oleh rasa ingin tahu, tidak serta merta karena proyek atau gagah-gagahan. Para ahli bidang ilmu sosial, struktur antropologis dari ragam kultur dan para psikolog perilaku telah memberikan berbagai bentuk interaksi untuk memahami bagaimana merespons situasi. Selain itu, ada yang lebih mendasar yang memungkinkan atau membatasi pada sains dasar. Bayangkan, kita sedang mencoba untuk menyingkap struktur kurikulum jika kita tidak memiliki teori belajar mengajar sebagai fondasinya.
Anda bisa bayangkan apa yang diharapkan dari “dunia tanpa pakar”. Para ahli perlu merebut kembali kepercayaan publik—melalui pengecekan fakta yang lebih baik. Terang datang dari dunia para ahli untuk dimanfaatkan. Tetapi terang itu tidak memenuhi seluruh ruang yang gelap. Artinya kita harus siap untuk meraba-raba dan bergerak untuk menerobos kegelapan. Kita mungkin akan berpikir keras dan membayangkan dunia pendidikan ‘baru’ sebagai kebalikan dari situasi yang belum memuaskan. Mungkin krisis ekonomi, krisis politik, atau narsisisme politisi yang semakin kelihatan jelas dan menunjukkan kelemahan kita di masa mendatang.
Ketakutan kita sepertinya melebihi dampak dari permasalahan pendidikan itu sendiri. Mulai dari sistem pengawasan digital, aturan negara, pemantauan ketat dan hukuman. Perangkat seperti pengawasan ketat dan banjir himbauan menandakan hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan pemerintah ke rakyat dan sebaliknya. Kesukarelaan dan kerjasama tidak akan tumbuh dari kondisi tidak saling percaya, bahkan dari aturan ketat. Dalam situasi ini, kita seharusnya bergegas membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media. Kepercayaan yang diolah memungkinkan kita untuk membangun bangsa & negara. Banyak persoalan yang masih terbuka dan belum kita gali. Misal soal perubahan peningkatan Angka Partisipasi Pendidikan yang terus menurun, Merdeka Belajar, dan tentang multi-match. Meskipun demikian, terdapat titik terang yang tetap kokoh: kekuatan pengetahuan ilmiah yang akan membimbing kita melewati masa-masa tantangan pendidikan ke depan.
Ada 3 cara yang memungkinkan kita memiliki respons terbaik terhadap masalah pendidikan yang berbenturan dengan politik, yakni: (1) para ilmuwan perlu terus mengidentifikasi faktor yang bertanggung jawab dan menyepakati ordering-system dalam penanganannya, misal riset tentang terapi mental untuk memaksimalkan pengetahuan dan sumber daya dalam melawan atau menghadapi tantangan global; (2) membangun landasan nilai-nilai untuk mengetahui kapan suatu pengetahuan akan berguna dalam bidang aplikasi saintifik yang semakin komprehensif dan semakin baik ketika kita sedang mencari solusi atas persoalan yang tak terduga yang akan terjadi di masa depan, permodelan matematis beserta penyebaran geografis dan psikologi sosial yang memungkinkan lahirnya rekomendasi terbaik untuk tindakan yang harus kita ambil; dan (3) agar terus bekerja untuk menekan batas-batas pertumbuhan, termasuk: kemandirian energi, pangan dan air untuk mencari fenomena fisik yang mungkin mendekati nol mutlak, mencari pelbagai proses yang dapat berkembang dan berperanan penting.
Kita harus juga menerima bahwa media telah berinvestasi pada gagasan lanskap informasi modern yang ditandai dengan pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu. Dalam drama ini, ada musuh-musuh dari kebenaran, dan kemudian ada para ahli yang semakin terkepung oleh buxxer, kaum populis, dan influencer bayaran. Di tempat lain, dengan cepat menjadi sangat jelas bahwa tidak ada kesatuan bangunan kebenaran yang dapat dipercaya. Satu-satunya tempat adalah dalam fiksi, khususnya film di mana organisasi pendidikan dan politik bertindak profesional, mengagumkan, gesit, berbasis bukti, dengan cukup banyak pembengkokan aturan. Sementara itu, internet isinya mengerikan, diciptakan oleh para blogger yang menjajakan ‘obat simulasi’.
Dekadensi dan ketidak-mampuan lembaga pendidikan maupun politik membuktikan diri mereka jauh lebih dapat dipercaya, tetapi sebagian bukanlah melulu kesalahan lembaga mana pun. Kita tidak seharusnya melebih-lebihkan pernyataan sains dalam situasi yang membutuhkan riset dan adaptasi. Tetapi urgensi krisis mengharuskan riset berjalan lebih cepat dari simpulan ahli dan laju kepastian birokrasi serta lembaga politik. Logika yang sama berlaku untuk semua pembuat kebijakan bahwa tidak akan pernah ada satu cetak biru yang memberitahu bagaimana dan kapan harus menjalankan kurikulum. Gubernur dan walikota/bupati harus bertindak seperti ilmuwan, bertindak dan bertindak kembali, beradaptasi dan ber-eksperimentasi, dengan penasihat ahli di sisi mereka meski tidak ada jawaban pasti sampai percobaan dimulai.
Logika yang sama adalah bahwa suatu tes beralasan kuat untuk meragukan hasilnya. Yang berarti bahwa kebijakan dunia pendidikan dan politik harus membuat keputusan penting tentang apa yang harus ditanyakan kepada pendidik dan politisi, situs web yang bisa dipercaya, bagaimana cara mengelola kelas, peserta didik, atau orang tua mereka. Dunia para ahli yang penting memang perlu untuk dimanfaatkan, untuk melihat apa yang bisa dilihat dalam ‘cahaya’ pendidikan. Tetapi lubang cahaya itu tidak memenuhi seluruh ruang bawah tanah, dan apa yang dilakukan bisa menjadi parsial dan menyesatkan. Jadi, jika Kita ingin menemukan jalan keluar dan mencapai kecerdasan bangsa, haruslah bersiap untuk meraba-raba, tersandung, membuat cahaya sendiri, dan kadang-kadang bergerak dengan perasaan atau naluri untuk menerobos kegelapan.
Terima kasih.
*Penulis adalah Dosen FKIP Untan
Editor : Hanif